alegoris yang menginspirasi

“AyTjoe di Tempo Ne..”

“Waah liputan pameran ya? Dimana? Kirim dong..”

Ah.. anak manis itu.. dalam diamnya, dari waktu ke waktu terus membuat kejutan. Sosok misterius yang membuat aku selalu terperangah kagum. Tidak hanya karena karyanya yang terasa jujur dan dalam. Tapi juga karena etos kerja, kekuatan dan keberanian dalam tubuh mungilnya.. juga kerendahan hati dan sikap membumi yang ia miliki. Sungguh.. tidak banyak perupa yang punya itu, terlebih perupa wanita*.. 

Ia termasuk orang yang tidak banyak bicara. Sungguh tertutup, namun karyanya banyak bercerita lewat kesan yang tercipta. Goresan garis-garis membuat bentuk-bentuk tidak sempurna namun terasa pas dalam kerangka estetis. Tertangkap kuat nada melankolis, kadang muncul kesan eerie namun indah, seirama dengan pembawaannya.  

Aku sering jatuh hati pada karya-karya etsanya.. sejak dulu, masih hingga kini pun. Betah menikmati hingga setiap detil goresannya yang khas, orisinil, sembari membayangkan geraknya yang tenang cenderung meditatif saat mengolah media berkaryanya. Sangat menginspirasi. 

Tampaknya sekarang ia lebih banyak membuat lukis atau karya media campuran. Meski dengan media yang berbeda, ia tetap terus berbicara lewat karyanya. Tentang dirinya, tentang manusia, tentang relasinya dengan sesama atau dengan Tuhan, tentang pencariannya, tentang pemahamannya terhadap dunia dan perubahan-perubahannya.. 

Karya-karya lukisnya yang dipamerkan saat ini tampak semakin kuat memunculkan warna-warna kuat sebagai ungkapan emosi diri.. Suatu perubahan yang terlihat seiring pencariannya. Kesan ekspresif bahkan liar kini semakin muncul, namun tetap terjaga oleh sensibilitas estetis yang kuat ia miliki. Dalam ulasan tersebut disampaikan bahwa seri lukisan kali ini merupakan respon dirinya terhadap pergeseran nilai umat manusia yang kian serakah.. terhadap hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.. Ia tidak sekadar menilai dan membuat pernyataan terhadap apa yang terjadi di luar diri, namun juga menggali dan mengolah ke dalam. Pesan yang hadir tidak menggurui, lebih pada ajakan untuk berpikir, turut merasa dan membangun kesadaran..

AyTjoe pada Tempo: “Saya bagian dari masyarakat serakah..”

Benang merah itulah yang membuat karya-karyanya terus menarik perhatian dunia seni rupa, pencarian ke dalam diri. Menilik kembali memori yang mungkin terasa pahit, bahkan pedih, karena pengalaman hidup tidak selalu ramah. Menghadapi buncah emosi yang muncul dan mengolahnya untuk kemudian ia terjemahkan ke atas kanvas.. menyembuhkan luka, sekaligus menjadikan karyanya terasa dalam, jujur dan sangat personal. Terus mengasah diri, tidak hanya mempertajam kepekaan estetisnya, namun juga untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hanya sedikit perupa yang memiliki talenta dan bersedia menjalani apa yang ia lakukan. AyTjoeChristine lahir di Bandung, 1973. Menyelesaikan pendidikan seni rupa pada tahun 1997 dan tak henti bereksplorasi, belajar dan berkarya.. Hingga kini ia menjadi salah satu perupa paling penting dan paling berpengaruh di Asia Tenggara. 

Jabat erat Tin.. hanya bisa turut bersyukur dan mendoakan perjalananmu selalu bermakna, indah dan terus menginspirasi..

.

*) tidak bermaksud membahas gender, dan hal ini banyak berkait dengan idealisme yang tergeser ketika seorang seniman perempuan berkeluarga.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s