cerita mba Tin

Sesekali aku menikmati kemewahan kecil dari pijatan mba Tin. Perempuan muda bertubuh kecil yang punya kekuatan besar di setiap gerak jemarinya. Sosoknya mungil, bersahaja namun tampak gagah, tidak takut berjuang. Hidupnya tidak mudah namun sangat ia syukuri.

Sehari2 mba Tin bekerja di sebuah salon / spa. “Bisanya mijet kok mba, yang penting usaha yang bener..” Ia tidak memilih2 pelanggan ataupun tugas. Setiap kesempatan yang dapat menambah rejekinya ia lakoni dengan sungguh. Selain memijat, ia bersedia mencuci handuk, menyapu lantai, memasak untuk lauk makan siang rekan2, “Ah, ketimbang nggosip ga jelas” ujarnya, ketika teman2nya mengatakan “ih si mba Tin kok mau sih..” Di hari liburnya ia memijat pelanggan yang memanggil ke rumah, seperti aku. Sambil memijat mba Tin suka bercerita. Suka betul aku ndengerinnya :). Ceritanya membuat aku semakin kagum dengan ‘kekuatan’ di dalam tubuh mungil itu.

Kadang ia bercerita tentang kedua anak putrinya yang sangat ia banggakan. Yang sulung, sudah duduk di kelas 2 SMP. Tinggi besar seperti bapaknya. Pandai, rajin, mandiri, selalu mencapai ranking 3 besar di kelas, “Dapet beasiswa dia mba.” kata mba Tin bangga. “Yang sulung ini memang pendiam, kalem, penurut, kalo dibilangin mau ngerti, nda macem2.” lanjut mba Tin.

“Kalo yang bungsu kayak saya itu mah, banyak ngomong daripada mikir.” ujarnya sambil tertawa. “Badannya kecil, susah makan, cerewet, nda bisa diem. Centil banget, ga kaop ditebeuh ngegitek dia..” cerita mba Tin dengan bahasa sunda yang sudah fasih, sambil tersenyum geli sekaligus bangga. “Lahirnya sungsang mbak, padahal awalnya udah normal..waktu 7 bulan tiba2 mules. Waduh.. kalo ke rumah sakit bisa tekor, jadi aja saya ke paraji, diurut, eh malah jadi sungsang.” tutur mba Tin sambil terus mijet. “Waktu 8 bulan lewat, paginya bapaknya dapet uang tunjangan, si jabang ta’ bisikkin, nah sekarang uda bisa keluar de.. eh ga lama pecah ketuban. Lahirnya itu pas hari ulang taun pernikahan saya mba, bener2 kaki dulu bukan bokong, terakhir keluar kepala.. haduh, mba..bener2 istimewa.” cerita mba Tin mengenang pengalaman besar yang sulit namun memberi berkah tak terkira pula.

Si ade udah lama ngieng pingin sekolah, akhirnya taun ini ta’ kasih sekolah TK mba. Deket, cuma selang 2 rumah. Jadi tinggal jalan kaki, biasa pulang pergi sendiri. Malah sebentar2 pulang, apalagi kalo saya lagi di rumah, nda kerja, belum lama pergi tiba2 dia uda di rumah lagi, “Loh de..temen2 kan uda masuk kelas..?” “Ih mamah.. kata ibu guru musti nabung dulu..”, Atau alesan lain, mau ganti sepatu dululah, ketinggalan apalah..Tapi paling parah mba, dia bilang sama bapaknya, “Ade teh pingin mamah yang kayak ibu guru.” 😀 ampuun.. ya ibunya ini cerewet kali ya, kalo ibu gurunya kan sabar, manis, mau ndengerin dia.

Kadang ia bercerita tentang dirinya. Bagaimana ketika masih kecil ia sudah harus kehilangan ibunya yang meninggal karena kanker payudara, dibesarkan oleh neneknya di sebuah kampung di Purworedjo, hingga selesai SMEA. Sekarang nenek sudah usia 99 tahun, tapi masih sehat, masih ke sawah setiap hari, menengok beberapa pekerja yang menggarap sawahnya. “Rambutnya sudah memutih semua, giginya sudah habis tanggal, pendengarannya sudah sangat kurang, tapi tiap pukul 6 pagi masih rajin nyawah..ketemu matahari, udara segar dan tanah sawah, makanya nenek sehat” demikian cerita mba Tin. “Tapi saya pernah ‘berucap‘ ga mau kembali nyawah di kampung, ga mau dapat orang Jawa. Udah kenyang kerja di sawah sejak usia SD sampai selesai SMEA.” “Sama nenek pulang sekolah harus ikut bantu di sawah, biar tau kerja itu gimana. Kalau libur bisa seharian di sawah. Item banget saya dulu, dekil, tangan-kaki gatel2, pake baju bagus kalo ada acara undangan aja. Ga pernah belajar da udah cape, pokoknya asal naik kelas.” kata mba Tin sambil tertawa lebar. Makanya segera setelah lulus, ia menyusul ayahnya yang sudah menikah lagi dan pindah ke Bandung. Merasa beruntung langsung mendapat kerja di salon dan mendapat jodoh orang Sunda. Rupanya yang ia istilahkan sebagai ‘ucap’ adalah cita2 sekaligus doa..yang sekarang mewujud dan sangat ia syukuri.

“Eh kalo saya malah pingin cari tempat tinggal yang lebih tenang, lebih dekat dengan alam loh mba, sehat kali ya kayak nenek.” aku coba menggali. “Iya sih, cuma di kampung itu kesempatannya nda banyak mba, paling nyawah aja. Nenek juga uda mbagi2 tanahnya untuk diwarisin. Bagian saya paling dijual saja. Temen2 saya yang dulu jaman sekolah hidup enak nda perlu ikut nyawah kayak saya, malah sekarang harus ikut nyawah sama suaminya. Kebalik mba, saya yang dulu item, dekil, anak sawah, kalo sekarang mudik dianggep orang kota yang berhasil. Bangga juga, meski sama2 kerja keras kok.”

Mungkin memang demikianlah hidup. Kita dibawa oleh diri, kemana kita menetapkan diri.

Tidak ada orang yang lebih bertanggung jawab untuk ini selain diri. Selama kita punya arah tujuan jelas atas hidup kita, semua langkah di keseharian kita, berat-ringan-besar-kecil akan menuju kesana.

Sesederhana sosoknya dan selugas cerita2nya, mba Tin membawaku pada pemahaman itu. Mungkin karena aku juga sedang mencari maka cerita mba Tin mengena di hati? Ntah ya..tapi sangat berterimakasih atas cerita2 dan pijatan mantapnya mba Tin..

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s