live-in

Sulung mulai menjalani proyek individunya di semester ini; live in. Dalam bahasa Indonesia mungkin numpang tinggal di rumah orang; turut menjalani keseharian di daerah tersebut. Tujuannya untuk meluaskan ruang eksplorasi. Pilihan untuknya adalah sebuah desa kecil di daerah gunung Kareumbi. Secara jarak sebenarnya tidak terlampau jauh. Dari Bandung hanya perlu 1x naik kereta hingga stasiun Cicalengka. Nah dari situ memang belum ada kendaraan umum yang bolak balik ke Kareumbi apalagi ke Cigumentong.

Sebelum berangkat dia tampak gelisah. Kalau ditanya kadang dia bilang ‘biasa aja..’, namun sempat juga mengungkap ‘deg-degan’. Bila kubayangkan aku juga bakal gelisah.. tinggal di tempat baru, di tempat orang yang belum dikenal betul, menjadi orang baru di satu komunitas. Mengikuti keseharian mereka, mengubah ritme dan pola keseharian. Tidak ada sinyal yang biasa mengoneksi banyak hal dan banyak pihak di keseharian. Terbatas listrik, dan piranti elektronik yang biasanya menjamin kenyamanan hidup. Menghadapi ketidaktahuan, berada di luar zona nyaman. 

Sebenarnya daerah tersebut buat dia tidak sepenuhnya asing dan baru, karena bersama kelompok maupun mentor magangnya ia telah beberapa kali mengunjungi bahkan sempat menginap di daerah itu. Hanya saja kali ini ia akan berada sendirian saja dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Tak disangkal emaknyapun turut deg-degan. Bahkan nenek kakek yang selama ini hampir tidak pernah bertanya-tanya, jadi turut mempertanyakan. Terutama karena faktor ketidaktahuan medan yang akan dihadapi si anak. Apakah kalau tahu akan mengubah rasa tersebut? Faktanya aku tidak tahu, dan memang tidak selalu bisa tahu apa yang akan dihadapi dan sedang dijalani anak-anakku sih. Hanya bisa membaca sikap dan gestur. Mencoba menggali hal-hal yang membuatnya gelisah, ternyata dia sendiri sudah membuat pemetaan dan rencana. Seperti juga berbagai proses lain dalam berkegiatan di sekolahnya, tampaknya proses persiapan live in ini mendorongnya untuk terus mengolah dan mengatasi diri, tinggal bagaimana saat menjalaninya. Dari sisi penduduk Cigumentong, live in panjang ini bakal menjadi pengalaman pertama mereka menerima tamu untuk jangka waktu yang panjang juga. 

Hari Kamis sore, lewat seminggu dari kepergiannya. Bandung lagi badai, sampai hujan es malah n banjir.. WA sulung masuk, “Hi Mom, aku otw pulang ya. Nebeng kang Eco..”  “Hai Gii.. akhirnya turun gunung juga. Kumaha, damang?”  “Masih idup hehehe..”

Hmm kepulangannya maju dr rencana semula. Kenapa ya? Ga usah khawatir, ga usah kepo Ne.. tunggu aja ceritanya *mengingatkandirisendiri. Meski kalo diperhatikan caranya bercerita pada emaknya beda dengan pada orang lain, tapi untuk aku, dia termasuk suka bercerita. Sampai rumah malam itu pertanyaan dijawab dengan mode B (=sekadarnya), biar tampaknya lelah dia masih terus bekerja, mengejar deadline malam itu katanya.. tapi kan besok libur, jadi berharap bisa tidur lebih panjang. Esok harinya memang dia lebih banyak menikmati nyamannya tempat tidur dan selimut hangatnya.

Disana susah tidur, tepatnya sering terbangun. Seminggu disana belum ada yang berkesan banget katanya. Banyak ga nyamannya, tapi dijalani aja. Ikut bantu di ladang, ke TBMK kalau ada kegiatan/tamu. Keluarga yang ditumpangi bapak ketua RT, ibu dan 3 anak. Bapaknya, pak Kurnia ok, tapi punya pandangan stereotype sama orang cina *kayagamaukerjakerasdanmauenakaja. Anak yang seusia di kampung itu ga banyak, tapi belum ngobrol karena belum kenal betul. Sebagian sekolah, sebagian kerja atau bantu orangtuanya. Mereka terbiasa untuk memulai hari sebelum pk 4.oo subuh, dan rata-rata pk 12an sudah selesai.. bingung harus ngapain seudah itu sampai magrib, karena ga lama semua sudah pada tidur. Ritme yang sangat berbeda dengan kesehariannya disini. Makannya nasi lauknya mie instant.. “carbs all the way lah mom.. kalo ga, sama sambel, ikan asin atau jengkol mentah”. Pernah dimasakin semacam sup kacang merah tapi rasa dan aromanya aneh jadi ga bisa masuk. Perut dan tenggorokan sempat melemah disana. Mereka bertanam dan hidup di alam, tapi untuk hal yang paling mendasar (pangan) mereka sudah tidak lagi langsung mengambil dari alam. Kecuali panenan yang gagal atau rusak baru akan mereka konsumsi sendiri. Selebihnya sayur yang mereka tanam = uang. Narsum yang sempat ia datangi sebelum pergi, kang Adjat pernah berbagi ilmu bahkan membuatkan sistem pertanian organik disana. Tapi tidak berjalan. Dengan intensitas keberadaannya disana, dia bisa melihat langsung apa yang terjadi, apa penyebabnya. Denger ceritanya memang jadi gatel.. tapi hanya bisa melontar ide-ide. Bagaimanapun aku benar-benar tidak tahu kondisi dan menjalani selalu lebih sulit daripada ngomong doang

Setiap pulang ceritanya dilengkapi dengan jurnalnya yang sarat berisi catatan kegiatan, rasa, coretan, puisi dan macam-macam. Disana malah rajin nulis, karena banyak waktu luang. Aku bersyukur ia bisa memaksa diri untuk menulis dan bersedia berbagi lewat tulisannya itu. Untuk usianya, pengalaman ini memang besar dan luar biasa. Membacanya untuk aku sungguh mengaduk rasa. Seringkali aku berada di posisi terpaksa berhenti, tercenung, mencoba memahami. Lalu berharap aku bisa jadi mentor yang baik untuk anakku.. #masihkudubelajar, ##bacatheteenageagekoklamabanget.

Sebelum berangkat kembali ia selalu berusaha untuk mempersiapkan diri sesuai kemampuannya, sekaligus terlihat berhati-hati untuk tidak terlalu berlebihan dalam menghadirkan diri. Yang pasti, berbelanja perbekalan yang perlu dibawa untuk disampaikan pada induk semangnya. Beras, kopi, teh, gula, titipan bibit sayur, kemudian beberapa keringan teman makan nasi, paling tidak untuk tambahan dan variasi supaya tidak karbo semata. Atau mencari buku dan peralatan untuk kegiatan bersama anak2 disana. Semangatnya terasa naik turun antara keinginan untuk menantang dan menyemangati diri bahwa dia bisa tapi di sisi lain merasa berat untuk menjalani lagi, bertemu kondisi yang sama lagi.. 

Hang on Gi, this too shall passed..

Minggu2 selanjutnya tampaknya banyak hal yang teratasi.. lebih berterima, atau mungkin mulai bisa melihat pola. Sudah tidak merasa terlalu terganggu dengan sebutan-sebutan cina, sudah lebih bisa mengatasi kangennya, sudah mulai berterima dengan kondisi tidak terkoneksi.. Kesulitannya sudah dapat ia kenali dengan lebih spesifik. Mengerucut pada hal-hal yang menurut dia membutuhkan olahan dan kapasitas lebih untuk bisa ia atasi. Seperti memfasilitasi kegiatan anak2 jenjang usia dini yang disana sering ngintilin dia, minta diajak main terus. Atau mengajar anak usia SD membaca. Atau ketrampilan berkebun supaya bisa bantu lebih banyak. Hingga kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri live in-nya dengan pertimbangan memang tidak produktif dan dengan kapasitasnya saat ini tidak dapat menyumbang lebih banyak untuk tempat tersebut. Sebelum pulang sempat menantang diri untuk bertandang ke desa sebelah yang auranya lebih mistis, lebih curiga terhadap pendatang. Lalu menginap di sebuah desa di luar TMBK yang jauh lebih besar dalam perjalanan pulang. Mengekspos diri ke zona asing yang baru.. memberi perbandingan berbeda terhadap tingkat penerimaan, keramahan, kebersihan dll dari masyarakatnya. Tantangan diri terakhirnya adalah berjalan menuju stasiun untuk pulang dan menutup live-innya. 14 km dimulai ketika matahari belum lagi bangun. Gelap, hening, sepi, dan memuncak ketika di tengah perjalanan mau tak mau harus beberapa kali mengetuk rumah orang untuk numpang ke toilet karena sakit perut tak tertahan. Akhirnya setelah 4 jam, touch down.. 

Proyek individunya masih perlu ia tuntaskan dengan hasil nyata. Semua yang telah dijalani, dapat dimaknai positif bisa juga negatif. Hal-hal yang muncul, terlintas, berkecamuk, maupun terpikir dalam saat menjalani kesehariannya disana perlu ia tata, pilah, olah; ibarat proses defragmentation. Apapun yang mewujud tentu akan menjadi penggenap pengalaman barunya ini. 

Ayo tuntaskan Gi.. semangaat.. 🙌

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s