di sini, saat ini

​”Few of us ever life in the present. We are forever anticipating what is to come or remembering what has gone.” Louis L’Amour

Sejak mulai terjaga oleh alunan merdu alarm, pikiran segera bergerak, melompat sana sini.. ada agenda apa saja, mau pake baju apa, makan apa.. tubuhpun bergerak tanpa perhatian.. mekanis, cari sandal, rapikan tempat tidur, matikan lampu, buka gorden dan jendela, mandi, makan, sambil terus bergerak baik pikir maupun badan. Mengemudi sambil mengingat-ingat apakah ada yang terlupa, kunci pintu, makanan peliharaan, jemuran cucian, atau sambil mengunyah sarapan yang tidak sempat dihabiskan, atau sambil mengoordinasi kegiatan sore anak-anak, atau sambil memikirkan tugas hari itu yang harus diselesaikan. Di kantor pekerjaan bertumpuk pertemuan, atau agenda urgen yang tiba-tiba menyela. Makanpun sambil kerja, baca, ngobrol, atau membalas pesan2 pada gawai.. Demikian terus hingga tiba di penghujung hari. Bahkan pikiranpun masih terus melompat-lompat ketika tubuh sudah bersiap tidur; membayangkan kembali kejadian siang tadi, atau agenda di hari-hari yang akan datang. Apalagi bila ada masalah atau kesulitan, emosi yang kadang muncul, membuat tubuh semakin sibuk tak jelas. Kadang merasa sudah menyelesaikan tugas, padahal hasilnya ya gitu-gitu aja, sekadar selesai. Kadang masalah yang dihadapipun tidak terselesaikan baik, sekadar mereda seiring waktu..

“Mungkin belajar multi-tasking bisa membantu Ne..” seorang teman memberi usul. Iya kah? multi-tasking atau tugas ganda apa yang dimaksud? Mengerjakan beberapa hal pada saat yang sama, rasanya sudah dilakukan, bahkan mungkin itu yang terus terjadi seperti yang dijabarkan diatas. Apakah ada pengertian lain dari human multi-tasking? Pada gawai atau komputer, tugas ganda dimungkinkan pada perangkat dengan RAM besar dan tak pelak membuat baterai cepat habis.. bisa jadi demikian pula halnya pada manusia.. 

Mungkin kutub lain dari multi-tasking yang malah perlu aku pelajari; mindfulnesskualitas dari kesadaran diri (consciousness) yang mencakup keadaan sadar terjaga (awareness) dan perhatian (attention). Bila conciousness adalah kesadaran diri yang lebih luas, mindfulness adalah kualitas dari kesadaran diri tsb. Kejelasan, kejernihan kesadaran seseorang yang dicapai dengan meningkatnya perhatian (attention) dan keadaan sadarterjaganya (awareness) atas pengalaman keberadaannya di sini, saat ini.

Lebih jauh, mindfulness melibatkan penerimaan, kesungguhan memperhatikan dan menerima semua yang dirasa, dilihat, didengar, reaksi emosi dan pemikiran yang menyertai sebagai peristiwa mental yang muncul tanpa perlu diidentifikasi berlebihan, tanpa perlu dielaborasi, diberi penilaian apalagi direspon dengan reaksi otomatis/ kebiasaan berperilaku yang cenderung terdorong emosi. Intinya benar-benar menyadari dan menghayati semua yang kita lakukan di sini, saat ini.

Jon Kabat-Zin, pendiri pusat Mindfulness di University of Massachusetts menekankan bahwa mindfulness tidak hanya dapat dicapai lewat meditasi. Intinya menjalani momen demi momen dalam hidup dengan sungguh-sungguh. 

“It’s about living your life as if it really mattered, moment by moment by moment.” 

Mustinya memang demikianlah alamiahnya manusia menjalani hidup. Perhatikan bagaimana asik dan khusyuknya balita melakukan berbagai kegiatan di kesehariannya; bermain, makan, mandi, dll. Beberapa penelitian juga sudah menyimpulkan manfaat besar dari penerapan mindfulness. Seperti meningkatkan sistem imun tubuh, kemampuan belajar, mengingat/memori, regulasi emosi dan empati, membantu untuk fokus, dan masih banyak manfaat lainnya. Anehnya aku malah sempat merasa bahwa mindfulness ini suatu yang sangat sulit dan jauh. Mungkin manusia sekarang memang terus digegas untuk bertindak cepat dan taktis sehingga semakin mekanis. Meski kesadaran akan perlunya mindfulness itu sendiri dapat membantu mengingatkan diri untuk berhenti sejenak, memperhatikan nafas, rasa dan sensasi inderawi, pikiran ataupun emosi yang muncul pada satu saat, tapi menerapkan mindfulness memang tidak mudah, karena tubuh dan pikiran yang terbiasa terus bergerak melompat-lompat tiba-tiba diminta untuk melambat. Perlu terus mengondisikan diri hingga menemukan ritme yang tepat. Perlu membalik pola pikir, agar yang keliru tidak terus dilakukan, bahwa tidak ada yang lebih penting daripada di sini, saat ini. 

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s