teladan

Sebenernya sudah tahu betul, jadi mustinya sudah siap menghadapi berbagai kemungkinan..

Sejak awal tahun ajaran ini, hampir setiap akhir pekan aku mengantar Gio ke tempat latihan pramukanya. Jauh? Secara ukuran kilometer sih ga terlalu, mungkin sekitar 7-8 km. Lagipula dulu itu daerah aku berkantor, jadi secara trayek merasa sudah sangat terbiasa. Mencoba mengenali padatnya lalu lintas kota tercinta ini, ga mau muluk2, kita set waktu berangkat 1 sampai 1,5 jam dimuka. Ternyata ketika diambil rata-ratanya, ya memang segitu. Selancar2nya, paling bisa sampai dalam waktu 1 jam.. Jadi, rata2 kecepatan berkendaraan mobil standar menyusur jalan2 utama daerah Bandung Utara di akhir minggu adalah merayap 8 km/jam. Secara waras aku tahu ini pemborosan waktu, tenaga dan bahan bakar. Tapi juga tidak bisa lain ketika melihat semangat, persistensi dan konsistensi anaknya sendiri. Saatnya berangkat dia selalu sudah siap. Apalagi di beberapa latihan terakhir dibuka kesempatan untuk ikut jamboree ke luar negeri dengan persyaratan2 yang musti dia upayakan lebih, semakin antusias dia. Seneng banget Gio bisa menikmati dan suka kegiatan pramuka juga (padahal ngomporin dia tentang serunya pramuka, rasanya uda bertahun silam – belakangan aku yang malah ga yakin bahwa pramuka sekarang masih ok dan seru, lagipula persaingan dengan ragam kegiatan lain sudah semakin tinggi) jadi semangatnya perlu disupport dong.

Jujurnya, tujuanku bukan menunjukkan support semata sih.. Minimal 2 jam seminggu, he is stuck with his mom.. Hehehe 😀 😀 😀 (*senaangnyaa). Ibu2 yang anaknya mulai jadi ABG, pasti setuju bahwa rendezvous seperti itu perlu disetting, perlu dikondisikan. Di keseharian sebenernya anaknya sendiri sih ga banyak berubah; cool, tenang, jail.. Intinya ibunya aja yang resah 😀 jadi punya hidden agenda. Kan kepingin banget tau pandangan dia tentang hal2 yang penting ga penting.. seperti tentang pertemanannya, tentang kawan terdekatnya, tentang pacaran, atau tentang bermacam trend yang semakin terasa ngga nggenah banget. Aku pernah minta dia untuk bersedia bercerita seandainya dia mengalami sesuatu atau bingung terhadap sesuatu. Pinky swearnya mah iya, sambil kait kelingking tea, tapi juga sembari nyengir bilang, “Ga semua kali ya ma..” Sadar sih bahwa seiring waktu dia akan mulai memilah mana yang perlu diceritain dan mana yang ga. Sejauh ini aku percaya juga sama dasar, kemampuan dan kematangan anak sulungku ini untuk jenjang usianya. Hanya saja,  kalau bisa lebih banyak cerita kan lebih baik.. dan keterbukaan plus kepercayaan itu kan bukan sekedar diminta, namun perlu diupayakan dan dibangun. Karena itulah setiap akhir minggu aku mempersiapkan diri untuk melintas batas nalar tadi, dan sejauh ini aku sangat mensyukuri bahkan menikmati obrolan2 panjang, pendek, penting ga penting yang terjalin selama menyusur 2×8 km tsb.

Akhir minggu kemarin, rupanya semesta turut berpartisipasi untuk meningkatkan intensitas waktu spesial kami itu. Aku coba menyiapkan diri untuk menghadapi kemacetan di jalur kami. Sejak hari2 sebelumnya sudah banyak informasi tentang acara-acara yang akan digelar di kota tercinta ini di akhir minggu ini. Mulai dari acara besar2an Braga Festival, acara moge, acara wisuda ITB, sampai berbagai acara2 raramean sudah dishare malang melintang di media sosial. Seolah Bandung ga punya batas kapasitas tampung maksimal, tapi aku juga jadi bertanya-tanya apakah sekarang untuk penyelenggaraan suatu event tak lagi perlu ijin, atau pasti diijinkan? Ntah lah ya.. pada bagian itu, siapa juga yang bisa memberi jawab jujur.

Kali ini kita butuh 2 setengah jam untuk sampai, 2 jam merayap dari gandok sampai sulanjana. Di paruh jalan menyusur Dago, ketika waktu mulai kegiatan Gio sudah tinggal 5 menit, malah aku yang menjadi gelisah dan akhirnya kehilangan kesabaranku. Karena terasa sekali konyolnya sebab dan akibat kondisi lalu lintas ini. Sebentar2 suara sirene diikuti deruman dan klakson khas motor besar yang merasa perlu diistimewakan, barangkali karena mereka sedang punya hajat atau karena mereka punya tangkringan yang kesannya doang keren, memaksa kami2 yang sedang antri untuk memberi jalan, ntah harus kemana juga karena memang tidak bisa bergerak kemana2. Ga bisa lagi memaksa diri untuk mensyukuri waktu bersama anak sulungku. Aku mulai ngedumel, marah2 sendiri, (karena yg dimarahin di luar mobil ga bakal denger juga 😀 ) mengata-ngatai pengemudi lain yang kurang sigap, sampai aku melihat pada Gio yang sambil nyengir bilang, “Sabar ma..”  😀 Duh malunya.. “Gio kok ngetawain mama siiih..” aku ga terima, sambil akhirnya ikut tertawa.. menertawakan kekonyolanku sendiri.. Ketika akhirnya kita sampai, sebelum dia turun aku bilang “Gi, maap ya, tadi aku ngaco banget.” Gio membalas dengan nyengir kudanya, memaklumi, lalu pamit keluar mobil.

Baru saja dapat artikel dari sekolah tentang keteladanan yang perlu dihidupi lewat sikap2 kita di keseharian sebagai orang terdekat anak. Jadi berasa enggak banget aku teh 😀 Bukan ga pernah marah sih, tapi marah2 ga jelas seperti tadi ya emang ga ok bangeet. Beruntung sekali karena sebaliknya dari aku, sikap Gio dalam menghadapi aku, dalam menghadapi kemacetan yang bikin dia terlambat 50 menit, malah ok banget.. 😀 hehehe.. Di sore itu aku mendapat teladan penting dari anakku.

Makasih ya Gi 🙂

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s