part 3; tentang teknologi

Buat aku, dealing sama kemajuan teknologi ini kok ya masih gampang-gampang-susah ya… Setuju banget bahwa teknologi memudahkan. Meski bukan gadget maniac, tapi kalo ada, membantu keseharian dan bisa dimanfaatkan, ya oke lah. Tapi di sisi lain, aku juga masih bersetuju dengan kesimpulan bahwa teknologi juga menumpulkan.

Dulu belum ada HP, kita dipaksa untuk memikirkan matang dulu semua kegiatan kita; pesan untuk mbak, mama, anak, bapak, sebelum pergi semua harus dibereskan. Sekarang mau pergi, yang penting HP di kantong, ga usah mikir-mikir, kalo butuh apa-apa, kan tinggal telpon.

Dulu belum ada email, atau sms. Kalau mau kirim pesan, surat, kartu, kita pikir baik-baik; kata-katanya, kertas surat atau memo, pilih-pilih atau malah bikin sendiri kartu yang cocok, baru dikirim pake pos. Sekarang ga pake mikir, tinggal kirim ‘met ultah ya’, ‘met natal ya’, ‘maaf lahir bathin ya’ lebih parah yang pake template, ga perlu kreatif-kreatifan lah.

Dulu jadi ibu kudu kreatif cari kegiatan atau permainan untuk anak yang bisa bikin anak occupied, apalagi kalo lagi di luar rumah atau di jalan. Ajak main, gambar, ngobrol, nyanyi… Sekarang kalo anak mau anteng, sodorin aja i-pad, asik sendiri deh dia..

Dulu kendaraan dijalankan manual, perlu proses belajar, melatih kepekaan untuk bisa lancar berkendaraan. Kalo ngga mahir, nyetirnya mantuk-mantuk, diketawain orang atau bikin celaka. Sekarang hampir semua automatic, tinggal tekan gas dan rem, ga perlu latihan lama-lama. Anak kecil yang kalo duduk di motor, kakinya aja belum nyampe, udah bisa merasa gaya, bermotor di jalan-jalan kompleks.

Dulu adanya peta dan kompas, perlu peka baca alam atau tanda-tanda di sekitar kita, kalo ngga ya nyasar lah… Sekarang dengan GPS, mau kemana-mana ga perlu mikir, tinggal ikut panduan… dst, dst…

Smooth n sure, teknologi mengambil alih berbagai kemampuan dan keterampilan yang mustinya kita miliki dan kita asah. Mungkin sebagai generasi peralihan, generasi aku masih diuntungkan dengan kesempatan mengalami dan belajar berbagai hal secara manual sebelum terjadinya perkembangan yang begitu pesat seperti sekarang. Maksudnya, kalaupun menikmati dan mengikuti perkembangan kecanggihan teknologi saat ini, tentunya disertai kesadaran bahwa masih ada loh hal-hal yang sepertinya perlu dibangun dan diasah. Adikku cerita bahwa anak-anaknya yang baru berusia 5 dan 2 tahun, kalo ketemu layar apa aja, seringkali secara spontan mencoba menyentuh layar itu, padahal TV biasa hehe.. Mungkin dalam bayangan mereka, semua layar itu ya berteknologi touch screen, gimana nggak, kalau dari usia 1, 2 tahun mainannya udah i-pad. Terus yang kebayang sama aku, gimana kalo ntar-ntar kita semua jadi seperti orang-orang yang tinggal di spaceship yang digambarkan Andrew Stanton, waktu dia nulis film Wall-E…aih serem…

Memang cute ya kalo liat anak-anak yang dari kecil udah keliatan gaul dan fasih dengan gadget. [tapi kalo orang tua yang suka sibuk sendiri dengan gadget-nya sih ga cute ya hehe, bikin alergi itu sih]. Mungkin sekarang memang perlu, anak dikenalkan sejak dini supaya ga gaptek? Ga ngerti juga alasannya sih. Yang jadi bahaya kalau keterusan, ketergantungan. Aku pribadi masih merasa perlu bangun kemampuan untuk mengendalikan gadget yang dimiliki dan bukan sebaliknya. Terus terang dengan HP saja, kadang, eh jujurnya sering malah, membuat aku sulit untuk terlibat total dengan apa yang sedang aku lakukan, HP yang sebentar-sebentar berbunyi [padahal isinya juga ga selalu penting-penting amat] membuat konsentrasi teralih. Apalagi kalau terus merasa wajib membalas.. ah, parah deh. Seringkali anak-anak yang mengingatkan aku, kalau porsiku sudah lewat batas, mereka yang tanya “Ma, lagi apa sih?” Oh iya, aku lagi main sama mereka.

Di jenjang SMP ini, Gio dapat HP pertamanya. Sebagai anak, dia cukup fasih dengan gadget seperti layaknya anak jaman sekarang. Namun aku cukup yakin dengan kematangannya, dalam arti, Gio bukan anak yang merasa perlu ikuti trend. Kalau dia merasa tidak cocok atau tidak pantas, ya ga perlu lah… Seperti ketika adiknya buat fb, Gio sempat bercerita bahwa teman-temannya bilang Obi aja udah punya, ketinggalan jaman ih.. Ringan dia menjawab “Ya ntar aja kalo udah waktunya”. Kalaupun merasa cocok, perlu atau penasaran, Gio sudah bisa diajak diskusi. Kadang, saat bersama teman atau sepupunya, dia masih perlu diingatkan untuk tidak terus ngoprek HPnya. Tapi ga sulit buat dia untuk segera menyimpan HPnya, karena pada dasarnya dia sudah paham, malah sempat dia sendiri berkomentar “Sekarang kalo pergi makan bareng suka banyak yang sibuk sama Hpnya ya ma… om A, tante B…” Bener banget gi, ngapain juga ya pergi bareng-bareng kalo banyakan ngobrol ma orang lain… 😀

Ayahku, sejak awal menjamurnya HP punya pandangan yang sangat strict tentang gadget ini dalam bekerja. Kalau dia yang pimpin rapat, no HP allowed! Kalau ada yang tat-tit-tut di tengah rapat atau pertemuan, silakan keluar dan ga usah masuk lagi [seriously dad? Yes indeed]. Mungkin kejelasan sikap macam ini yang perlu dipelajari, dimiliki dan dikenalkan pada anak-anak di dunia yang semakin semrawut ini. Single-minded consentration, hadir penuh untuk apa yang kita lakukan atau dengan orang yang kita hargai.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s