magic parenting

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Pesan yang dibacakan kak Arry dari puisi terakhir Rendra, kemudian dikukuhkan Gobind lewat kata bijak Khalil Gibran saat bertemu Gobind Vashdev di Hari Belajar Kakak dan Pertemuan Orangtua Smipa tsb membuat aku tersadar akan kehormatan mendapat kesempatan menjadi orangtua dan menerima titipan-Nya. Karena itu juga parenting merupakan hal yang perlu disadari penuh dan tidak bisa ditawar.

Menjadi orangtua tidak otomatis sepaket dengan pengetahuan dan kemampuan untuk membesarkan anak dengan cara yang tepat. Mungkin tidak ada juga sih cara yang disebut paling tepat.. semua orangtua pasti punya wisdomnya sendiri2. Betul juga kalau ia bilang bahwa kebanyakan dari kita para orangtua, punya kecenderungan untuk mengontrol anak. Apakah karena merasa paling benar, atau merasa ingin anak punya cara pandang yang sama? Dalam hal ini tampaknya kita tidak perlu khawatir karena mau-tidak mau, sadar-tidak sadar, anak adalah cermin dari orangtuanya. Dalam keseharian di sekolah, hal ini terlihat nyata. Puluhan anak seringkali membuat kami terkesima dengan sikap, sifat, kebiasaan, cara mengungkap diri, ekspresi diri atau apapun, baik positif maupun negatif. Kemudian kami menjadi paham ketika bertemu dengan orangtuanya. Di rumah pun aku sering terkejut ketika menyadari bahwa sesuatu yang kerap dilakukan atau tidak kunjung dilakukan oleh anak2 itu serupa benar dengan perangaiku sendiri, alias gue bangeet 🙂 Jadi ga perlu banyak ngaca di cermin ne, perhatikan saja baik2 sikap, kebiasaan, cara bicara, ungkapan dan pemikiran anak2.. itu cerminan diri yang sesungguhnya.

Lalu apa yang dimaksud Magic oleh Gobind? Magic itu kan sulap, trick yang dilakukan seseorang hingga suatu kondisi bisa berubah tanpa diduga. Sesederhana itu? Yang sederhana itu kuncinya yaitu persepsi/cara pandang. Begitu cara pandang kita berubah, masalah bukan lagi masalah, dan seketika berubah menjadi pemahaman, empati dan kesediaan untuk membantu, tidak sekedar menuntut. Magical banget ga sih.

Beberapa waktu lalu Obi pundung berat karena batal ikut camping dengan sepupunya di Lembang. Singkatnya, dia punya 3 jadwal sambung menyambung yang harus dipenuhi sebelum bisa bergabung dengan sepupunya di Lembang; sekolah bola, latihan komuni pertama dan mengunjungi oma, adik kakeknya yang baru tiba dari luar negeri. Saat itu long weekend, dan dengan kondisi traffic saat itu, ia baru kembali ke rumah menjelang magrib. Ia sendiri tampak lelah, tp masih semangat untuk menyusul ke Lembang. Ia mulai kesal ketika Gio mundur, aku pun sudah lelah dan kehilangan semangat. Kemudian ia mulai menangis. Dalam benakku aku hanya ingin dia paham bahwa kita boleh punya rencana, tapi kadang kondisi tidak memungkinkan. Terima saja, tidak perlu terus bikin kesal, ayo kita lakukan hal lain yang menyenangkan di rumah. Sulit sekali masuk ketika aku bersikeras dengan pendapatku itu, sementara ia merasa tidak dipahami. Pembicaraan terus berputar ditempat; aku menuntut dia paham, dia merasa tidak mendapat kesempatan. Sesekali diselingi tangisnya yang kembali menjadi. Setelah kewarasanku kembali, baru aku tersadar untuk berhenti, menarik nafas dan berpikir apa sebenarnya yang membuat dia sedemikian emosi. Kutanyakan beberapa pertanyaan yang membuat dia mulai bisa bercerita tentang hal yang mengganjal, kemudian mendefinisikan perasaannya sehingga membuat dia akhirnya tenang. Untuk aku, itulah magic moment yang mengubah caraku memandang sikapnya. Setelah dia menjawab, aku jadi mengerti kenapa dia sedemikian pundung. Setelah ia menjelaskan perasaannya akupun menjadi luluh dan berempati. Tangisnya berhenti setelah one long bighug. Setelah ia tenang aku ajak dia makan malam sambil ngobrol, kemudian ia memutuskan sendiri bhw tidak perlu menyusul ke Lembang malam itu..

Sore itu aku mendapati kenyataan tepat seperti yang dikatakan Gobind, bahwa 99% masalah anak berasal dari ortu yang tidak mampu mengatasi diri / masalahnya. Luka batin, kekecewaan, kekhawatiran itu kemudian diturunkan pada anak. Bahwa hal yang ternyata mengganjal untuk Obi, sebenarnya lebih dari sekedar tidak bisa ikut camping. Akarnya ada pada satu hal besar yang pernah aku lakukan namun tidak terjelaskan. Sebelum aku menyadari hal ini, aku terus berpikir bahwa masalahnya ada pada keinginan dia untuk terus dituruti. Setelah mengolah dan menerima kenyataan bahwa dia menyimpan kekhawatiran karena apa yang aku lakukan, barulah aku dapat memahami sikapnya.

Kalau menurut Gobind, yang perlu dilakukan orangtua saat menghadapi kesulitan dengan anak adalah melihat dan mencari jalan ke dalam (karena manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun yang ada di luar dirinya, tapi dengan yang ada di dalam diri), sadari, olah dan selesaikan dulu. Gobind menganalogi hal itu dengan kacamata dalam diri kita masing2. Ketika kacamata kita kotor, maka semua terlihat kotor. Bersihkan dulu, maka semua akan terlihat bersih, ga perlu ngotot mengubah yang ada di luar diri.

Berbagai masukan, inspirasi, penyadaran yang aku catat dari pertemuan dengan Gobind. Namun ternyata baru menjadi magic ketika aku dapat berhenti sesaat, untuk menyadari, baru kemudian menerapkan. Mungkin masih dibutuhkan waktu panjang untuk membiasakan ini..

Terima kasih Gobind.
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s