noah

Seperti aku mendapat Gio, aku yakin demikian pula perasaan Tali saat mendapat Noah sebagai bintang dalam kehidupannya. Pastinya berbagai rasa bercampur aduk saat anak pertama akan hadir dalam kehidupan kita; kadang penuh sukacita, penuh bangga, kadang penuh harapan besar, kadang penuh keinginan dan imajinasi, namun tak jarang juga penuh kekhawatiran, atau keraguan. Sejak saat ia lahir, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, berbagai moment indah, lucu, menyenangkan, menyedihkan, membuat gemas, membuat haru, dll., pastinya terekam dalam lubuk seorang ibu.

Terus terang dengan figur, gaya, dan pembawaannya yang sangat tomboy, dulu aku ngga pernah membayangkan Tali dalam posisi sebagai seorang ibu. Tali dan aku adalah teman satu sekolah sejak TK. Tali yang tomboy mulai sedikit berubah menjadi girlie di SMA, ketika kita jadi dekat dengan teman cewe-cewe yang centil buanget, dan sempet gandrung goyang jaman disco gituh ūüėÄ ¬†Saking centilnya ga pernah ngebayangin juga bakal masih merasa dekat dan sayang sama mereka sampe sekarang, setelah lebih dari 20 tahun berlalu.¬†Dibilang sering ngumpul juga ngga. Susah bangeet ngumpulinnya. But we always share news, good or bad, happy or sad through our lives. Lepas SMA, ketika sudah mulai pada kuliah, punya cowo, masing-masing sibuk dengan kehidupannya sendiri, yang kayaknya juga mulai lebih menarik. Terus one by one got married, have kids, dan menjalani hidup yang penuh ups and downs. Kita mulai saling mencari, merasa perlu bertemu lagi.. (tapi seriusly gals,¬†kalo udah ketemu eloe-eloe pade, rasanya ringan dunia. Padahal kayaknya isinya ketawa ketiwi doang ya ūüėÄ )¬†Bisa ketemu barang beberapa jam sesekali ternyata worth banget, sepertinya bisa jadi obat stress paling manjur. Dari antara kita ber-5, Tali adalah satu-satunya yang setelah menikah pindah ke Jakarta. Kita beruntung karena keluarganya masih di Bandung, jadi Tali masih cukup sering pulang kampung. Walaupun tetap saja¬†setelah anak-anak semakin besar, aku dan Tali hanya sesekali bertukar cerita, biasanya tentang kesulitan dia mendampingi Noah belajar. Medio 2011, tiba-tiba Elle menelponku tengah hari, hari kerja pula. Langsung terasa was-was, “Ne, udah denger kabar dari Tali?” “Belum le, ada apa?” Segera Elle bercerita tentang apa yang¬†terjadi pada Noah.

Prolog: 27 November ’99.¬†Noah lahir, dengan semacam bercak, seperti tanda lahir di badannya yang disebut cafe au lait (warna kopi susu). Konon hal ini disebabkan karena adanya mutasi genetik dari campuran kromosom antara ibu dan¬†ayahnya. Bahwa tanda lahir itu sebenarnya Cafe au lait¬†baru diketahui di tahun 2005, di usia Noah yang ke 6. Ternyata tanda cafe au lait ini menyebabkan Noah¬†mempunyai Neurofibromatosis [NFS] – penyakit saraf yang ¬†menekan bagian tubuh tertentu. Ketika saat itu dilakukan MRI, tidak tampak suatu yang mencurigakan, Noah¬†masih dinyatakan sehat, bertumbuh secara normal sesuai anak seusianya. Dilakukan juga bone survey, yang hasilnya juga dinyatakan normal. Satu hal yang diingatkan dokter saat itu, bahwa NFS dapat menyerang tubuh dalam bentuk tumor, dan ini bisa terjadi pada tubuh, mata atau kepala.

This story shared by Noah’s mom July 5 ’11. 4 Minggu lalu, tiba-tiba saja jalan Noah seperti diseret, beberapa hari kemudian tangannya lunglai seperti lemah, tak bertenaga. Ini semua terjadi pada tubuh bagian kiri Noah. Khawatir akan hal itu, orangtua langsung membawa Noah ke dokter syaraf anak. Segera dilakukan EEG dan test pendengaran, karena kedua bagian itulah yang mempengaruhi keseimbangan tubuh manusia. Hasil kedua test ini normal. Dokter meminta agar malam itu juga dilakukan MRI. Dari hasilnya terlihat adanya massa, dokter menyimpulkan adanya tumor di batang otak sebelah kanan dekat pusat pernafasan. Dianjurkan untuk segera melakukan Radiotherapy. Masih dalam keadaan bingung, ragu dan cemas, orangtua mencari opini lain dari onkolog anak, yang menjelaskan bahwa NFS pada Noah memang menyebabkan adanya tumor di otak, dan juga menyarankan untuk segera melakukan radiotherapy. Onkolog tersebut menyampaikan bahwa tumor karena NFS umumnya menyerang otak dan sifatnya low grade. Disarankan untuk dilakukan radiotherapy. Sangat bagus bila dapat dilakukan operasi untuk mengangkat tumor ini. Namun ketika dikonsultasikan pada dokter bedah, tumor sebesar 3 cm yang tumbuh pada batang otak ini tidak mungkin diangkat dengan operasi. Karena letaknya di dalam batang otak (sebelah kanan). Bila posisinya di luar batang, masih akan memungkinkan untuk dilakukan operasi. Opini ke 2 mengenai operasi ini, dari dokter spesialist spine & brain, juga menyatakan sulitnya dilakukan operasi dan menyarankan radiotherapy dan chemotherapy. Opini ke 3 dari seorang neuro surgery juga menyatakan tidak mungkin untuk dilakukan operasi. Bahkan untuk biopsi saja, bisa mengakibatkan kelumpuhan, dropie (muka yg nampak turun) dan kebutaan. Ke 3 dokter yang menyatakan bahwa tumor dikepala Noah tidak dapat diangkat karena tumbuh pada batang otak dan dekat dengan lubang pernapasan, juga memprediksi bahwa tumor ini termasuk high grade, dilihat dari perubahan-perubahan drastis yang terjadi dalam rentang waktu singkat. Tubuh sebelah kiri Noah memang terus melemah. Operasi yg dilakukan dalam kondisi demikian malah dapat menyebabkan koma, bahkan membawa ke kematian. Kembali ke spesialis radiasi, ternyata dokter pun menyatakan bahwa radiotherapy dalam kondisi Noah sangat riskan, bisa terjadi penumpukan cairan di kepala karena tumor bisa membesar, dan mendesak otak. Harus dilakukan irigasi untuk mengeluarkan cairan dengan semacam selang. Namun dalam memasukan selang pun sangat riskan bila terkena saraf yang ada. Disampaikan agar tidak berharap banyak dari radiotherapy ini. Yang terbaik adalah melakukan tomography. Namun kemungkinannya sama juga, bila tumor tidak merespons akan membengkak dan mendesak cairan, dan sangat membahayakan bagi jiwa Noah. Sejauh itu semua dokter memperkirakan kanker ini ganas, dan andaikata radio/tomo berhasil, tidak ada yang dapat menjamin bahwa tumor ini tidak akan tumbuh lagi. 

Akhirnya Noah diberi obat chemo (obat minum) untuk sebulan, setelah itu akan dilakukan MRI lagi, untuk mengetahui respon tubuh terhadap obat chemo. Bila tubuh merespon positif akan diteruskan, bila tidak chemo akan dihentikan dan belum dapat diprediksi tindakan yang dapat dilakukan selanjutnya. 19 Juni, malam hari sebelum tidur Noah minum obat Chemo yang diresepkan. Keesokan harinya Noah muntah-muntah terus, tidak nafsu makan, dan kondisi fisiknya semakin parah. 20 Juni, obat chemo segera dihentikan, diganti dengan obat herbal dari seorang dokter alternatif. Disarankan juga untuk secara intensif mengikuti prana dan cikung, untuk membantu mengupayakan transfer energi baik dan membuang energi buruk. Sejak minum obat herbal ini, nafsu makan Noah sempat membaik, dan makannya cukup banyak. 22 Juni, Noah dibawa ke Cikanyere dan bertemu langsung dengan seorang Romo dan langsung didoakan. Namun secara umum, kondisinya terus menurun. Mata dan telinga kanan semakin kurang berfungsi, bicaranya semakin pelo, tangan dan kaki kirinya lemas, sehingga harus digendong, untuk dudukpun Noah harus disanggah supaya tidak oleng. Noah sering sekali muntah, saat bisa tidur ia sering tiba-tiba terbangun dan muntah.

Dalam kebingungan dan kekalutan, orangtua memutuskan tidak memilih tindakan, krn semua dokter pesimis, dan pilihan atas tindakan yang dapat dilakukan pun dapat mengakibatkan hal yang lebih buruk. Orangtua tidak tahu apa yang harus mereka lakukan secara teknis medis. Saat itu yang dapat mereka lakukan dan terus mereka upayakan adalah membuat Noah¬†happy. Meringankan sakitnya sebisa mungkin, memastikan agar posisinya saat tidur maupun terjaga tetap nyaman, menemani Noah melewati setiap detik dari perjuangannya.. meski tak ada yang bisa tahu berapa besar sakit yang Noah rasakan. Jarang sekali ia mengeluh, meski kentara rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. Ia hanya bertanya¬†“Kenapa ya ini aku begini.., ini aku begitu..?”¬†Noah yang berani, Noah yang kuat.. Tidak ada yang bisa tahu berapa lama lagi sisa waktu hidupnya. Bila memang ganas, bisa dalam hitungan hari. Bila ternyata¬†slow growing, mungkin Noah akan dapat bertahan hingga satu tahun. Akhirnya semua musti berserah, umur kembali kepada Tuhan, sambil terus berdoa untuk keajaiban.¬†Disamping membuat¬†Noah¬†happy, orangtua juga harus mempersiapkan mental untuk sewaktu-waktu kehilangan dia.¬†“Sedih sekali, kita tidak tahu apa rencana Tuhan, kami hanya minta kekuatan agar dapat menerima kehendak Nya”.

July 15 ‘2011, Setelah tubuh kecilnya berjuang dengan berat, akhirnya Noah dijemput ke rumah Tuhan. Hidupnya singkat, namun mengenal baik ayah apalagi ibunya, aku percaya hidup Noah sarat bahagia dan kasih dari keluarganya. Meski singkat, kehadiran Noah di tengah keluarganya, memberi banyak berkah dan kehangatan. Terutama bagi Tali, aku yakin bahwa fase hidupnya bersama Noah yang relatif singkat mengubah, namun sekaligus memberi banyak hal dalam hidupnya. Baru kali itu aku melihat Tali bercerita dengan penuh syukur, bangga, sekaligus pasrah tentang Noah, bintangnya yang aku yakin akan terus bersinar dalam dirinya. Selamat jalan Noah..

P1200137 P1200138

“No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories. And once the storm is over, you won‚Äôt remember how you made it through, how you managed to survive. You won‚Äôt even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won‚Äôt be the same person who walked in. That‚Äôs what this storm‚Äôs all about.‚ÄĚ (Haruki Murakami)

.

Iklan

2 thoughts on “noah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s