menari..?

Tercolek karena memang selalu suka dan kagum sama tari-tarian-penari. Meski selama ini tidak pernah merasa bisa menari. Beberapa puluh tahun silam sempat menikmati bagaimana menari melepas kekakuan tubuh yang selalu dilakoni dalam gerak di keseharian (lalu menyadari ketika mengingat kembali, bahkan ketika menari dalam rangka bergaul pun ya kaku juga. duh!)

Menyenangkan sebetulnya.. Menggerakkan tubuh dengan sadar, mendengarkan bunyi, mengikuti ritme, menghayati peran dan cerita. Lalu terkendala keyakinan diri. Takut salah, takut jelek, takut diketawain. Semakin dipikir semakin erat kekhawatiran itu mengikat. Lalu kenapa kalau salah, jelek, diketawain? Mustinya jadi pemacu, kalau mau bagus, bener, dikeprokin, ya lebih rajin. Tapi dalam hal ini malah bikin mogok. Sehingga kesukaan itu tidak pernah mewujud dalam bentuk apapun. Ah kisah klasik diri zaman bahari..

Ternyata.. Tarian tidak musti selalu indah atau anggun atau cantik atau menyenangkan atau menenangkan atau membahagiakan. Seperti hidup lah. Ada senang ada sedih, ada seru ada bosan, ada dinamika ada monoton, ada riuh ada senyap, ada suka ada sebal. Tidak musti selalu rigid dan teknis sehingga membebani dan membuatnya terasa sulit. Menggerakkan tubuh dengan cara yang berbeda membangun kesadaran akan kemampuan manusia yang bisa jauh lebih dari sekadar bergerak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menari di keseharian masih dihidupkan sebagai tradisi masyarakat di banyak daerah. Sempitnya wawasan kebanyakan orang membatasi pengetahuan akan perwujudan budaya yang itu-itu saja dari satu daerah ke daerah lain, utamanya hanya yang sudah menjadi puncak kebudayaan daerah. Bali ya Pendet, Bandung ya Angklung, Sunda ya Merak, Aceh ya Saman, Batak ya Tor-tor.. Bila diperhatikan, setiap daerah tentu punya warna budaya yang menarik dan mendalam, diembusi oleh jiwa, dilakoni dengan hati seperti Mimi Rasinah alm., empu tari topeng Cirebon yang berpegang teguh pada kebudayaan tari topeng klasik. Meski kiprahnya sudah mendunia, kesehariannya tetap bersahaja, setia pada tradisi. Keinginannya untuk menari tak terpatahkan bahkan ketika separuh tubuhnya sudah tak dapat digerakkan. Rasinah menari hingga akhir hayat.

Tak harus melihat jauh sebenarnya. Pencerita perihal tari dan situasi budaya tersebut juga seorang penari handal, budeRatna seorang guru yang di setiap pertemuan terlihat membawa semangat yang terus menyala. Geraknya seolah selalu menari. Ide gerak dan variasinya seolah tidak berbatas. Terpancar harapan untuk membangunkan kesukaan menari pada siapa saja. Yang mulai penasaran, yang mulai tergelitik, yang sudah bisa dan biasa, yang belum pernahpun tidak masalah. 

Dapat bergerak adalah karunia. Merangkai gerak untuk tujuan lebih, bisa untuk keindahan, untuk keseragaman, untuk kesenangan, untuk bercerita, untuk memuja, untuk tradisi, untuk apresiasi.. semua berarti mensyukuri karunia. Seperti makan yang tidak sekadar untuk kenyang, membaca yang tidak sekadar untuk tahu, berjalan yang tidak sekadar untuk tiba. 

Mari menari..

.

Iklan

One thought on “menari..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s