learn to let go

Gio mendapat tugas menarik berjudul ‘Perjalanan Kecil – menelusuri sisi lain keluargaku’. Dalam rangka membangun kesiapan melakukan outing besar keluar kota di pertengahan semester genap ini, kakak-kakak memberi tugas-tugas yang memastikan anak siap di berbagai sisi diri. Mulai dari keberanian, kemandirian, perhatian terhadap tanggung jawab, dll. Tugas kali ini meminta dia untuk melakukan perjalanan seorang diri (boleh ditemani orang lain, tapi yang sebaya dengannya), menggunakan kendaraan umum, mengunjungi rumah saudara yang belum terlalu akrab dan melakukan interview ringan dan santai, sambil menggali hal-hal menarik tentang diri, keluarga atau apapun.

Ketika Gio menunjukkan lembar tugasnya, aku bertanya tentang tujuan yang terpikir olehnya. Aku cukup surprise ketika ia mengatakan ingin pergi ke tempat kakeknya di daerah Kopo. Wah.. jauh juga ya. Ujung ke ujung melintas kota, bisa ga ya.. hmm mustinya sih bisa. Pengalamannya naik angkot sudah cukup banyak, meski belum pernah sendirian saja. Tetap saja aku sempat terus bergulat dengan kekhawatiranku sendiri. Bagaimana kalau nyasar atau salah jalan, bagaimana kalau ga tahu mesti turun dimana atau kelewatan, bagaimana kalau ada yang malak, bagaimana kalau ini, bagaimana kalau itu.. aaah perlu ga sih aku membayangkan hal-hal yang negatif itu, sepertinya kok malah jadi ga mendukung proses dia ya. Akhirnya, berdamai dengan diriku, aku mencoba memberi alternatif tujuan yang lebih dekat, ke rumah sepupuku yang hanya perlu sekali naik angkot saja. Saat itu tenggat waktu masih cukup panjang, tampaknya Gio sendiripun masih mundur-maju, menimbang alasan-alasan yang aku berikan, tentang kondisi kakeknya yang baru keluar dari rumah sakit, tentang neneknya yang mungkin sedang repot karena tidak ada pembantu, tentang jarak yang terlalu jauh, perlu pindah angkot sampai 3 kali dan melintasi banyak pusat kemacetan, dll. Namun rupanya semesta sedang berkonspirasi untuk mewujudkan proses perkembangan diri Gio. Entah apa yang memacu semangat dan keberaniannya, Sabtu malam, sepulang pramuka ia mengumumkan, “Ma, besok aku mau ke Kopo ya.”, “Oh jadinya ke Kopo Gi?”, “Iya, aku pingin coba.” Ya sudah, seolah palu sudah diketuk, aku hanya bisa berdoa semoga dia baik2 saja, diberi kemampuan mengatasi tantangan yang akan dihadapi, dan mendapat pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun.

Esok paginya Gio memastikan rute angkot dengan menelpon neneknya. Setelah itu dibantu bapaknya ia memetakan titik-titik terminal yang perlu ia ketahui pada selembar peta Bandung. Kemudian titik-titik tempat ia naik dan turun, serta jalur jalan kaki yang perlu ia tempuh. Aku mencoba menjelaskan daerah tempat dimana ia musti turun untuk naik angkot selanjutnya, supaya tidak sampai terlewat. Kemudian aku coba memberi gambaran perkiraan waktu, supaya dia tahu kira-kira pukul berapa dia mesti pamit pulang agar tidak kesorean sampai kembali ke rumah. Kita juga menghitung dan memastikan besaran uang yang disimpan pada kantung celana supaya tidak perlu membuka tas dan dompet untuk membayar, sambil mengingatkan untuk tidak sering2 mengeluarkan HP-nya saat berada di dalam angkot, dan jangan lupa kirim kabar bila sudah sampai. Panjang pendek aku nyerocos tentang kebiasaan ngetem para supir angkot, supaya dia jangan sampai menunggu terlalu lama kalau naga-naganya sang supir ingin ngetem sampai penuh. Tak lupa beri ceramah tentang apa saja yang bisa dia lakukan bila salah nyegat angkot, salah turun, atau titik turunnya terlewat. Belum lagi wejangan tentang sikap dan kesantunan dan hal-hal yang perlu ia perhatikan saat berada di rumah kakeknya.

Padahal aku tahu sih, bahwa belum tentu semua yang aku sampaikan itu ada yang nempel. secara dia sendiri juga lagi exciting, lagi membayangkan pengalaman baru yang akan ia jalani. Tapi entah kenapa pada saat itu aku kok ya masih berusaha menjejali dia dengan semua itu…

Karena tak terasa hari sudah semakin siang, akhirnya Gio berangkat kuantar sampai ke perhentian yang pertama untuk sedikit mempersingkat waktu. Ketika turun aku melihat dia melangkah dengan yakin, (terlihat tegang namun cukup alert sekaligus antusias) menuju angkot yang sedang ngetem, akupun semakin tenang, aku yakin dia akan baik-baik saja. Terbersit sedikit sesal atas kecerewetanku tadi. Be safe Gio 🙂

Ternyata demikian adanya  🙂 . Kira-kira lewat sejam setelah itu, kukirim pesan menanyakan kabarnya. Jawabnya baru datang setengah jam kemudian, singkat saja, ‘uda sampe’, ‘uda mkn jg’. Ah Gio, yang istimewapun seringkali ia coba pandang sebagai kewajaran-biasa saja, memang sudah seharusnya demikian. Dalam hatiku aku tersenyum sangat lebar. Terutama atas keberhasilannya menantang diri untuk tingkat kesulitan yang lebih tinggi! Congratulation Gio, you should be proud of your self!

Namun di balik semua itu, aku juga belajar untuk melepas anakku berproses, mengalami, menemukan untuk dirinya sendiri. Sebuah proses yang perlu ia jalani sekarang ataupun kelak. Sangat bersyukur bahwa ia mendapat kesempatan seperti ini di saat yang tepat, di saat ia sedang ingin menjajal kemampuan diri. Seolah kita berdua sama2 menaiki anak tangga yang sama sekaligus berbeda, undakan mengalami dan memperkuat diri baginya dan bagiku, tahapan untuk mendukung dengan memberi ruang.

Terima kasih kakak-kakak 🙂
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s