memang beda

Pertemuan Orangtua kemarin mengangkat tema keberagaman. Keberagaman itu ada, tapi bagaimanakah kita bersikap sebagai bagian dari keberagaman itu. Keberagaman yang disadari benar di keseharian mungkin hanya seujung kuku, selebihnya terasa sangat abstrak karena jarang dialami. Tidak banyak ruang yang dengan sengaja dijelajahi untuk bertemu dengan perbedaan. Paling banter dari pelajaran di sekolah, berita di medsos, dan imaji ketika mendengar cerita orang2 yang pernah berkunjung ke berbagai tempat di negara ini. 

Hanya sedikit orang yang merasa perlu mengunjungi berbagai tempat berbeda untuk kepentingan mengenali, memahami bahkan memberi sumbangsih seperti yang dilakukan pak Yunus, salah satu narsum POt kali ini. Meski saat ini sudah cukup banyak orang merasa perlu berkunjung ke tempat lain, tujuannya lebih untuk berlibur, atau mencari peluang; memanfaatkan keindahan, kekayaan alam dan sumber daya yang ada. Lebih banyak orang yang sekadar tahu, data statistik bahwa Indonesia punya ribuan pulau dan suku bangsa. Tidak terbayang dalam benak seperti apa orang dari pulau atau suku yang berbeda itu.

Sisi ekstrimnya terjabarkan oleh bu Henny ketika ia bercerita tentang seorang guru 37 thn dari Depok dan seorang mahasiswa 21 thn dari Bekasi yang seumur hidup belum pernah berinteraksi dengan orang dari agama yang berbeda. Karena tidak tahu maka menjadi takut, menjadi sempit dan mudah dipengaruhi. 

Si sulung saat ini sedang menghadapi kondisi serupa. Ia sedang menjalani live in sebagai proyek individunya, di satu desa terisolir di kawasan gunung Kareumbi. Tujuan awalnya untuk menantang diri, memperluas ruang eksplorasi. Salah satu tantangan besar yang harus ia hadapi adalah mindset penduduk desa- termasuk keluarga yang ia tumpangi, yang menurut istilahnya ‘stereotype‘ terhadap orang kota dan orang Cina. Tak dipungkiri dengan tampilan fisiknya; kulit putih dan mata sipit, orang akan segera menyebutnya sebagai orang Cina. Meski kalau berkunjung ke sana dan mengaku sebagai orang Cina, pasti juga bakal dipertanyakan sebab tidak tahu apa2 tentang bahasa, adab dan budaya Cina. Sedih, sebal, kesal karena dicap berbeda, lengkap dengan gambaran stereotypenya.. menjadi awal yang berat baginya. Saat itu saya hanya bisa bilang bahwa mungkin mereka memang tidak tahu, belum pernah berinteraksi dengan orang dari etnis yang lain. Jadi mau disebut apa juga, itu adalah persepsi mereka masing2. Lalu kenapa kalo Cina, terus kenapa kalo Sunda, so what kalo Jawa? Bila belum ada keinginan untuk tahu, bila masih takut untuk berinteraksi, kita ga bisa mengubah kenyataan itu. Jadilah dan banggalah dengan dirimu sendiri, tunjukkan siapa dirimu lewat sikap dan tindakanmu. 

Bagi saya sendiri, sejak dulu topik ini termasuk sensitif untuk bisa dibahas secara terbuka. Sepertinya dampak dibesarkan di era orde baru- masa ketika pri dan nonpri memang harus dibedakan, memang masih melekat kuat. Sangat bersyukur di pertemuan kemarin mendapat masukan yang bisa membantu saya membuka ruang diskusi dengan si sulung dalam menghadapi tantangannya. Pertemuan tersebut mengubah persepsi itu dan memberikan harapan dan pemahaman baru. Ada loh yang bisa dilakukan untuk menjadikan keberagaman di sekitar menjadi lebih positif dan memperkaya. Terlebih dengan peran dan posisi kita di dunia anak dan pendidikan.

Dibuka dengan penjabaran luasnya keberagaman oleh pak Yunus yang sudah menjelajah ke sekitar delapanpuluh pulau di tanah air dan mencatatkan perjalanannya pada buku Meraba Indonesia. Bahwa negara kita ini ibarat sebuah rumah besar, tapi kita hanya tinggal dan bermain di ruang yang itu-itu saja. Bukan hanya ga tahu, suka ga sadar juga kali ya ada siapa saja dan bagaimana kehidupan di ruang lain. Kok jadi berasa ga gaul banget ya.. 

Menerima dan memahami hal ini menjadi titik awal. Semua orang mendefinisi diri masing2, nilai2 yang diusung, cara membawakan diri, cara bersikap, dll., dan sangat dipengaruhi oleh budaya dan tempat tinggal. Tidak ada satu kacamata yang bisa membuat kita dapat segera mengenal dan mengerti orang lain. Sebaliknya jangan pula berharap orang untuk tahu, kemudian berlaku sesuai definisi kita. Perlu ada kesediaan. Menanggalkan kacamata kita, melihat dari kacamata orang lain. Baru kemudian kita mungkin bisa mengerti alasan di balik sikap2 yang berbeda, di balik kekerasan dan konflik2 yang terjadi. 

Kemudian narasumber kedua, bu Henny Supolo dengan cantik dan jelas menyampaikan hal2 yang perlu kita pentingkan dalam menjalani keberagaman. Banyak ternyata hal nyata diatas tataran wacana yang bisa kita lakukan, sebagai orangtua maupun fasilitator anak. Mulai dari melatih diri, agar dapat mendamping anak. Kemudian mendamping anak membangun dan melatih kemampuan yang penting untuk mereka miliki, membuka ruang2 interaksi, hingga cara merespon kekerasan atau perundungan verbal maupun fisik yang mungkin terjadi. 

Namun semua itu bermuara pada kesediaan untuk bersikap positif. Toh bisa saja saya memilih untuk mengabaikan, menghindar, atau menekan keberadaan diri seperti yang selama ini dilakukan. Tapi sadar pula bahwa itulah yang membuat saya sebagai orangtua merasa tidak berdaya saat si sulung bercerita mengenai kesulitannya. Ted Warren dalam buku bagusnya, The Teenage Edge mengatakan, “I often tell parents that if they don’t take it upon themselves to teach their kids what is fair and respectful, other people will deal their kids unpleasant and maybe even tragic blows from outside the family.” Jlep, tepat benar dengan apa yang sedang saya rasakan. Bukan harafiah tidak mengajarkan ‘fair‘ n ‘respectful‘ tapi lebih karena kerap menghindar, mengabaikan, atau menekan ruang2 interaksi yang semestinya dapat menjadi ruang antisipatif, ruang yang memberi pengalaman untuk membangun pemahaman dan mengalami.

Hal lain yang bisa dilakukan sebagai pesan penutup bu Henny adalah menyebarkan narasi positif mengenai keberagaman, paling tidak untuk mengimbangi kalau belum dapat menangkal, maraknya narasi kekerasan yang semakin menekankan sudut pandang sempit dalam melihat keberagaman. 

Hayu atuh.. 🙂

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s