their happy is too loud

At one of  ‘We Bought a Zoo’ movie scenes;

Rosie Mee : “Daddy, I can’t sleep. The neighbor’s again. [The cheering of the neighbors]  Their happy is too loud..”

Rosie ga bisa tidur, tetangga mereka sedang berpesta hingar bingar hingga larut malam, ga ada lagi mommy yang menemani dan meninabobokan dia. Daddy hanya bisa menghela nafas panjang dan memeluk Rosie hingga ia bisa tidur, sambil memperhatikan polah para tamu pesta tetangganya dari jendela. Seolah tak ada yang salah, beberapa dari mereka bahkan melambaikan tangan pada si daddy, just to say hi. Dan dari kacamata si tetangga memang ga ada yang salah sih. They’re just having a good time, being happy, enjoying themselves. Dari kacamata Rosie, dengan kondisi yang sedang tidak nyaman, apa yang dilakukan tetangganya itu kebayang sangat mengganggu. Statement –nya ‘their happy is too loud’, buat aku adalah versi jujur seorang anak yang merasa terganggu oleh hal-hal yang dilakukan orang lain disekitarnya.

Sepertinya kita juga sering berada pada posisi mereka, either sebagai Rosie atau ayahnya; bukan sirik ya, merasa terganggu aja, seringkali karena diri kita juga sedang dipenuhi oleh berbagai hal yang harus dihadapi. Sehingga hal-hal yang meski mungkin minor dan tidak berkait, namun karena tidak sejalan jadi terasa sangat mengganggu. Atau mungkin pada posisi sebagai tetangga Rosie dan tamu-tamunya; yang bukan ga berempati juga kali ya. Kalau ga kenal, ga relate, bagaimana juga mereka bisa tau kondisi dan perasaan Rosie. Setidaknya pada kasus ini sekedar mempertimbangkan bahwa di rumah tetangga ada anak kecil yang butuh istirahat cukup pada jam tidur.. mungkin ya?

Happiness supposed to be contageous, menular, membuat orang lain juga ikut senang. Tapi bahagia macam apa yang bisa demikian? Pastinya bukan bahagia yang berpusat pada kesenangan sendiri, dan tidak mempertimbangkan kondisi, pikir atau rasa orang di sekitarnya. Disadari atau tidak, proklamasi kebahagiaan macam ini salah-salah malah menimbulkan banyak efek negatif pada orang di sekitarnya. Mungkin bahagia yang bersumber dari rasa syukur, atas hal-hal baik yang berlangsung di keseharian, atas hal-hal indah yang ada dan terjadi di sekeliling kita, akan lebih terbaca dan terpancar tulus.

By all mean, let us all be happy, yet considerate 😉

.

Iklan

4 thoughts on “their happy is too loud

      • sy sudah mencoba kak Ine,….ngak terlalu atau bahkan ngak berhasil sih kalau sekaligus aware. karena kebahagiaan kita kadang belum tentu dipahami oleh orang lain dan bahkan bisa jadi orang lain berasa ter-enyek. bahagia itu personal/kelompok sih. kalau penderitaan/kesedihan biasanya universal. cara bahagia adalah cuek dengan awareness.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s