sim card empati

Setelah cukup lama terserang flu; batuk, pilek, sakit kepala yang ngga jelas kenapa, aku mulai kembali ke sekolah / gawe. Masih terasa dung-deng, masih batuk dan bindeng sih, tapi kelamaan istirahat di rumah bikin aku juga bosan dan malas untuk tinggal di rumah terus. Sementara di sekolah, setiap hari adalah baru, banyak hal bisa terjadi di luar dugaan. Lama tidak hadir membuat aku merasa kehilangan jejak dan alur dari berbagai kejadian baik berkait anak, ortu, kelas, kakak, program, dll. Meski kita sudah mengupayakan sistem smipa di awan yang memungkinkan masing-masing dari kita untuk dapat terus meng-update perkembangan yang terjadi secara on-line, ternyata pada kasusku, hal itu tidak terjadi. Beberapa kali saat istirahat di rumah, aku benar-benar mengalami hari yang tenang. No notification, no nothing..  Baru curiga saat aku tidak berhasil mengirim pesan kepada seorang teman. Waduh apa gerangan terjadi nih.. duh ternyata hp-ku ikutan sakit.  Benar saja saat tiba-tiba saja koneksi hp berjalan normal kembali, semua up date seolah bertumpuk, antri menunggu dibaca. Sampai bingung harus mulai lagi dari mana nih.. 😀 Tapi ya tak bisa lain selain bersyukur, dan bersetuju dengan rekan-rekan di kantor bahwa itu artinya aku memang harus istirahat. Ajaib juga kerja semesta ini.. Ketika ngobrol-ngobrol, salah seorang rekan koordinator berujar, “Wah bagus tuh sim-cardnya.. pake apa sih ne, mau dong, pengertian gitu.. bukan simpati lagi ya, empati kali..” 😀   “Jadi sakit apa loe teh ne?”   “Ga tau da ga ke dokter jg sih. Ada yang bilang mungkin kena flu 12 hari..”  (tapi aku ngga demam sih, meski kemudian sedikit banyak terpengaruh, dan jadi menghitung hari.) “Wah apaan tuh? Kenapa 12 hari?” “Hehe ga jelas, coba identifikasi aja. Konon ada yang disebut oleh para dokter flu sekian hari, tapi da kejadiannya memang setelah sekian hari itu trus membaik.”   “Oh, kirain ambil paket lusinan karena lebih murah..” 😀 wkwkwk..

Seringkali kita merasa sulit untuk melepas diri dari tanggung jawab yang kita emban. Meski untuk alasan yang sepenuhnya dapat diterima. Aku memang perlu istirahat, lalu bagaimana nasib peran dan tugas-tugasku? Satu hal yang aku pelajari adalah bahwa ternyata aku ga perlu ge-er. Life goes on, with or without me 🙂 semua terus berjalan dan menemukan jalannya. Percaya bahwa semua terjadi karena suatu alasan, dan semua akan menemukan jalannya sesuai yang diaturkan semesta. Kalaupun ternyata tidak, artinya ya memang hal itu memang menunggu aku untuk dituntaskan.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s