(merasa) udah gede

Minggu lalu Gio menyerahkan surat untuk ijin mengikuti ujian kenaikan tingkat kegiatan ekskul wushu yang ia dan Obi ikuti. Perlu diisi nama peserta dan pendamping yang akan ikut. Pada Gio aku ga lagi merasa perlu bertanya apa ia masih merasa perlu didampingi. Untuk usia dan pengalaman campingnya, rasanya Gio sudah sangat bisa. Jadi aku cuma tanya sama Obi.. “Bi, untuk ujian wushu mama perlu isi formulir ini nih, Obi masih perlu ditemenin ga?” Responnya diawali dengan membelalakkan mata, seolah mengatakan ‘Whaat??’ hehe trus baru dia jawab, “Ya ga usah atuh maa…, kan udah gede.”  Wakakaks, aku jadi ngerasa geli sendiri dengan respon dia.. Oalah anakku udah merasa besar ternyata.. Di mataku seringkali dia masih aja si kecil yang perlu terus didampingi..

Kadang sadar banget sih, kalo sikapku yang terlalu ngurusin malah yang bisa-bisa bikin dia ga mandiri. Mungkin pada dasarnya aku memang terlalu banyak meladeni dan khawatir terhadap mereka. Gio yang sekarang udah kelas 7, masih banyak perlu diingatkan untuk banyak hal; njemur handuk setelah mandi, naro baju kotor di tempatnya, menyimpan tumpukan baju bersih di lemarinya setelah selesai dicuci dan disetrika, mengembalikan barang pada tempatnya, sampai buang bungkus bekas meracik minuman sachet.. kok ya susaaah ya??  Pada dasarnya dia tau sih apa yang harus dilakukan, tapi tak kunjung menjadi kebiasaan, menjadi bagian dari dirinya. Kalau menurut seorang teman, ya ga bisa, karena dalam benaknya yang nempel itu; ‘ahh ntar juga bakal ada yang ngerjain..’ Iya juga ya.. kalau ga konsisten dibangun gimana bisa jadi terbiasa 😀

Di hari latihan terakhir sebelum ujian, aku titipkan pada Obi, formulir dan uang pendaftaran untuk diserahkan pada pelatihnya. Ekstra hati-hati aku berpesan supaya menyimpan dengan hati-hati, karena ada uangnya, dan supaya jangan sampai lupa menyerahkan, karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran. Malam harinya, di rumah aku tanya, “Bi, tadi formulir dan uangnya udah dikasi?” terbelalak lagi dia, kali ini seolah disadarkan, “Aah lupa ma.” Aku coba untuk ga mengubah nada suaraku.. “Coba diperiksa bi, masih ada ga..” Segera dia berlari mencari tas, mengambil dan menyerahkan kembali, “Nih ma, masih ada.” “Loh kok dikembaliin ke mama? Sekarang gimana nih, besok mama sih ga yakin kamu berdua bisa ikut, belum daftar dan bayar..?” Obi terdiam, Gio mulai merasa perlu menyalahkan, “Yah gimana sih Obi..” tapi singkat saja, lalu bisa segera mencari solusi instan sih, “Telp aja kak Egho-nya boleh ma?” “Ya dicoba aja, gih telpon.” “Tapi Obi yang ngomong ya” Gio menegaskan. “Iya, aku yang ngomong..” kata Obi merasa perlu memperbaiki kesalahannya. Sebenernya aku juga yakin, bahwa kak Egho pasti mengijinkan, karena pada dasarnya aku udah menyampaikan pada kak Egho bahwa mereka akan ikut. Namun aku tetap merasa perlu melakukan ini, supaya buat mereka tidak berkesan mudah lolos..

Saat membereskan ransel untuk ujian, aku coba untuk menahan diri membantu mereka. Tapi ya namanya baru mulai membangun, bagaimanapun perlu proses.. jadi aku bantu dengan mengingatkan seperlunya. Aku coba perhatikan apa saja yang sudah dan belum mereka ingat dan siapkan, minta mereka membaca kembali daftar barang yang perlu dibawa hingga semua tercentang.

Esok paginya, meski sebenarnya waktu berkumpul adalah 9.30 kita perlu berangkat jam 7.30, karena Obi kekeuh untuk tetap ikut ekskul futsal dulu, dan aku sendiri juga perlu datang ke pertemuan orangtua di sekolah. Setelah futsal aku dan Gio menjemput Obi, lalu sambil menjemput sepupunya yang akan ikut ujian juga, Obi ikut mandi disana. Baru disadari bahwa Obi lupa bawa baju ganti. “Bi, kemarin sudah siapkan baju ganti, disimpan dimana?”  “Oooh iya..”  😦  Dari ekspresinya aku tau dia sangat kesal pada kelalaiannya sendiri. “Ditaro di kamar ma..” “Jadi gimana dong bi, besok pulang pake baju apa?” Sejenak berpikir kemudian dia coba memetakan sendiri solusinya.. “Kaus bola ini aku bawa lagi aja deh ma, celananya juga pake ini lagi aja gapapa..” Ok deh, cukup solutif.. aku sendiri pun ga punya solusi lain, hopefully, ia belajar sesuatu.

Sampai di tempat ngumpul, sudah banyak teman-temannya yang hadir. Mereka bergegas menurunkan barang kemudian menghilang diantara teman-temannya.. Aku juga turun untuk menunggu keberangkatan mereka. Katanya mereka bakal naik truk tentara..  Wah pengalaman baru nih untuk mereka, pastinya tambah antusias. Bener aja, saking semangat, pesanku untuk segera menyerahkan formulir dan uang pendaftaran ketika sampai, jadi lupa lagi dehhh… Ahhh si Obi.. jadi perlu diingetin lagi deh.. 😀 gemess dehh..

Selesai pembukaan, semua diminta bersiap mengambil tas dan berbaris di dekat truk. Setelah mengambil barang-barangnya, Gio segera menghampiri aku untuk pamit, baru kemudian berkumpul dengan teman-temannya. Loh anakku yang satu lagi mana ya.. aku kok keilangan..  Mataku melihat Obi sudah siap naik truk dengan ranselnya.. sampai lupa pamit dia hehe.. Setelah duduk di dalam truk, memperhatikan hiruk pikuk dan kesibukan semua teman, pelatih dan pendamping yang ikut hingga beres, tenang dan siap berangkat, baru kayaknya dia inget belum pamit.. matanya mencari-cari, setelah menemukan aku, baru dadah-dadah dia.. bye bi.. be safe n have a good time!

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s