joa

… setelah reuni JOA 9 Juni ’13, pertemuan menarik beberapa anggota JOA, saudara ‘Saguru saelmu’ 😉 dari angkatan 1958 sampai angkatan 2001..

Besar di sekolah katolik, aku sempat bergabung di sebuah kepanduan katolik. Joan of Arc atau Jeanne d’Arc adalah nama santa pelindung kami. Awalnya ga ngerti siapa dia, tapi setelah mengetahui sejarah dan perjuangannya, jadi bangga menyandang sebutan anak Jeanne d’Arc.

Joan of Arc (1412 – 1431), adalah seorang gadis Perancis yang menjadi pahlawan negaranya. Pada masa itu Perancis berada pada titik terendah dalam sejarahnya. Perang 100 tahun yang berlarut-larut membawa rakyatnya pada kesengsaraan. Raja Charles VI yang memerintah Perancis saat itu menderita penyakit jiwa dan sering tidak mampu melakukan tugasnya. Raja Inggris, Henry V memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk menguasai Perancis. Joan of Arc adalah anak seorang petani dari kota kecil terpencil Domremy. Joan tidak mengenyam pendidikan, dan masih berada di usia kanak-kanaknya (12 thn) ketika mendapat vision dari Tuhan untuk mengusir Inggris dan membawa putra mahkota Charles VII ke Reims untuk diangkat menjadi raja.

Kebayang ga seorang gadis belia di abad pertengahan, mengajukan diri untuk  memimpin pasukan perang merebut kembali wilayah Perancis yang dikuasai Inggris dan Burgundi. Joan memotong pendek rambutnya [sementara pada masa itu, memotong rambut bagi perempuan adalah sebuah tabu yang sudah berlangsung berabad-abad], menggunakan baju laki-laki dan zirah, berkuda, membawa pedang dan bendera Perancis, memasuki medan perang memimpin pertempuran demi pertempuran. Pada kenyataannya Joan berhasil memimpin pasukannya melalui rangkaian kemenangan yang luar biasa yang membalikkan keadaan peperangan. Sampai akhirnya ketika bertahan menghadapi kepungan pasukan Inggris dan Burgundi, sebagai kode kehormatan Joan bertahan sebagai orang terakhir yang meninggalkan medan pertempuran. Ia ditangkap, ditawan, kemudian diadili dalam pengadilan berbau politis yang diadakan Inggris atas dakwaan melakukan bidah. Dalam pengadilannya Joan menunjukkan intelektualitasnya. Berbagai pertanyaan menjebak diajukan, namun mereka yang menginterogasinya berbalik menjadi takjub dengan jawaban Joan sampai-sampai menunda proses interogasi. Sejumlah pejabat pengadilan belakangan mengakui banyak transkrip yang diubah untuk menjatuhkan Joan, banyak petugas pengadilan ditekan bahkan mendapat ancaman dibunuh pihak Inggris. Joan yang buta huruf terpaksa menandatangani dokumen yang tidak ia pahami, dengan ancaman eksekusi langsung. Dalam pedoman interogasi, seharusnya Joan ditahan di penjara agama dan diawasi oleh biarawati. Namun pihak Inggris menahan Joan di penjara umum dan dijaga oleh prajurit Inggris. Akhirnya penguasa Inggris setempat berhasil menurunkan perintah untuk menghukum Joan dengan dibakar hidup-hidup di Rouen.

Dua puluh empat tahun kemudian setelah Inggris berhasil diusir dari Perancis, Ibunda Joan mengajukan pengadilan ulang untuk membuka kembali kasus Joan. Dalam proses penyelidikan panel ahli teologi menganalisis kesaksian 115 saksi mata, hingga berhasil menggugurkan dakwaan terhadap Joan, dengan simpulan akhir yang menggambarkan Joan sebagai martir, pengadilan memutuskan Joan tidak bersalah. Pada tahun 1920, Paus Benediktus XV melakukan kanonisasi terhadap Joan of Arc.

Joan bukanlah seorang feminis. Ia bertindak dalam lingkup tradisi keagamaan yang percaya bahwa orang dari strata sosial manapun dapat terpilih dan memperoleh panggilan rohani. (Wikipedia, Joan of Arc)

Joan_of_Arc-Notre_Dame (2)

statue of Joan of Arc in Notre Dame de Paris Cathedral

Aku bergabung dengan Bandung 06 sewaktu duduk di kelas 3 SD. Saat itu pramuka belum jadi kegiatan wajib / ekstra kurikuler sekolah, dan kegiatan lain di luar sekolah pun rasanya belum banyak pilihan. Jadilah latihan setiap Sabtu sore menjadi kegiatan yang paling ditunggu setiap pekannya. Ketika baru masuk, aku ingat benar bagaimana teman-teman yang sudah lebih dulu bergabung sangat menjaga dan mengasuh kita yang baru, layaknya adik bungsu, sekaligus membantu menyemangati untuk berani coba dan memberi tahu banyak hal yang pastinya belum aku ketahui. Jadi respek dan kagum sama mereka. Segera tertanam keinginan untuk kelak menjadi kakak / teman yang baik juga bila nanti aku dapat kawan baru. Sanggar tempat kita berkumpul terbuat dari log kayu hitam, [yang kalo nyender, baju ikut jadi hitam 😀 ] semacam rumah kayu yang biasa ada di tepi hutan atau danau gitu.. kebayang ga kerennya 😉 Setiap latihan dimulai dan diakhiri dengan upacara bendera. Dan ntah kenapa, ikut upacara disini memberi rasa bangga tersendiri, jauh lebih bisa dihayati daripada upacara SD setiap hari Senin yang bertahun-tahun wajib diikuti. Tertanam dalam diri, bagaimana kita harus menghormati bendera merah putih. Mulai dari belajar melipat dan menyimpan bendera dengan benar. Seragam lengkap hanya bisa didapat setelah dilantik, usai menuntaskan serangkaian ujian dengan inisiatif sendiri, tidak instan menjadi atribut saat kita bergabung, membuat kita merasa bangga saat berseragam lengkap. Apalagi ada aturan ga boleh jajan kalo pakai seragam. Awalnya berat banget, tapi ternyata tidak hanya untuk menghormati seragam dan institusi pramuka itu sendiri, tapi juga cara melatih diri menahan keinginan. Alat inspeksi yang perlu dibawa setiap minggu mulai dari tali pramuka, alat tulis, alat menjahit, gunting, peniti, lilin, korek api, mitela, dll., diperiksa kelengkapannya setelah upacara. Sempat bertanya-tanya, ngapain sih musti bawa barang-barang kayak gini. Namun kemudian terjawab sendiri.. kadang benda-benda itu memang menjadi alat saat bermain atau berkegiatan, tapi lebih jauh, kelengkapan yang tampak remeh itu mengajar kita tentang kesadaran akan kesiapan diri dan tanggung jawab pribadi.

Saat menjadi anggota barung [sebutan kelompok di tingkat Siaga yang ditandai dengan nama warna] kita bertanggung jawab terhadap kelengkapan dan kesiapan diri sendiri. Seragam bersih dan lengkap, kuku bersih dan pendek. Kalau diingat lagi, dari hal-hal rutin ini ternyata banyak hal yang terbangun memang. Belajar mengenai tanggung jawab, belajar mandiri, sesuai jenjang usia kita. Saat menjadi ketua barung, tanggung jawab kita juga meningkat, karena anggota barung menjadi bagian dari tanggung jawab ketua.

Berbagai permainan bersama, individual atau antar barung membuat kita berinteraksi dalam berbagai bentuk dinamika kelompok. Ada waktunya berusaha sendiri, ada waktunya berusaha untuk barung kita, ada waktunya berusaha bersama-sama. Kalah dan menang adalah bagian dari dinamika itu. Yang menjadi penting, kita mengusahakan yang terbaik dan lebih penting lagi kita jadi lebih mengenal pribadi teman ataupun kemampuan kita sendiri.

Di tingkat Siaga ini aku ngalamin masak sendiri untuk pertama kalinya, Persami di sekolah untuk pertama kalinya, termasuk mempersiapkan barang dan kelengkapan sendiri. Ikut berjualan kue dengan sepeda dari rumah ke rumah untuk galang dana sebelum berkemah. Juga mulai ikut camping ke beberapa tempat yang mulai jauh.

Berbagi sanggar dan lapang berlatih antara Siaga, Penggalang dan Penegak juga ternyata ada pengaruhnya. Selain dapat referensi sikap dan peran, latihan seru yang dilakukan kakak-kakak di tingkat lain membuat kita tertantang, antusias untuk naik tingkat.

Meski ketika waktunya naik tingkat [kelas 6 SD tingkat Penggalang], karena kedekatan dan kekompakan dengan teman-teman setingkat sudah terjalin sangat baik, menjadi berat untuk naik. Kenaikan ga bisa ditawar, tapi kita juga tahu di penggalang nanti akan asik juga. Dan nyatanya kenaikan tingkat juga menjadi salah satu momen berkesan. Belajar menempatkan diri, berani menantang diri, bersiaga (allert), menyadari sepenuhnya bahwa di tingkat baru ada hal-hal baru yang perlu kita bangun terus. Sebaliknya sama juga saat giliran teman kelompok yang sudah akrab harus naik tingkat, kita juga merasa sedih, kehilangan, khawatir juga. Apalagi kalau yang naik itu ketua atau anggota regu yang rasanya udah ok banget, waduuh gimana nanti regu kita tanpa mereka ya.. Tapi disini canggihnya sistem pramuka itu [meski saya kurang tahu persis bagaimana sistem pada pramuka lain] proses yang kita jalani bertahun-tahun itu sepertinya membawa kita secara alami siap untuk terus naik tingkat. Ada siklus kecil dan akrab yang kita jalani tanpa terasa, tapi ibarat spiral, siklus itu membawa kita terus berproses; belajar lewat mengamati, mengalami, mendapat informasi, kemudian mengasuh, memimpin, mengambil keputusan, membantu, membangun, lalu naik tingkat, kembali belajar kemudian memimpin pada level yang berbeda.

Di Penggalang, sebagai anggota regu yang baru, kita belajar rutin dengan bentuk dan tanggung jawab yang berbeda; formasi, upacara, sudut, loog book, alat inspeksi, bendera regu, latihan regu di luar hari sabtu. Mungkin sejalan dengan tahapan usia juga, setting regu di tingkat penggalang terasa jauh lebih dinamis. Struktur organisasi kecil yang ada membuat kita dengan mudah mempelajari porsi dan tanggung jawab dalam satu organisasi. Ketua, wakil, bendahara, pratama, dll., serius tidaknya menanggapi dan menjalani tugas tentunya tergantung masing2 individu. Tapi bila ditilik kembali, ternyata disini kita banyak belajar tentang organisasi.

Kegiatan rutin mingguan sangat bervariasi. Mulai dari kegiatan fisik yang seru, dan perlu ketangkasan, game2 asik, kegiatan yang mengajarkan keterampilan baru seperti tali temali, P3K, masak, berkreasi, kegiatan asah logika dan ingatan seperti sandi, morse, semaphore, kegiatan ekspresif, kegiatan yang membutuhkan wawasan dan pengetahuan umum, kegiatan yang membangun kemampuan di alam seperti cari jejak, buat api unggun, bangun tenda, belum lagi referensi lagu2 yang masih santun dan bagus terutama secara lirik, dllsb. Iya ya, kalau diingat2, banyak sekali yang bisa disasar dan dicapai lewat kegiatan pramuka dulu, dan yang mengagumkan hal ini dikemas dengan cara yang seru, mengasikkan.

Kalau di-refresh, banyak juga keterampilan hidup yang kita dapat. Ga semua orang menangkap hal yang sama tentunya. Bagi aku sendiri nilai-nilai seperti tanggung jawab, kemampuan mengatur diri, kemandirian, dll, merupakan nilai yang aku pelajari ketika bergabung disitu. Tapi ternyata kalau diresapi dari fragmen2 kecil berbagai kegiatan, banyak juga hal-hal menarik yang bisa kita dapet.  Waktu berbagi cerita, seorang teman bilang, “Eh, gara-gara pramuka loh gw jadi tau kalo nyuci itu, gelas dulu, baru piring terus peralatan masak, supaya ga semua jadi berminyak”. Wah iya ya untuk ibu-ibu rumah tangga, ketrampilan praktis seperti itu pastinya berguna. Aku sendiri masih terus menerapkan ketrampilan packing, terutama saat bepergian luar kota dan terasa sangat berguna ketika pergi bersama anak2 saat mereka masih balita. Senang sekali bisa pergi seringkas mungkin, namun kebutuhan tetap tercukupi.

Setelah naik dari penggalang, aku tidak lagi terlibat aktif dan memang saat itu terjadi banyak perubahan [sempat diminta menjadi pramuka sekolah, berubah nomor Gudep menjadi Bandung 26, kehilangan sanggar, hingga kemudian pindah markas]. Namun aku terus bangga sempat menyandang nama JOA, termasuk slogan yang dikenalkan oleh pembinaku; ‘Be Prepared’, hingga sekarang terus menjadi mottoku.

Tahun pertama kuliah seorang teman mengajak aku dan beberapa teman yang masih bersemangat untuk membantu membina Bandung 06 yang saat itu sudah pindah markas dan menjadi Bandung 20. Meski sudah bertahun-tahun mengikuti kegiatan pramuka, namun ternyata menjadi pembina bukanlah hal yang mudah. Perlu mempersiapkan kegiatan, kreatif mengolah dinamika dan sasaran dari masing-masing kegiatan, dan dengan sadar menempatkan diri sebagai kakak pembina, juga kemampuan menghantar kegiatan atau membangun suasana supaya bisa asik. Berbagi tugas dengan teman-teman sesama pembina yang masing-masingnya juga punya kewajiban dan tanggung jawab lain, sangat membantu meski tetap harus meluangkan waktu dan pemikiran. Meski demikian, asiknya juga banyak, terutama saat berhasil mengajak adik-adik berkegiatan seru, saat mereka bersemangat, kita juga jadi semangat. Kita terus berusaha untuk menerapkan apa yang kita ketahui dalam kegiatan saat itu; latihan rutin dengan kegiatan yang bervariasi, persami, camping.

Tapi jujur aku pribadi merasa ga sepenuhnya puas. Ada nilai-nilai, aura / suasana yang terasa sangat berbeda dengan yang aku rasakan saat berlatih dulu. Dipahami benar bahwa banyak hal sudah berubah. Tempat dan lingkungan berlatih yang berbeda atau nilai-nilai yang mulai bergeser, banyak berperan dalam terjadinya perbedaan tersebut. Mungkin juga bekal aku secara pribadi [atau mungkin kita saat itu] untuk menjadi pembina memang belum cukup. Dilihat sepintas saja, banyak sekali hal-hal sebenarnya bisa dihantar. Tentunya hal ini perlu didukung either oleh pembina yang sudah sangat mumpuni atau tim pembina yang cukup kuat. Hanya beberapa tahun membina, kemudian aku mundur. Namun aku merasa sangat bersyukur bisa mengalami paruh waktu yang sedemikian mengasikkan.

Saat kemudian JOA diputuskan bubar, rasa sayang tentunya ada, terutama mengingat begitu banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang bisa didapat dari organisasi ini. Namun di sisi lain kita seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa mau tidak mau dibutuhkan regenerasi untuk bisa maju, terutama dalam hal nilai-nilai yang dianut para pembinanya dan nilai-nilai yang ingin diteruskan pada para anggotanya. Dan tampaknya memang sulit bagi kita saat itu untuk mengubah frame tentang Bandung 06 yang sudah melekat kuat.

Bahwa kemudian Bandung 20 saat ini bisa terus berjalan dalam bentuk dan kemasan berbeda, di bawah para pembina baru, sangat disyukuri. Mungkin memang ini adalah jalan terbaik, karena tampaknya memang regenerasi secara keseluruhan seperti itulah yang diperlukan untuk bisa berjalan terus. Tentunya dengan harapan bahwa semua remaja putri yang sekarang dan kemudian bergabung di Bandung 20 bisa juga mendapat pengalaman dan pelajaran yang menyenangkan dan bermakna, meski mungkin dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan jaman. Terus maju adik-adik !!

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s