time

.

IMG-20130914-WA0000

indeed.. but why is it that the bottle of time is so tiny?

Abstrak. Waktu ada ketika kita melihat ke belakang. Waktu kita miliki tanpa kita sadari. Kadang saja ketika merasa kehilangan atau kekurangan sesuatu seperti kedekatan atau kebersamaan dengan orang yang kita sayangi, baru kita merasakan, mengukur, menghitung waktu yang telah berlalu atau yang masih kita miliki (untuk sampai pada moment tertentu).

Apakah waktu semata diukur oleh satuan baku seperti detik, hari, tahun, atau abad? Meski baku, tapi mengukur waktu tak semudah itu. Saat senang, bahagia, menikmati, waktu serasa berjalan lebih cepat. Saat resah, terganggu, apalagi menunggu, waktu bisa seolah tidak berjalan. Namun kita menjalani hidup di atas waktu. Setiap dari kita mengatur apa yang akan dikerjakan pada waktunya sendiri. Terlalu arogan untuk mengatakan bahwa kemampuan ini bisa dengan mudah dikuasai. Kerap kali tenggat waktu berlalu begitu saja, atau tugas-tugas terkerjakan sekadarnya saja demi mengejar tenggat waktu. Tak dapat dipungkiri, sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan list, ada rasa senang bila berhasil mencentang tugas yang sudah terselesaikan. Sebaliknya serasa dihantui beban bila berhari-hari ada tugas-tugas yang tidak kunjung mulai/selesai dikerjakan.

Jadi apa makna kalimat “Ga sempet uy, aku ga punya waktu!” ? Apakah terlalu sibuk hingga tidak sempat mengerjakan hal yang sebenarnya penting? Atau kurang bisa mengatur diri untuk memanfaatkan waktu? Atau belum bisa menentukan prioritas? Merasa sering berada pada posisi dimana orang-orang yang paling aku sayangi mendapat energi dan perhatian yang masih tersisa saja di ujung hari. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku tak dapat membeli waktu di toko atau dimanapun. Mungkin itulah sebabnya mengapa dari semua hal yang tidak bisa kita beli, waktu hanya tersedia dalam sebuah botol kecil, hingga kita perlu menggunakannya dengan bijak.

Lama draft post ini aku pending karena terasa menggantung, tanpa solusi. Ternyata kemudian mendapat masukan dari postingan Leo Babauta pada blognya zenhabits. Intinya kalau istilah teman, sepertinya sama dengan yang dikatakan oleh de Mello; memaknai setiap tindakan. Hmm perlu dipelajari dulu. Terbiasa bertindak otomatis, jangankan memaknai, kadang malah tanpa dipikir panjang. Akhirnya kembali pada kesadaran yang perlu dibangun setiap saat, untuk melakukan 5 tahap sederhana mulai dari ‘pause n consider‘ hingga ‘bow when you done‘ sebelum mencentang check list, dan memilih kegiatan lain yang perlu dilakukan dan bukan sekedar karena ada di dalam list.
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s