secangkir teh & daun pegagan

Pagi yang cerah.. Upik memasuki pelataran Hijau Hening yang rimbun dan asri. Udara terasa sejuk dan bersih. Matahari sudah bangun. Warnanya lembayung cantik, hangatnya mulai menembus dedaunan, mencairkan udara malam yang dingin, menyisakan butir-butir embun pada kelopak bunga dan daun.. 

Upik menyusuri setapak panjang. Lenggang, hanya suara alam yang terdengar, belum tampak kesibukan. Sejenak Upik merasa ragu, terlambat atau terlalu pagikah aku? Rasanya tidak, Upik melihat penanda waktu di sakunya. Upik sudah lama menantikan undangan ini. Namun tak hendak terlalu berharap, karena tidak tahu pula apa yang akan terjadi hari itu. Yang pasti ia yakin hari itu akan menyumbang sesuatu pada proses dirinya.

Tiba di depan balairung Upik perlahan menaiki tangga, dengan kolam ikan besar di sisinya. Seorang gadis menyambutnya. Tersenyum manis, memberi salam takzim, menyapa ramah, dan mempersilakan Upik untuk langsung menikmati sarapan yang telah terhidang di tengah ruang. Hummm yumm.. Sajian hangat mengundang selera dipadu sayur mayur segar yang pastinya diambil dari kebun yang tadi ia lewati. Beberapa tamu lain tampak sedang mengambil hidangan. Mereka saling mengangguk, melempar senyum tanpa kata, mencari tempat untuk duduk bersama di sebuah meja panjang. Birin, gadis manis yang tadi menyambutnya menyampaikan selamat datang pada semua tamu, mengajak semua yang hadir untuk berdoa, mensyukuri semua yang tersaji. Upikpun menundukkan kepala, memperhatikan seisi piring yang ada di hadapannya sambil mendengarkan Birin,

“.. banyak sekali elemen seperti tetes hujan, sinar matahari, tanah, udara, dan kasih yang berperan dan memungkinkan adanya semua yang akan kita makan ini.. nikmati secukupnya dan dengan penuh syukur semua rasa yang terhidang.. mudah-mudahan kasih dalam diri terus terjaga lewat cara makan yang menjaga keberlangsungan alam dan seisinya..” 

Ting.. terdengar bunyi genta, “silakan makan..” Upik makan dengan perlahan. Sungguh menikmati semua yang masuk ke dalam mulut dan tubuhnya. Terasa nikmat dan mengisi. Tidak banyak percakapan terjadi, semua makan dengan tenang dan khusyuk. 

Selesai makan Upik diajak menuju pendopo untuk bertemu dengan Bante Tang. Bante duduk tenang di tengah pendopo, dikelilingi para ksatria. Di hadapannya terdapat sebuah mangkuk genta dan pemukulnya. Tubuhnya besar, dibalut jubah sewarna tanah merah. Wajahnya bulat tampak ramah, seolah terus tersenyum teduh. Upik mengganggukkan kepalanya, memberi salam hormat. Bante membalas dengan menyatukan tangan di depan dada dan membungkukkan badan dalam2. Upik mencari tempat duduk di sudut pendopo yang tersiram hangat sinar matahari, kemudian duduk bersila, masih dalam keheningan. 

Siapa kamu, apa yang kamu rasakan saat ini? adalah pertanyaan yang harus Upik temukan dalam diri. Menarik nafas dalam-dalam Upik mencoba menata tubuh, pikir dan rasa. Duduk hening bukan sesuatu yang tidak pernah Upik lakukan. Dari waktu ke waktu ia terus berusaha belajar. Mustinya tidak sulit, apalagi dengan kemewahan suasana dan lingkungan yang sangat kondusif di lingkung Hijau Hening ini. Ternyata tidak demikian juga.. Niatan awal sungguh sulit ia pertahankan. Semakin berusaha semakin berantakan.. sebentar tubuhnya tegang, ia lemaskan. Sebentar pikirnya berlompatan ke mana-mana, ia tarik kembali ke sini. Sebentar rasanya resah terbawa pikir, ia tenangkan kembali. Lalu kakinya terasa sakit, lalu pikirnya menjauh lagi, lalu rasanya galau kembali.. Upik tak bisa melihat dirinya, tak bisa mengenali rasanya.. Ah tidak hanya kali ini, hal itu sering ia alami. Seorang teman lama bahkan dapat melihat pola gelombang kegelisahan yang datang berkala di tengah perbincangan mereka. 

Itu yang membuat Upik datang kemari. Bante tersenyum simpul mendengar Upik bercerita. Berhenti melawan.. bila tujuanmu menekan atau melawan semua itu, yang terjadi dalam diri adalah peperangan. Terima, berdamai, syukuri.. niscaya itu yang akan terjadi. Upik seperti dibangunkan mendengar ucapan Bante. Mungkin itu yang selama ini terjadi.. harapan yang dikejar dengan cara berlawanan, sehingga yang terwujud adalah sebaliknya. Upik mulai paham tapi belum sepenuhnya dapat membayangkan apa yang harus ia lakukan ketika menghadapi serangan ombak yang kerap menghantam ketenangan dalam diri. 

Ketika masih termangu mencerna penjelasan Bante, salah seorang ksatria memberinya secangkir teh. Sempat tergoda untuk menegak habis, menuntaskan dengan cepat, karena sudah terbiasa untuk selalu minum seperti orang kehausan. Namun ia urungkan. Hangat, bahkan masih cukup panas terasa menjalari kedua tangannya yang memegang cangkir. Upik menghirup harum teh yang khas, kemudian menyesap sedikit saja. Kesat, sedikit pahit, menggugah seluruh indera pengecap dalam mulutnya, dan masuk membasahi kerongkongannya, mengalirkan hangat ke dalam tubuh. Dari harum dan rasanya, teh ini biasa saja, bukan teh yang dibuat dan dikemas fancy dengan embel-embel buah, warna, bunga atau lainnya yang kadang ditempelkan untuk menyesatkan harum atau rasa. Diseduh secukupnya, tidak terlampau pekat. Cangkir itu ia goyangkan perlahan. Jernihnya mengingatkan pada gouache yang ia gunakan untuk melukis, nuansa warna yang indah. Tubuh, pikir dan rasa Upik terpusat pada saat itu.. dirinya dan secangkir teh tawar hangat. 

Kemudian Birin yang duduk di dekatnya menawarkan pegagan dalam keranjang kecil. Upik mengenali daun-daun bulat mungil itu. Hijau segar, baru saja dipetik dan dicuci. Diambilnya beberapa tangkai, ditaruhnya di telapak tangan. Delicate.. helai daunnya lembut dan tipis, dengan gurat tulang daun yang sangat halus dan pola tepian yang kompleks – ah simetri alam selalu mengagumkan. Kata orang daun ini punya khasiat untuk daya ingat, supaya tidak mudah lupa. Namun ia belum pernah mencoba dan jadi tergelitik. Digigitnya sehelai.. ha lucu juga, seperti seekor marmut mengunyah dengan gigi depan, menikmati daun. Berusaha menjabarkan sensasi amat halus yang terasa tapi tidak menemukan. Biarlah.. bagi Upik yang menjadi penting adalah berdamai dengan diri, mengalami, mengamati dan menerima apa yang terjadi bukan untuk menjelaskan atau mempertanyakan. 

Sejenak, sungguh hanya sejenak Upik menemukan dirinya dan merasakan kegembiraan besar. Dan momen itu terjadi pada saat ia tidak berusaha, tidak melawan. Secangkir teh tawar hangat dan daun pegagan di hari Minggu itu, semoga menjadi pengingat.

.

Iklan

2 thoughts on “secangkir teh & daun pegagan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s