geges

Tubuhnya mungil, berambut pendek, kesan tomboy diperkuat dengan kaos dan celana pendeknya. Pembawaannya tenang dan percaya diri, matanya mengamati curious sekaligus antusias dengan kehadiran tamu di rumahnya. “Ini Geges,” bude Emil memperkenalkan namanya pada kita, kelompok Kiputih yang hari itu bertandang ke rumah Geges, di kompleks SOS Kinderdorf. “Geges pinter nggambar loh, tadi salah satu gambar yang teman-teman dapat itu buatan Geges loh..,” jelas bude Emil. Yang dipuji tenang dan acuh saja, sesekali mendekati dan bergayut manja pada ibunya.

Suka banget aku sama sosok Geges. Gambaran anak yang sangat terpenuhi, tercukupi, khususnya dalam hal perhatian, rasa aman, rasa nyaman. Bukan tipe anak yang perlu bertingkah aneh-aneh untuk mendapat perhatian, bicaranyapun tenang, seperlunya. Geges sudah kelas berapa bu? Aku bertanya penasaran sama ibu Susan, ibu pengganti Geges. “Kelas 1 SD, tapi hari ini lagi libur UN” jawab si ibu. ” Memang namanya Geges ya bu?” aku bertanya lagi, unik banget soalnya. “Hehe nama benernya itu Grace, jadinya dipanggil Geges.” Jelas si ibu. Oalah.. 😀 ternyata namanya anggun dan wanita banget.. Tapi melihat sosoknya, aku juga jadi merasa nama Geges lebih pas untuk dia 😀

Hari itu kelompok Kiputih berkesempatan outing mengunjungi teman-teman di desa Kinderdorf. Saat tiba disana, Ibu Emil menyambut kami dengan ceria. Mewakili lembaga SOS, beliau menyambut satu per satu dari kami sembari mengucapkan selamat datang. Kemudian bu Emil bergegas masuk ke kantornya untuk mengambil gambar karya Geges dan saudara-saudaranya serta souvenir kecil, juga buatan mereka sendiri. Setiap anak mendapat satu. Sambil membagikan, beliau menjelaskan tentang gambar teman-teman yang bertuliskan ‘Selamat Datang’,’Terima kasih Tuhan’  atau ‘I Love U’, serta bross kecil berbentuk bunga. How Thoughtfull..thank you 🙂

IMAG0325

Kemudian kami diajak berkumpul di ruang perpustakaan. Di depannya ada sebuah ruang terbuka, banyak adik kecil sedang bermain disitu. Beberapa sepeda digunakan bergantian. Sambil memperhatikan mereka, Ibu Emil yang menyebut dirinya bude Emil membuka kunjungan kita hari itu, menjelaskan tentang teman-teman yang tinggal disana. Di sini teman-teman dari berbagai daerah tinggal di rumah-rumah, bersama ibu pengganti. “Dari mana saja teman-teman itu bu?” Kak Wien mulai memancing. “Oh dari banyak tempat” jawab bude. Sambil menunjuk adik-adik kecil yang sedang bermain di depan, beliau menjelaskan, “Itu yang rambutnya keriting dari Flores. Ada yang tau dimana Flores itu?” Feta berusaha mengingat sebentar, kemudian menjawab, “Di NTT!”  “Wuih pinterrr…” bude langsung menyambut dan mengacungkan jempol. “Yang matanya sipit itu dari Jakarta, yang kembar itu dari Padalarang. Pokoknya dari mana-mana. Mereka sudah tidak punya papa mama..”  beberapa kepala teman-teman Kiputih langsung berputar, beberapa mata mulai membulat, perhatian mulai tertuju.. “Jadi mereka tinggal di sebuah rumah dengan seorang ibu pengganti. Tapi nda ada bapak pengganti, hanya ada ibu. Di sini teman-teman musti berbagi dan bergantian. Seperti mainan sepeda itu, nanti setelah beberapa putaran, musti gantian, nda bisa main sendiri.” jelas bude Emil.

“Coba, teman-teman di rumah kalo pagi bangun jam berapa?” Ada yang bilang jam 6, jam setengah 7, ada yang ga tau, ada juga yang mengaku jam setengah tujuh sudah di sekolah 😀 “Wah rajin ya.. teman-teman disini jam 5 sudah harus bangun, karena air disini hanya menyala selama 1 jam dan yang mandi ada 10 orang. Kalo kesiangan ga bisa mandi. Habis itu siap-siap sekolah, lalu semua jalan kaki ke sekolah. Yang sudah SD sekolahnya di bawah. Tadi teman-teman waktu mau masuk sini nglewatin sekolahnya, ada yang lihat?” Oh iya, iya, beberapa kepala mengangguk. “Nanti pulang sekolah juga jalan kaki, ga ada yang naik mobil. Pulang sekolah, makan siang, buat PR, main, nanti jam 3 sampai jam 4, air menyala lagi selama 1 jam. Teman-teman musti cepat menampung air, cuci piring dan gelas, cuci baju sambil mandi, siram tanaman, ngepel. Semua punya tugas. Yang besar bantu yang kecil. Yang kecil juga punya tugas sesuai kemampuan, nyuci kaos kaki atau baju dalam kan sudah bisa sendiri.”  “Disini semua musti berbagi; mainan, buku, barang-barang, makanan.. teman-teman di sini biasanya makan tahu dan tempe. Siapa suka?” Ada yang segera bilang suka, ada yang bilang aku mah ga suka.. “Wah kalo di sini ga bisa pilih-pilih. Kalo nda mau ya nda makan.” Beberapa mata membelalak.. “Nanti kita lihat rumahnya ya.” kata bude.

Kemudian bude Emil mengajak kita ke rumah Dahlia. Disitulah kita bertemu Geges. Geges tinggal disitu bersama 9 anak lainnya yang menjadi adik dan kakaknya. Penghuni setiap rumah disana, terdiri dari seorang ibu pengganti yang mengasuh dan membesarkan hingga 10 anak dari usia baru lahir hingga dewasa. Komitment yang sangat luar biasa!! Tak habis pikir, aku lalu mengajukan pertanyaan konyol pada bu Susan, “Bu, kok bisa nyasar disini?” Ibu yang tampak sabar dan ramah itu tertawa dan menjawab, “Ga nyasar kok, memang mau disini, jadi dulu ya datang dan melamar.” Oops.. wrong question 😀 sebenernya yang ingin aku tanyakan itu, kok bisa ya ada orang punya niat dan komitment seluhur itu. Mengasuh dan membesarkan anak sendiri sih ya memang udah kudunya, dan ketika mereka semakin besar, beranjak dewasa, ya sudah. Tapi komitment yang diminta dari seorang ibu pengganti seperti ibu Susan ini, berlipat kali lebih dari itu. Bayangkan, terus mengasuh 10 anak hingga akhir masa kerjanya di usia 60 tahun. Ketika ada anak yang sudah bisa mandiri, entah bekerja atau menikah, mereka mendapat anak lagi. Kadang anak yang kemudian diasuh di sana adalah newborn yang baru berusia beberapa jam atau beberapa hari, kehilangan ibu, tanpa keluarga atau malah ditinggal begitu saja di rumah sakit. It breaks my heart to hear the story, dengan mudah aku bisa bilang kasihan.. tapi setelah melihat Geges dan teman-temannya aku bisa mengatakan bahwa anak yang dibesarkan di sana, adalah anak yang sangat beruntung. Mereka punya ibu yang selalu ada, hadir penuh untuk mereka setiap hari, sayang dan memperhatikan mereka sejak mereka bergabung di rumah itu, hingga mereka mampu berdiri sendiri. Belum lagi anak lain yang kemudian menjadi adik atau kakak, yang selalu ada untuk berbagi, bermain bersama, saling menjaga, saling mengajari. Aku sangat yakin Geges punya banyak kemampuan, sikap dan kebiasaan baik yang secara alami terbangun pada dirinya. Saat istirahat makan, kami minta ijin ibu Susan untuk makan disana. Teman-teman yang memang sudah mengeluh lapar, segera mengeluarkan bekal masing-masing dan duduk di meja makan. Kakak mengajak Geges bergabung, setelah mendapat snack dari ibunya, Geges duduk bersama teman-teman. Setelah doa bersama, Geges membuka kemasan kuenya, lalu spontan menawarkan pada teman-teman Kiputih sambil bertanya, “Siapa mau?” Meski sangat sederhana, tapi that is an amazing gesture!! suka bangeet.. 😀

“Geges kasi tau temen-temennya rumah Geges ya” pinta kak Suni setelah makan. Lincah Geges melangkah membawa teman-teman kelompok Keputih keliling rumah mungilnya, menjelaskan dan menjawab pertanyaan teman-teman. Geges berbagi kamar dengan beberapa saudaranya. Seperti kamar lainnya, kamar tidur Geges dipenuhi beberapa tempat tidur dan meja belajar, yang semuanya tertata rapi dan bersih. Geges membereskan dan membersihkan sendiri kamar dan barangnya. Ada ruang tempat berbagai kegiatan bersama dilakukan, makan, ngobrol, nonton, main.. “Ooh ruang serba guna ya..” demikian disimpulkan teman-teman. Pada dindingnya tergantung banyak foto Geges dan saudara-saudaranya di rumah Dahlia, serta piagam dan piala prestasi yang pernah mereka raih. Oh ya, rumah Dahlia yang kita kunjungi adalah rumah Katolik, terlihat dari salib dan gambar-gambar yang juga dipajang. Dari penjelasan ibu Emil, rumah-rumah disana memang dibagi dalam beberapa agama; Islam, Kristen dan Katolik.

Masih kagum dengan komitment yang diberikan oleh para ibu pengganti di sana, aku bertanya pada ibu Emil dari mana saja asal mereka dan bagaimana mendapatkan mereka. Secara, tugas dan kewajiban mereka tentunya tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan biasa. Penjelasan ibu Emil tak kalah mengagumkan. Menurut ibu Emil, itu adalah kiriman dari ‘yang di atas’. “Kalo dicari serius dengan pasang pengumuman atau iklan di media massa, nda pernah ada yang masuk. Tapi anehnya, saat sudah waktunya, misalnya ketika usia seorang ibu pengganti di sebuah rumah sudah mendekati usia pensiun, tiba-tiba saja ada lamaran masuk, dan biasanya sesuai kriteria, bahkan agamanyapun sesuai dengan rumah yang membutuhkan ibu pengganti tersebut.” Strange things do happened apparently.

Di perjalanan pulang, teman-teman mengungkap kesan mereka. Bintang ingin memberikan mainannya. “Aku punya banyak kak, nanti aku mau kasih.” Shea bilang suka, disana asik, tapi sedih ga ada mama dan papanya.. Untuk aku sendiri, berbagai rasa muncul, banyak hal menginspirasi. Bertemu Geges, aku belajar banyak hal hari ini. Mudah-mudahan demikian juga dengan teman-teman Kiputih.

Stay cool Geges.. ! .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s