earthing

Dulu Abi kecil termasuk anak yang resik dan bersihan. Pengasuhnya sejak bayi sangat menjaga kebersihannya. Sebentar2 diajak cuci tangan, sedikit kotor diajak ganti baju, selalu diajak memakai alas kaki.. Ibu Abi saat itu merasa memang demikian seharusnya. Namun ketika Abi masuk kelompok bermain, hal ini mulai terasa berlebihan. Ibu gurunya sampai menjuluki Abi ‘si Aden’* karena selalu minta cuci tangan segera setelah memegang lem atau cat dengan tangannya, ia juga tidak mau melepas alas kaki saat berkegiatan, terutama di luar ruang- bahkan untuk sekadar menginjak rumput. Perlu waktu untuk mengubah kebiasaan Abi, kadang bujukan untuk meyakinkan bahwa sedikit kotor tidak mengapa. 

Beruntung, di sekolah Abi terus dibiasakan untuk nyaman bersentuhan dengan alam, berkegiatan di luar dan terus mengeksplorasi indera. Pola resik dan bersihan sedikit demi sedikit berubah.

Sebaliknya ada juga orangtua teman Abi yang jadi mempertanyakan, kenapa sih musti nyeker (berjalan tanpa alas kaki)? Di rumah sudah susah2 dibiasakan untuk pakai alas kaki terus, kan jadi kontra. Memang dilematis.. antara kotor, keliatan jorok, ga keren banget, ga bisa gaya, belum lagi kemungkinan cacingan.. dengan perlunya mengikuti pola di sekolah yang manfaat langsungnya tidak terlihat. 

Sederhananya mungkin itu hukum alam yang terlupakan. Bahwa kita adalah bagian dari alam, dan perlu terus terkoneksi dengan ibu bumi di bawah kaki kita. Bayangkan energi yang terkandung di dalam bumi, yang menghidupkan; memberi makan dan menumbuhkan hewan dan tanaman. Lalu kita, sesama makhluk hidup yang juga tinggal di bumi, malah membuat batas dan tidak terkoneksi secara fisik dengan bumi.

Energi dari bumi memang tidak terlihat, tapi sebenarnya bisa terasa, meski sangat halus. Seperti rasa sejuk, atau sensasi yang menyenangkan ketika kita berjalan tanpa alas kaki di pantai atau rumput yang masih basah oleh embun. Sama halnya dengan kehangatan dan vitamin D yang diberikan oleh sinar matahari, permukaan bumi yang kita jejak di bawah kita tak henti memberi energi alami yang tak pernah terpikirkan. 

Karena sering terisolasi oleh material non-konduktif seperti karet atau plastik pada sepatu atau material lantai, jarang sekali kita bersentuhan langsung dengan permukaan bumi. Padahal saat bersentuhan langsung dengan permukaan bumi, tubuh kita mendapat asupan energi yang dengan cepat membuat kita merasa lebih baik. Koneksi dengan bumi mengefektifkan sistem regulasi dan mekanisme penyembuhan dalam tubuh. Sehingga berdampak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Konon, bisa memperbaiki aliran darah dalam tubuh, mengurangi sakit dan inflamasi, lebih bertenaga dan tidur lebih baik. Bentuk paling sederhananya ya rutin nyeker di atas tanah, rumput, batu atau pasir.. 

Sekarang Abi sudah remaja. Sesekali tetap punya kepingin cari sepatu gaya biar trendy. Tetap bisa jaga kebersihan, tetap suka mandi dan tidak pernah lupa cuci kaki sebelum naik tempat tidur.. Tapi juga tidak takut kotor, nyaman berkegiatan di alam, bahkan berguling2 di lapang rumput, juga suka nyeker di kesehariannya.. 

stay connected bi.. ✌

*) Aden dari kata Raden adalah sebutan bagi bangsawan Jawa. Para bangsawan yang praktis selalu dilayani. Dibedakan dari pakaian yang dikenakan termasuk sendal / selopnya. Mungkin pada awalnya memang hanya para bangsawan yang menggunakan selop, sedangkan orang kebanyakan tidak beralas kaki.. 

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s