pawon

Salah satu dari banyak hal asik yang bisa didapat kalau kita jadi kakak kelas adalah kesempatan pergi outing sama anak-anak. Iya ya, udah lama banget aku ngga dapet kesempatan itu. Ah, bener-bener nasib baik.. kelas 5 butuh kakak untuk nemenin outing di tema Negeri Bawah Tanah ini. Ya jalan dong… 😀  Lokasi tujuan, Gua Pawon di kawasan penambangan batu Padalarang. Ngomongnya doang orang Bandung, tapi baru belakangan denger adanya tempat exotic ini…

Seperti anak-anak kalau mau jalan-jalan, saking excitingnya jadi susah tidur malam sebelum jalan hehe…

Kita ngumpul jam 7 di sekolah. Berangkatlah aku dan 3 kakak lainnya; 1 kakak kelas dan 2 kakak lain yang sudah fasih benar dengan lokasi tujuan, serta 14 teman-teman kelas 5 yang tampaknya siap benar secara fisik dan wawasan tentang lokasi tujuan.

Masuk lewat salah satu tempat penambangan dan pengolahan batu di padalarang, kondisi tanpa hujan yang sudah berlangsung cukup lama membuat debu di kawasan itu cukup parah. Setelah parkir di dekat sebuah pabrik, Kakak ajak teman-teman untuk doa dan saling jaga. Teman-teman dibagi dalam 3 kelompok yang masing-masing difasilitasi oleh 1 kakak. Sementara aku sendiri mendapat tugas untuk dokumentasi global kegiatan, pengamat umum hehe… siap..

Kita mulai berjalan di tengah padang ilalang yang mulai mengering dan kebun-kebun. Tidak terlalu jauh, sungguh… belum jauh kita berjalan, mulai terlihat bukit-bukit dan gunung-gunung batu dengan bentuk-bentuk yang khas namun unik. Seperti masuk sebuah portal, tiba-tiba aku merasa berada di jaman dan dunia yang berbeda; lereng bukit dengan batu-batuan yang menyembul disana-sini, seperti jaman batu. Kakak membantu teman-teman membaca peta dari buku yang sudah mereka pelajari sebelumnya, dan memetakan tempat tujuan kita. Teman-teman segera sibuk mengeksplorasi lokasi pertama yang disebut Taman Batu / Stone Garden. Konon, pada jaman purba, tempat ini berada di bawah permukaan air, jadi batu-batu yang bentuknya aneh-aneh menarik ini adalah terumbu karang pada jamannya. “Wah kalo gitu kita lagi nyelam dong yah..”. “Kak, batu ini lucu banget, seperti jamban.. “ haha pingin ngakak, kepikiran gituh. “Kak, kak batu ini bentuknya seperti ikan hiu loh, kayaknya ini dulunya hiu..” Denger komentar teman-teman kecil kayak gini  emang suka bikin aku pingin ketawa sendiri.. hehe. Sayangnya di usia menjelang remaja gini, ada aja anak yang merasa ingin cepat dewasa atau merasa kudu ikut gaya yang sedang ngetrend, termasuk cara bicara dan berkomentar.. eh, eh, OOT ne!

Bersama kelompok masing-masing, teman-teman mulai menjelajah. Memperhatikan batu yang bentuknya aneh, menjajal naik turun, menyelidiki dan memasuki celah pada batu besar; menjadi penemu gua, mencari benda-benda aneh yang bisa ditemui, mulai dari gambar pada dinding batu, kerang, biji-bijian, siput..

Satu hal yang mengganggu adalah asap dari pabrik marmer yang menghitam. Pemandangan dari bukit pasir ke arah lembah yang seharusnya terlihat indah tertutup asap mengambang seperti kabut. Selebihnya, kita seperti berada di dunia kita sendiri. Seriously, kita ngga ketemu dengan satu orangpun selama disana.

Cukup lama kita disitu hingga puas menjelajah taman batu, teman-teman mulai resah bertanya, “Dimana gua-nya kak, kok ga ketemu-ketemu sih…?” sempat berteori dan adu argumen mengenai gua kecil yang mereka temui itu, hingga disepakati bahwa gua yang ingin kita tuju berada pada lereng yang lain.

Image

Wah lumayan juga, perjalanan ke lokasi kedua buat aku sih cukup berat.. hehe, ketauan yang jarang jalan mah.. untungnya, matahari bersinar secukupnya saja, tidak terik memanggang. Tampaknya medan yang cukup curam malah membuat teman-teman lebih memperhatikan jalan dan berusaha mengatasi tantangan, meski komentar dan candaan tetap saja jalan terus.

Memasuki pintu gua, mulai tercium bau khas guano, kotoran lelawa yang tinggal di sana. Beberapa teman sempat keluar lagi, “Ga kuat ka, baunya…” Kemudian kita coba masuk dan memetakan ruang-ruang dalam gua yang besar itu. Tak lagi terdengar keluhan tentang bau yang sempat menusuk tadi. Beberapa teman yang berbekal senter mulai menyalakan senter dan memeriksa buku yang mereka bawa. “Kok bisa ya orang dulu tinggal disini..” komentar salah seorang teman, menghayati.

Ternyata bentuk gua tsb. menyerupai sebuah kompleks, dengan ruang-ruang yang masing-masing diberi nama sesuai fungsi. Ada ruang anak, ruang tamu, beranda, hingga ruang keluarga. Udara di dalam terasa sejuk, banyak ruang terbuka yang memungkinkan udara segar masuk. Jendela-jendela besar memberi pemandangan yang benar-benar bagus. Apalagi kalau musim hujan bu, kata Kakak, semua hijau… waah aku sih membayangkan tinggal disitu, seperti berlibur di antah berantah kali ya… 😀  Setelah menyusur ruang-ruang dalam gua, Kakak memberi kesempatan teman-teman untuk memasuki celah atau ruang yang membuat mereka penasaran. Bergantianlah teman-teman memasuki ruang-ruang kecil yang ditemui..

Selesai eksplorasi, kita duduk di depan sebuah jendela besar untuk istirahat sambil menikmati pemandangan. Kakak ajak kita untuk hening, mendengar suara alam yang ada… Di luar dugaan, teman-teman yang sepanjang perjalanan sibuk nyerocos dan berkomentar segera diam, mencoba ikut… ada yang awalnya sempat resah atau cekikikan, namun tak lama semua bisa tenang… suara burung, semilir angin pada daun, suara kitiran bambu, sejuk, tenang… “Mau lagi Kak, asik…” komentar teman-teman setelah Kakak mengakhiri waktu hening tadi.

 Image

Dalam perjalanan keluar gua, teman-teman masih menunjukkan antusiasme dan rasa penasaran pada lorong yang belum sempat tersusur. Di luar gua, Kakak mengajak teman-teman melalui rute yang berbeda, meluncur turun.. Semua antri untuk coba, dari yang paling berani dan pingin tahu sampai yang merasa takut…akhirnya semua have a blast time! Aku sendiri coba turun, iiih malah akhirnya salah bertumpu pada pohon yang full duri pada batangnya… habislah telapak tangan kananku… untung sebelum pergi dibekali bawang merah dan pinset, oleh kakak kelas 6 yang sudah lebih dulu pergi dan dapat pengalaman kesusupan bambu.. 😀

“Aduh kak, kakiku udah ga kuat lagi…”. “Ini outing paling jorok kak.., eh salah, paling jorok tapi paling asik juga kak…” komentar teman-teman sebelum pulang kembali ke sekolah.

Di jalan pulang, teman-teman terus berkicau… sementara aku sendiri rasanya sudah kehabisan tenaga. Kembali menyusur jalan berdebu, berkabut abu, diantara tambang batu dan pengolahannya, yang menurut cerita Kakak sekarang dibakar dengan bahan bakar sisa kain dari pabrik tekstil, karena sulitnya dapat kayu bakar. Teman-teman terus sibuk berkomentar mengenai sebelnya mereka karena gunung dan bukit batu yang semakin habis ditambang. Ah, meski sudah rekat dengan budaya modern, ternyata mereka mengerti apa yang seharusnya dan tidak seharusnya terjadi… Walau kemudian di depan kota Baru Parahyangan mereka masih usaha membujuk Kakak supaya mau mampir ke Giant untuk beli Heavenly Blush… “panas kak…” 😀 namanya juga anak-anak…

Thank you for today! Highlight of my days!

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s