anak-anak mamak

Nama penulis produktif ini sering aku dengar, tapi aku belum pernah membaca buku2nya. Di satu toko buku, Amelia seolah memanggilku. Sebagai penggemar cerita keluarga atau anak, seperti Keluarga Cemaranya Arswendo, judul serial; Anak-anak Mamak yang terasa bernuansa melayu kental ini sangat memikat. Jadilah aku mulai membaca Amelia, dan memang tak dapat berhenti hingga selesai.. Indah, bersahaja, namun tak mudah ditebak. Sungguh menikmati membaca halaman demi halamannya, bahkan berharap cerita keseharian si bungsu dari 4 bersaudara yang memiliki karakter yang kuat itu tidak terpotong dan meloncat begitu saja.. 

Aku kemudian meminjam Burlian dari seorang kakak. Saat berbagi tentang pustaka hidup di hari belajar literasi, ia membawa Burlian untuk mengajak kami belajar tentang kearifan lokal dan kesederhanaan hidup dari seorang bocah dan keluarganya yang tinggal di sebuah kampung di pesisir hutan bukit barisan. Sungguh sepakat. Aku sampai bersikeras mendongengkan Burlian si anak mamak yang sungguh spesial ini satu bab saja setiap malam untuk si bungsu yang belum terlalu suka membaca. Terlalu banyak nilai kebaikan juga keseruan untuk dilewatkan. Meski dia hanya mesem2 saja sewaktu mendengarkan, sementara aku dibuat senyum2 sendiri, tergelak2, berkaca2 bahkan meneteskan air mata. Namun aku yakin banyak pengalaman Burlian tertera dalam dirinya.. 

Setelah itu aku meminjam Pukat. Cerita keseharian Pukat Pasai, anak kedua keluarga Syahdan yang pandai dan cerdik ini juga tak kalah menarik. Pesan utamanya dikemas dalam teka-teki wak Yati, yang akhirnya terjawab sepuluh tahun kemudian. Bahwa harta sejati milik kampung mereka yang paling berharga adalah mereka sendiri. Anak2 yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. Generasi yang tidak hanya memastikan agar hutan-hutan, tanah-tanah tetap lestari, tapi juga agar kejujuran, harga diri, perangai elok dan kebaikan tetap terpelihara di manapun mereka berada. Sebuah pesan universal bagi kita semua.. terlebih kita yang sedang mendamping harta sejati, generasi penerus. Bukan sekadar mendamping, tapi juga mengingat kembali relasi kita sendiri dengan alam sekitar, serta nilai2 luhur yang semakin banyak terabaikan. 

Terakhir aku membaca Eliana, putri sulung pemberani, pembela keadilan dan kebenaran. Sejak awal cerita kejelasan sikapnya jelas tersampaikan. Namun satu sikap Eliana yang mengena untuk aku adalah ketika ia merasa dapat melakukan semua yang dilakukan anak laki2. Bila diingat2, di jenjang smp dulu aku sempat mempunyai rasa dan arogansi yang sama.. (😅 mungkin dampak dibesarkan di sekolah dan kepanduan khusus putri..). Eliana bahkan tak ragu menerima tantangan mengumandangkan adzan magrib di mesjid kampung. Pertaruhan yang berbuntut panjang. Namun dengan kebijaksanaannya nek Kiba memberi pemahaman mengenai aturan alam, aturan main dalam hidup yang harus diturut, Bapak menjelaskan tentang kelebihan perempuan dalam menjadi seorang ibu, wak Yati menjabarkan tentang kesetaraan jender yang sudah ada sejak dulu kala.. Tak sekadar menjalani keyakinan dalam hidup tapi perlu juga sadar lingkungan dan tujuan.

Serial ini bukan tetralogi yang harus dibaca berurutan. Kita bisa berkenalan dan membaca cerita keempat anak hebat ini dari yang manapun tanpa jadi bingung atau tersesat. Satu sama lain saling melengkapi, tidak hanya karakter masing2nya tapi juga tokoh2 signifikan lain yang ada dalam kehidupan mereka. Mamak yang penyayang meski tegas dan keras; Bapak, panutan yang bijak; pak Bin guru yang berbakti; wak Yati; nek Kiba; paman Unus, dan teman2 mereka masing2 dengan karakter yang kuat dan unik. Dengan bahasa yang ramah dan mudah dipahami, Darwis TereLiye membawa kita berkenalan dengan kehidupan khas pedesaan di masa tepat sebelum atau mungkin saat dimulainya eksploitasi masif kekayaan alam Indonesia akibat ketamakan yang tak kunjung terjelaskan. Membuat gemas sekaligus menyadari bahwa itulah potret seluruh pelosok negri. Namun beliau juga mengajak kita untuk mengenal atau mengingat kembali nilai2 yang semestinya ngajadi dalam diri. Intinya jadi orang yang nggenah (meminjam istilah kakekku almarhum), siapapun kita, apapun peran kita. Lebih jauh lewat sudut pandang anak, TereLiye mengajak kita terutama sebagai orangtua, atau fasilitator anak2, untuk memahami dan membayangkan potensi yang dimiliki anak sebagai generasi penerus. Sungguh banyak hal dapat dipetik dari serial ini. Baca geura

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s