declutter

Gretchen Rubin
: One of my most important Secrets of Adulthood,
‘outer order contributes to inner calm’

Ketika berkesempatan menginap di hotel yang cukup ‘fancy’, Obi sempat bilang “Ma, asik ya kalo rumah kita kayak di hotel itu.” Aku pikir gawat ni kecil-kecil standarnya tinggi 😀 setelah diperjelas ternyata bukan wah-nya yang menjadi penilaian Obi, melainkan apik, resik, bersih dari clutter (baca: tumpukan barang). Obi termasuk cukup bersemangat saat diajak (malah kerap mengajak) beres-beres rumah. Aku sendiri juga sering mengangankan rumah yang resik dan rapi..
[Setelah ketemu satu dari sekian secret of adulthoodnya Gretchen Rubin, baru ngeh.. mungkin itu yang sebenernya aku inginkan ya.. ketenangan dalam diri yang berasal dari keteraturan di luar diri. Memang jadi suka uring-uringan sendiri kalo liat tumpukan barang yang dipake engga tapi pabalatak].

Tapi kenapa ya kok sulit dicapai.. 😦

howDeclutterStart

Sebenarnya beres-beresnya ga masalah kalo memang jadi beres. Masalahnya, yang selama ini disebut beberes itu cukup sering dilakukan, tapi kok ga beres juga ya 😀 ternyata memang ada yang salah.. Yang seringkali dilakukan adalah sekedar merapikan dan memindah-mindahkan barang. Barang di rumah selalu bertambah, jarang sekali berkurang. Yang sudah tidak lagi dipakai, yang rusak, yang disimpan sebagai kenangan, yang disimpan karena berpikir siapa tau suatu saat dibutuhkan, pemberian yang disimpan karena ga enak sama yang ngasih, barang yang dibeli karena lagi diskon. Duh banyaak bangeet.. gimana ga mau numpuk. Gimana caranya bisa punya rumah yang clutter free alias bebas tumpukan.

As Leo Babauta said:

The complications creep up on us, one insignificant step at a time.

Today I order something online, tomorrow someone gives me a gift, then I get a free giveaway, then I decide I need some new tools. One item at a time, the clutter accumulates, because I’m not constantly purging the old.
Today I say yes to an email request, tomorrow I say yes to a party invitation, then I get asked to a quick cup of coffee, then I decide to be a part of a project. One yes at a time, and soon my life is full and I don’t know how I got so busy.
I look at a news site, then a social media site, then my email, then read an interesting article, then watch an online video someone sent me … and soon my day is gone, and I didn’t get much done, and my life gets eaten away in minuscule bites.

How do we protect against this feature creep, this complication creep? We have to take a step back, regularly.

Tantangan pertama, mulai dari mana. Tantangan kedua, gimana supaya jangan sampai kembali pada kebiasaan beberes yang salah lagi; sekedar membersihkan dan memindahkan tumpukan.
Dari berbagai postingan tentang declutter, tips n tricks, sharing pengalaman dll. Sebenarnya intinya jangan terlalu banyak mikir dan menunda ( 😀 haduh kalo dibahas, procrastination mah bisa jadi satu catatan tersendiri buat aku.) Mulailah dari tumpukan yang ada di depan mata, atau yang selama ini mengganggu tapi merasa tidak pernah bakal sempat untuk disortir. Barang yang tidak pernah digunakan selama setahun atau lebih, masuk kotak sumbangan. Barang yang rusak atau tidak bisa digunakan masuk kotak sampah. Barang yang masih dipakai perlu punya rumah. Itu saja sih. Ketika diperhatikan, ternyata mengeluarkan atau membuang barang untuk aku kok sulit juga ya 😀 Bukan hanya karena banyak attachment, tapi bagaimana membuang dengan betul juga bikin pusing, karena jumlah, ukuran dan bentuk yang bukan termasuk sampah sehari2. Jadi nemu pihak yang disebut bank sampah.

Sejak menyadari hal itu aku melatih diri untuk tidak lagi ‘mulung’ barang yang tidak aku butuhkan. Jadi hati-hati saat belanja, terutama saat membeli barang yang tidak habis pakai. Aku juga memecah target dari rumah, ke ruang per ruang, lemari ke lemari. Sedikit demi sedikit. Perlahan aku mulai berani mengeluarkan barang yang memang tidak aku pakai, tanpa merasa bersalah atau sayang.. malah ada rasa lega.. 🙂 mudah2an ngereyeuhnya jalan terus..
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s