100%

Bertukar cerita dengan para tetua di lingkungan gereja mengenai 72 tahun Indonesia merdeka, apakah benar kita lebih merdeka? Lebih dari 5 dekade silam di jaman yang memang berbeda, tutur salah satu dari mereka, ia sempat merasakan benar apa yang disebut merdeka. Merasakan bisa berteman dengan banyak anak negeri yang menganut berbagai agama, yang berasal dari berbagai daerah dengan bebas tanpa pretensi apa2. Tidak ada yang merasa lebih berhak atau lebih berkuasa. Di hari Jumat menjeda waktu bermain, menunggu teman2 sembahyang di mesjid, sebaliknya di hari Minggu teman2 mengingatkan, “Ai maneh teu ka gereja? Hayu urang anteur..” Merasakan bisa bebas bermain, berjalan2, bahkan bisa sering ngemping bareng tanpa kekhawatiran akan banyak hal.  Namun semakin hari sekat semakin bertumbuh. Kita sendiri membesarkan anak2 dalam ketakutan dan membuat mereka ekslusif dalam bersosialisasi. Dan pola ini terjadi secara luas..

Akupun demikian.. terlalu banyak ketakutan membuat aku cenderung menarik anak2 dalam ruang aman. Bersyukur bahwa sekolah yang menjadi salah satu ruang aman kami dengan konsepnya sebagai sekolah umum telah berkembang menjadi ruang heterogen tempat kami belajar mengenal dan memahami, sampai dapat menghargai dan menyayangi perbedaan yang ada. Aku belum tahu apa dan bagaimana yang terjadi di sekolah lain. Tapi hal itu hanya bisa terjadi lewat proses panjang, paparan dan interaksi intensif. Menyimak proses interaksi anak2 dengan teman2nya, dengan kakak2 AKA fasilitator, dengan orangtua lain sungguh membahagiakan.. Namun di luar sekolah, sejauh apa kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama Katolik bisa berperan?

Pertanyaan reflektifnya, apa makna 100% Indonesia, 100% Katolik buat kita masing2?

Diskusi berjalan panjang dan hangat. Di akhir pertemuan, kita diajak untuk membuat komitment kecil. Komitment untuk menerapkan Kasih sebagai inti ajaran agama Katolik dalam setiap interaksi kita dengan orang2 di sekitar kita. Minimalnya dengan tetangga dan warga se-RT aja.

Buat sebagian orang- termasuk aku, hal ini susah-susah-gampang. Banyakan susahnya sih, karena yang pentingnya (niat) masih kurang :D. Namun buat sebagian lain, seperti ibu Martina, sejak siang tadi ia sudah membagikan pengalamannya hari ini. 17 Agustus kali ini ia kebetulan berada di rumah dengan 6 orang tukang yang sedang memperbaiki rumahnya, 1 orang supir dan 1 orang asisten rumah tangga. Mencari gagasan untuk menjalankan komitmentnya, ia lalu mendapat ide sederhana untuk melakukan upacara bendera bersama mereka. Keren banget ga sih ibu yang satu ini.. đŸ™‚ Ia sendiri menjadi komandan upacara. Pengibaran Bendera Merah Putih dilakukan sambil menyanyikan Indonesia Raya yang dibantu dengan lagu Indonesia Raya yang ia download lewat HP-nya. Semua tampak serius, mengikuti dengan tangan di dada. Demikian yang aku lihat dari foto yang ia kirimkan. Pancasila diserukan oleh salah seorang tukang yang dapat mengingat setiap butirnya dengan baik. Asiknya pula, ada bonus kaos untuk mereka yang hafal Pancasila.. Sayangnya hanya 1 dari antara mereka yang hafal. Selesai upacara, ia mengajak semuanya untuk makan bersama di rumah makan padang. Dalam obrol2 ketika makan, tukang yang paling tua menyampaikan bahwa seumur hidupnya, sampai ia sudah punya anak-cucu (bahkan cicit kalau tidak salah) baru kali ini ia mengikuti upacara bendera. Karena sejak kecil sudah dibawa ngaladen / membantu ayahnya yang juga seorang tukang bangunan  “Nuhun Gan..” tuturnya dalam bahasa Sunda.

Ga hanya si bapak yang senang dan bersyukur bisa merasakan upacara bendera pertamanya, buat aku sendiri apa yang dilakukan bu Martina tidak sekadar menyenangkan tapi menggugah dan menginspirasi.

Terima kasih bu, tetap merdeka!

.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s