anne

“…Anne Nurfarina lulus dengan sangat memuaskan..” Hari Jumat, 29 September 2012, aku menghadiri sidang terbuka program S3-nya, meski sangat terlambat. Maaf ya nen… but, you’ve done it girl friend! Aku ikut bahagia dan terharu… 

Perawakannya mungil, rambut keriting yang khas membingkai wajahnya yang murah senyum.. Kali pertama aku bertemu dengannya pada hari pertama Penataran P4. Saat itu baru kusadari bahwa dialah satu-satunya teman perempuan di jurusanku. Jadilah dia teman terbaikku selama masa kuliah. Untuk aku yang berasal dari sekolah katolik yang isinya perempuan semua, masuk lingkungan kampus negri yang mayoritas cowo di studio, terasa sekali membutuhkan banyak adjustment. Dia inilah yang banyak membantu aku ‘memahami’ lingkungan baruku. Dia itu kocak banget, periang, seru, ceriwis, mudah akrab, banyak teman, suka nyanyi sambil main gitar… Aku yang cenderung diam dan serius, sangat menyukai pembawaannya yang selalu ceria, membuat aku lebih menikmati hari-hari di studio yang cenderung panjang.; jalan, jajan, main, ngobrol, curhat.. Kita bukan tipe mahasiswa yang rajin kuliah sih, tapi ya lulus juga.. dan pada dasarnya aku juga sangat mengagumi kemampuannya dalam berkarya.. Seperti pembawaannya yang unik, goresannya sangat mewakili dirinya.. luwes, mengalir, menarik.. keren lah! Singkatnya, bersyukur dan sayang banget sama anak yang satu ini, eh sekarang sih ibu dosen, ibu dari 3 mojang cantik yang sudah remaja 😀 Dan hari ini ia membuktikan potensi lain yang ia miliki, rancangan yang dibuat dengan ketulusan hati dan cinta, di tengah perjalanan panjang yang ia jalani.

Hari itu, melihat Anne berseri menerima keputusan atas hasil usahanya selama 5 tahun, tidak hanya membawa aku mengingat kembali Anne yang aku kenal, lebih jauh aku berusaha me-recall cerita-ceritanya tentang keluarganya, terutama tentang adik perempuannya, Elis yang  telah menginspirasi program doktoralnya; ‘Autism is not a Joke’, [Pengembangan Objek Menggambar melalui Metode Sensasi bagi Anak-anak Penderita Autis].

Image

Ia punya 2 kakak laki-laki dan 3 adik perempuan. Ia pernah bercerita tentang ayahnya yang seorang pegawai negeri dan berjiwa seniman, ibunya yang sangat bersahaja, dan adik-adik perempuannya. Salah seorang adik yang sesekali muncul dalam cerita-ceritanya adalah Elis. Cantik; berkulit putih, berambut hitam pekat namun memiliki kebutuhan khusus. [baru sekarang aku tahu bahwa nama lengkapnya adalah Lilis Amalia, dan baru sekarang aku melihat sosoknya dalam foto pada buku kecil hijau berjudul ‘Autism is not a Joke’ yang dibagikan pagi tadi]. Dari ceritanya aku tahu bahwa dengan kondisi Elis, tanggung jawab yang diemban Anne terhadap keluarganya sangatlah berat. Secara fisik Elis tumbuh semestinya, namun masih berprilaku dan perlu diurus sebagaimana seorang bayi, mulai dari makan, membersihkan diri, disaat BAB dan menstruasi. Karena benar-benar tidak terbayangkan, rasanya dulu aku lebih banyak speachless saat mendengar dia bercerita.

Pemahaman atas kondisi Elis baru mulai terpetakan lama setelah itu. Anne sempat bergabung di tahun pertama sekolah kita berjalan. Saat itu kami baru mulai dengan jenjang PG dan TK. Ada seorang anak yang memang memiliki kebutuhan khusus sedang mencoba untuk bergabung di TK-B. Ibunya dengan terbuka menyampaikan bahwa anak ini didiagnosa Autis. Salah satu bentuk kebutuhan khusus yang memiliki banyak spektrum. Menjadi sangat sulit bagi kami, karena memang kami bukan sekolah inklusi, kami tidak memiliki latar belakang dan kualifikasi untuk dapat merespon anak dengan kebutuhan khusus. Kita banyak sekali berdiskusi mengenai cara-cara dan pendekatan yang mungkin bisa dilakukan untuk anak ini. Aku ingat benar ketika itu Anne sempat mengatakan bahwa kalau saja dapat didiagnosa waktu masih kecil, tampaknya yang dialami Elis adalah autis, karena banyak prilaku ia perhatikan hampir sama dengan anak ini; tidak mau kontak mata, asik dengan dunianya sendiri, banyak melakukan gerakan yang diulang-ulang, dan echolalia. [Pada kasus Elis, disertai mental retarded dan motorik yang lemah karena hingga usia 10 tahun sering sekali mengalami kejang]  Untuk Anne, pemahaman ini membawa dia untuk terus mencari tahu dan mempelajari tentang autis.

Ketika Gio mengalami kesulitan belajar, dengan empati dan pengalamannya, Anne juga dapat memberikan sudut pandang lain yang membesarkan hati, bahwa Gio punya talenta lain yang akan membuat ia survive. Bener banget nen… anakku sekarang baik-baik saja, baik sekali malah 😀

Kesibukan dan tanggung jawab besar yang diembannya sebagai dosen dan ibu rumah tangga, dengan 3 anak yang mulai beranjak remaja, suami yang bekerja di luar kota, juga mengurus ibu yang mulai sepuh dan adik dengan kebutuhan khusus, tampak sangat menempa dia. Bagiku sangat manusiawi ketika ia tiba-tiba mempertanyakan maksud Tuhan menghadirkan Elis sebagai bagian dari keluarganya, sebagai warisan terbesar yang harus ia jaga..

“Ya Allah.. mengapa Engkau menciptakan seorang mahluk yang tidak berguna?” kalimat ‘jahat’ ini keluar begitu saja ketika saya, seorang ibu dengan tiga orang anak memandangi sosok adik tercinta, Lilis Amalia. (Autism is not a Joke, p.2)

Bukan tak sayang. Ketika ia menerima dan menghargai bahwa semua yang ia alami dan ada di kehidupannya ini secara khusus didesain untuk membentuk dirinya, ia merasa bahwa kemudian Tuhan memberi jawab atas pertanyaannya lewat serangkaian pengalaman yang membangun.

Dengan rasa cinta dan harapan besar yang pastinya berasal dari keluarganya, khususnya Elis, ia masuk untuk langsung terlibat dan berinteraksi dengan anak-anak autis. Lebih lanjut ia mengembangkan metoda mengajar dan terapi lewat proses kreasi seni. Beberapa tahun lalu aku sempat membawa anak-anakku dalam salah satu kegiatan mengisi libur yang ia adakan di sebuah studio keramik di Bandung. Aku bertemu dengan beberapa anak autis usia remaja yang menjadi muridnya, sekaligus ibu / orang tua mereka. Disitu, dari kacamata orang tua, aku melihat bahwa apa yang ia upayakan menjadi harapan besar bagi para orang tua anak-anak penderita autis ini. Sebagai validasi dan wujud nyata, proses pencarian dan penemuan ini ia kemas dalam proyek akhir program doktoralnya.

“Tuhan tidak semata-mata tanpa manfaat dalam menciptakan mahlukNya”. Tuhan tidak pernah punya rencana yang salah. Keberadaan Elis ternyata memberi kontribusi ilmu bagi saya, khususnya untuk melakukan sesuatu dalam membantu menangani anak-anak yang spesial ini. Berkali-kali saya memohon ampun, dan rasa sayang saya terhadap Elis semakin besar luar biasa.”  (Autism is not a Joke, p.15)

Aku tidak sepenuhnya mengikuti upaya dan perjuangannya. Seringkali kita saling kehilangan kontak. Namun dari waktu ke waktu, benang merah itu selalu ada, menunjukkan keyakinan dan konsistensinya. Perjalanannya masih panjang, masih banyak rencana dalam benaknya; mensosialisasikan metode pengajaran, mengubah mindset mengenai terapi yang pada dasarnya murah dan bisa dilakukan siapa saja, menerbitkan bukunya, dan yang pasti… meneruskan amanah yang diembannya.

Selamat ya nen..  Doaku untukmu, dan keluargamu; untuk Elis, Ibu, Uwie, Icha, dan Oris. Love you!

.

Iklan

2 thoughts on “anne

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s