opa

03 juni 03, 10 tahun yang lalu, tepat 7 hari setelah Obi lahir, opa; kakek dari ayah meninggal dunia. Opa merupakan figur kuat sebagai pusat dari keluarga ayah, bahkan setelah 10 tahun kepergiannya. Masih terus terasa, bahkan sangat kental, rasa hormat, respek,  juga rasa sayang anak-anaknya kepada opa. Memang opa yang aku kenal, opa yang aku ingat,  terasa sekali punya aura wibawa yang sangat kuat, hati yang sangat baik, perhatian yang sangat besar, dan hidup yang sangat sederhana.

Berkumpul dengan keluarga besar untuk memperingati 10 tahun kepergian beliau, terasa sangat indah. Meski tak semua mantu, cucu dan cicit bisa hadir, tapi aku merasa semakin mengenal opa, terinspirasi, dan sangat bersyukur bahwa aku sempat mengenal opa.

IMG-20130531-WA0003

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them.”

Berbagi cerita tentang opa, anak dan cucunya punya kesan mendalam dan sangat baik adanya. Dari babeh; satu kata yang menggambarkan opa adalah ‘sederhana’. Opa memang amat sangat bersahaja. Opa selalu bersepatu sandal. Barang-barang opa tidak banyak, benar-benar seperlunya saja. Opa juga ga pernah punya barang baru. Setiap mendapat hadiah, ia tumpuk rapi, untuk kemudian ia bagikan pada para guru di yayasan tempat ia bekerja. Saking sederhananya, setiap kali pergi ke Jakarta, mengunjungi anak atau menengok cucu, opa cukup memakai kantong kresek untuk mewadahi barang bawaannya. Tentunya anaknya kemudian memberi atau membelikan tas untuknya. Namun ketika kembali ke Jakarta, opa sudah pakai keresek lagi. Kalau ditanya, “Mana tasnya opa?”, “Sudah ta’ kasi ke guru-guru..” jawab opa 😀  Sempat pula terjadi, anak-anaknya berniat memberikan hadiah sebuah mobil baru di satu ulang tahun opa. Memang mobil fiat beliau sudah sangat tua dan cenderung bikin repot karena sudah rewel dan setiap pagi sebelum berangkat, perlu didorong-dorong dulu 🙂  Abangku, sebagai cucu paling besar waktu itu mendapat tugas membuat kartu ucapan. Dia membuat kartu bergambar mobil tua opa yang ancuur bangeet.. versi hiperbola, lengkap dengan ban copot segala 😀 Kemudian bersama kartu itu sebuah mobil corolla yang masih gress diberikan pada opa di hari ulang tahunnya. Tidak ada yang pernah menyangka reaksi opa. Beliau benar-benar marah. Menyentuh pun ia tak mau. Sedih dia berkata, “Kamu semua kok kayak ngga kenal aku..”  😦  Ah opa memang very special.  [o ya, baru tau di sharing hari itu, abangku yang saat itu masih kecil, bingung melihat semua itu, dan ternyata… dia juga sempat merasa bersalah karena menggambar mobil tua opa yang butut itu.. dia pikir opa marah karena gambar di kartu itu.. kasian si nday..]

Tanteku bilang, buat opa sekolah itu nomor satu. Mulai dari anak-anak sampai cucu-cucu, yang opa paling perhatikan adalah sekolahnya. Makanya punya cucu macam adik bungsuku dan sepupuku yang sekolahnya hare-hare, bikin opa deg-degan terus kali ya 🙂 Konon setelah pindah ke Bandungan di masa tuanya, setiap awal bulan Juni, opa tidak pernah lupa menelepon anak-anaknya, atau malah menyempatkan diri ke Jakarta untuk cari kabar mengenai hasil belajar cucu-cucunya, terutama yang 2 itu 😀 terharu ga sih. Cerita adik-adiknya, dulu setiap babeh ujian, opa selalu menunggu hasil dengan senewen, sampe ngga mau makan. Melihat itu adik-adiknya ga ada yang berani bikin opa kecewa, menjadi kesadaran bahwa mereka memang sekolah untuk bikin opa seneng. Kata babeh, “Biar jarang masuk kuliah, gw ga pernah sampe ga lulus”  ternyata yah si babeh  😀  Tapi memang tak terbayangkan bahagianya opa ketika satu anaknya berhasil menjadi dokter. Opa dengan amat sangat bangga, mengajak dokter barunya ini bertandang dari rumah saudara yang satu ke yang lain, menyampaikan kabar gembira sampai keliling Jawa Tengah. Meski sangat enggan tanteku yang satu itu, mau nda mau ikut, dengan dorongan dari adik-adiknya.. “Ayo, loe musti ikut, demi opa!”  Pantes, kalau ditilik-tilik, pilihan sekolah mereka tidak ada yang aneh-aneh. Babeh sendiri diikuti 2 adik bungsunya memilih bidang Hukum. 2 orang adik dibawahnya langsung mengikuti keinginan opa untuk jadi dokter, meski yang 1 karena menurut oma terlalu tralala dan kurang serius, sebaiknya jadi dokter gigi saja, dengan pertimbangan bahwa jadi dokter itu kalo salah pasien bisa mati, tapi kalo dokter gigi salah masih bisa bikin gigi palsu 😀 Adik laki-lakinya masuk seminari, (pilihan yang tentunya mendapat restu juga dari opa dan oma) meski kemudian tidak melanjutkan jadi pastor. Pada kenyataannya, yang kemudian melanjutkan bekerja di bidang yang sama hanya tante dokter saja. Ah pada akhirnya yang menjadikan seseorang berhasil itu bukan sekolahnya sih, melainkan pendidikan di rumah. Dasar yang kuat, dari nilai yang dianut keluarga dan referensi yang tepat dari orang tua, serta pengalaman yang kaya dan beragam.

Ketika kecil, buat aku opa itu serius banget.. [ih look who’s talking 😀 ] maksudnya, bukan type grandpa yang suka main dan ngasuh cucu. Setiap hari minggu sepulang gereja kami selalu mengunjungi opa. Jadi selain berkat dari romo di gereja, setiap minggu kami juga mendapat berkat dari opa, tanda salib dan cium di kening. Yang seru kalau masa libur sekolah, ketika semua cucu [waktu itu masih kecil-kecil, pastinya heboh dan berisik banget  😀 ] berkumpul di Bandung, di rumahnya. Meski senang, opa memang jadi mudah senewen. Kalau sudah demikian, biasanya kami semua disuruh pulang, “Ayo muleh, muleh.. ” katanya sambil tersenyum lebar  😀  Setelah besar, tidak banyak yang berubah dari relasi kami. Apalagi ketika sakit, opa lebih banyak di Jakarta atau berobat di luar. Meski tidak banyak bertemu, opa selalu mencari tahu dan mengikuti perkembangan masing-masing dari kita. Aku ingat benar, ketika aku baru menempati rumah sendiri, meski baru selesai operasi saat itu, opa menyempatkan diri untuk berkunjung, pingin liat rumah ine katanya.. :’) [= mau liat bagaimana keadaanku]  jadi kangen sama berkat dan sapaan khas opa, “piye kowe?”

.

Iklan

2 thoughts on “opa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s