lima

Lima tahun silam..

Mendadak saja Upik kehilangan diri. Seolah terlontar dari kursi penumpang di tengah perjalanan nyaman, yang sesungguhnya tidak ia ketahui tujuan akhirnya. Sekadar menumpang tanpa kesadaran penuh. Mungkin karena itu Upik terlontar. 

“Hei.. tentukan dulu tujuanmu.. baru kau naiklah pada kereta yang akan membawamu kesana.” demikian mungkin ujar semesta.

Bum.. terjatuh Upik.. terguling2, terantuk sana-sini. Gelap, gamang, nyeri, gentar.. Sungguh merasa kecil dan tidak berdaya.  “Siapa aku, kenapa aku disini, apa yang harus aku lakukan..?” Upik bertanya2. Lebih dari 40 hitungan tahun yang sudah ia jalani seolah menjadi samar. Tidak lagi ia kenali benar tubuh, rasa, dan pikirnya. Hanya 2 mutiara yang terus Upik genggam kuat.

Ketika sadar, Upik tahu bahwa semua terjadi karena suatu alasan yang perlu ia cari tahu. “Manusia musti kuat, sakit bukan berarti lemah. Aku perempuan bukan sekadar karena tubuhku.” Upik menguatkan diri. 

“Jalani apa yang perlu dijalani. Lalu bangun, tata dirimu kembali. Berjuta orang terkena kanker atau penyakit aneh lainnya, terkena bencana atau kehilangan.. dan hidup berjalan terus. Putuskan dimana kamu ingin berada.” Ujar Upik pada dirinya sendiri. 

Tidak mudah membangun keyakinan dari serpihan yang tersisa. Perlu komposisi rasa berserah sekaligus percaya pada Pencipta yang besar, serta dosis berpikir positif yang sungguh tinggi. 

Tidak menjadi lebih sederhana, ketika pilihannya menentang arus, berbeda dari prosedur baku yang jamaknya dijalani orang lain. 

Tidak menjadi mudah pula ketika tetiba orang yang paling dekat dengannya hilang dari hidup kesehariannya. Seperti terus terdorong angin ketika tubuh yang masih limbung mencoba berdiri. 

Perlahan disusunnya kembali dirinya. Setiap pagi diisinya dirinya penuh2 dengan rasa syukur. Tak diijinkannya rasa takut, khawatir, keraguan atau pemikiran negatif berlama2 tinggal dalam dirinya. Meski perlu dimulai dengan mengandaikan diri baik adanya, Upik menapaki hari demi hari hingga ia benar2 merasa baik adanya.

Lima tahun berlalu.. 

Hanya serpihan yang tertinggal. Menyusur kembali lorong2 bangunan putih, menjalani beberapa prosedur baku yang masih tersisa untuk setidaknya memberi suntikan keyakinan, mengembalikan banyak serpihan rasa. Namun sekarang tinggal memori.. yang memunculkan rasa haru dan syukur bahwa semua telah dilalui.

Seiring waktu Upik mulai mengetahui dan menetapkan tujuan perjalanannya dan memulai perjalanan2 pendek. 

Seperti yang pernah dikatakan Bante Tang padanya saat ia berpamitan di pendopo Hijau Rimbun, “Miliki tujuan yang jelas, nikmati perjalanan yang menyenangkan dan bersiaplah untuk turun bila sudah tiba. Dan penting juga untuk diingat, jangan kau sibuk berlari2 di dalam gerbong!” 🙂 

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s