proud mom #uncountable

Di tahun ajaran yang baru berakhir ini si sulung n si bungsu sama2 menghadapi ujian, apapun disebutnya; Ujian Akhir Nasional, Evaluasi Akhir Nasional, Ujian Propinsi, Ujian Sekolah.. yang ternyata masih perlu diselenggarakan heheh.. *gausahlanjutcurcoldehne. Hikmahnya selalu ada, kesempatan untuk mendorong dan membangun banyak hal yang ternyata sangat positif untuk masing2 dari mereka.

Si sulung dengan kesadaran yang sudah dimiliki ngereyeuh berproses dengan kelompoknya di kelas. Sesekali dia merasa butuh untuk menghela nafas panjang, meringis, lalu curhat..tentang daftar belajar dan tugasnya šŸ˜€ Tapi stay no worries ne, sebab sepengamatanku dari waktu ke waktu ia terus berusaha mencari hal n kesempatan untuk menyemangati diri, mencari keasikan sendiri seperti ikutan bouldering atau ngoprek fotografi agar tidak jenuh atau terlalu terbebani. Dan tugasnyapun beres meski tak selalu maksimal šŸ˜€ Di tengah2 kesibukan ini ia sempat terkena virus yang membuat dia demam tinggi hingga muncul bercak merah sekujur tubuh, batuk2 n sariawan pada mulut n lidah hingga tak bisa makan, benar2 dibuat lemas, mabuk, bahkan harus absen hingga 2 minggu. Saat itu bertepatan pula dengan tingginya intensitas pembahasan materi dan periode latihan ujian. Then i started to get worried.. Bersyukur kakak2 mengenal, juga yakin dengan kemampuannya, tetap rajin meng-update dan menyuplai materi bahasan. Dari situ barulah kita mulai mencari buku2 materi dan latihan ujian untuk mengejar ketinggalannya. Ketika suatu hari ia bercerita bahwa salah seorang temannya ternyata sudah menuntaskan beberapa buku latihan ujian, dan selalu membuat target capaian yang tinggi, aku tahu aura positif itu sedikit banyak menular n membuat dia memandang proses persiapan ujian ini dengan lebih bersemangat.

Si bungsu dengan pembawaannya yang lebih rileks, masih punya banyak PR untuk kita selesaikan bersama šŸ™‚ Aku yakin dengan kemampuannya, tapi ga kunjung muncul karena selalu berada di zona nyaman. Bahkan dengan pembawaannya ia bisa menyamankan dirinya šŸ˜€ Perlahan sejalan dengan pengondisian yang dilakukan kakak2 di kelas, kita mulai melangkah. Pada dasarnya saat ia membuat sendiri pemetaan materi dari beberapa bidang studi yang diujikan, untuk kemudian dibandingkan dengan kisi2 yang diberikan kakak, terpetakan pula materi yang sudah dan belum ia pahami benar. Kemudian kita mengumpulkan catatan dan bahan2 sesuai kisi2. Meski ga terlalu organisedĀ  ia punya catatan dan terkumpul cukup rapi. Sebundel catatan dr kelas IV tidak berhasil kita temukan. Beruntung bundel catatan milik kakaknya di periode itu masih tersimpan baik šŸ˜€ tak ada akar rotan pun jadi hehe.. Lalu kita mulai dari tantangan demi tantangan, latihan ujian demi latihan ujian, memastikan dia paham dan tidak abai untuk bertanya pada aku di rumah atau kakak di sekolah saat menemukan soal yang belum ia pahami. Kadang ada saat2 dimana ia tampak enggan atau mengelak dari kesepakatan itu. Mungkin karena jenuh saat frekuensi latihan sudah cukup tinggi, atau karena materi yang tidak terlalu ia kenali. Kecenderungan itu biasanya terjadi saat menghadapi soal2 berkait wawasannya dalam bidang sains, baik alam maupun sosial, karena ia memang termasuk anak yang belum gemar membaca. Pada saat2 demikian ia hanya pasif menunggu aku pulang untuk bilang, “Yang ini aku ga tau ma..” tanpa usaha untuk coba cari tahu, membuka kembali catatannya sendiri. Ini jelas berbeda dari ketidaktahuan saat ia tidak dapat menyelesaikan soal olahan seperti matematika. Karena untuk jenis soal olahan, saat mendapat penjelasan ataupun sekedar sedikit clue, ia kemudian dapat menyelesaikan dengan baik. Memang setelah ujian sains, ia memang terlihat kusut, “Susah ma..” ujarnya ketika ditanya.

Pada hari pengumuman, keduanya tampak tenang. Si sulung sedikit deg-degan katanya. Si bungsu mengakunya biasa saja. Dan ternyata memang hasil keduanya dengan pola belajar yang mereka jalani termasuk baik. Si bungsu bahkan memberi kejutan dengan satu nilai sempurna yang diperolehnya. “Makan apa bi kok bisa gitu?” tanya seorang kakak :D. Aku tahu benar bahwa yang dibutuhkan bukan sekedar kemampuan dasar pada bidang studi itu saja, tapi ia berhasil membangun dalam dirinya kesediaan untuk menghadapi tantangan besar ini dengan kerendahan hati; mau belajar, tidak menganggap gampang, dan bersedia bekerja teliti dan maksimal. Dan merekapun berhasil membuktikan diri.

Sungguh bersyukur atas proses yang mereka jalani sejauh ini.
So proud of you boys..but actually, you boys should be proud of yourself.. šŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s