surat cinta

Ia sudah besar. Sudah mulai membawakan diri dengan cara yang berbeda. Sudah mulai mencari pijakan lain tempat ia bisa menemukan diri. Sedang ingin menantang diri, mengeksplorasi kemungkinan yang bisa ia lakukan. Memetakan diri, bahwa ini ok untuk aku, dan ini bukan untuk aku. Setelah beberapa bulan menempa diri supaya bisa turut dalam sebuah perjalanan besar di jenjangnya, ia tampak bersemangat menyiapkan diri, bertualang bersama teman-teman sebaya. Ia berangkat dengan kereta ekonomi sesaat sebelum matahari terbit, bersama teman-teman seperjuangan, dan ditemani kakak-kakak yang meski tampilannya serupa namun jauh lebih bijak bestari. ‘Selamat jalan gi, nikmati perjalananmu dengan sukacita. Bawa dan jaga dirimu dengan baik. Kirim sedikit pesan saat sudah tiba di tempat tujuan, supaya kami tahu kamu baik2 saja’, demikian pesanku saat ia memberikan nomor kontaknya di tempat tujuan. Dan di ujung hari itu sebuah pesan singkat sampai padaku, mom sudah sampai dengan selamat 🙂 Sebagai pengamat, perjalanan terlihat seru dan mengasikkan. Sesekali kuterima kabar lewat fb atau twitter dari kakak pendamping. Kabar yang membuatku turut berdebar atau malah tersenyum sendiri, bila aku berusaha membayangkan. Kusyukuri setiap hari yang lewat atas pengalaman barunya. Mungkin sesuatu yang menantang, mungkin sesuatu yang berat, mungkin sesuatu yang asik dan seru, tapi aku percaya ia baik-baik saja, dan sedang memperkaya pengalamannya. Di hari ke-4 semua ibu berseru gembira mendapat sepucuk surat dari anaknya. Penuh harap aku menengok tempat surat ketika tiba di rumah, ahh ternyata tak ada surat untukku.. tak mengapa, mungkin belum saatnya. Ketika matahari mulai terbit memasuki hari ke-6 kereta Kahuripan telah membawanya kembali pulang. Masih dengan coolnessnya yang selalu menggemaskan untuk aku, raut mukanya terlihat rileks, sinar matanya memancarkan gembira. 3 hari berselang baru kuterima sepucuk surat. Ahh ternyata ia menulis untukku juga 🙂 Singkat saja, namun terasa sangat reflektif. Tentang apa yang ia rasakan dalam perjalanan ini, tentang perasaannya terhadap kondisi di rumah, tentang pengenalan diri dan potensinya, tentang rasa syukur dan hal2 yang ingin ia upayakan. Senangnya.. usai membaca, kuucapkan terima kasih atas surat yang sudah ia tulis untukku, dan kutanya bila suratnya perlu kubalas. ‘Naaah..’ ujarnya sambil nyengir kuda 🙂 ‘diomongin aja ya gi?’ ‘Nah kalo diomongin suka lebih susah ma’ katanya lagi. ‘Jadi gimana dong?’ Nyengir doang dia.. mungkin memang ada hal2 yang susah diungkap, terutama sama mamanya yang suka mbahas berkepanjangan saat merespon 😀 Seolah menerima cermin, dari surat itu aku mendapati kenyataan (yang juga sempat disampaikan oleh Gobind) bahwa apa yang aku harapkan dari dia ternyata merupakan hal yang aku sendiri masih perlu upayakan. Halus dan perlahan seolah berbisik, kesadaran akan adanya kenyataan itu baru kudapati setelah membaca surat tersebut lagi dan lagi untuk yang kesekian kalinya. Ah, sungguh berat ternyata apa yang kuharapkan darimu, aku sendiripun belum mampu melakukannya. Maaf ya gi.. aku akan terus berusaha untuk hal ini. Mudah2an kelak hal ini akan menjadi bagian dari kita berdua, karena keterbukaan adalah baik adanya. Bersyukur atas semua yang sudah terjadi, yang memperkaya dia dan aku. Terima kasih semesta 🙂 .

Iklan

2 thoughts on “surat cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s