proud mom

Gio baru selesai ujian akhir nasional (UAN). Walau kelihatan agak tegang, bahkan weekend sebelum hari H sempat mengeluh sakit perut, namun setelah usai dia tampak tenang dan yakin. Dari sisi rumah, kita serumah-rumah, memang no worries banget dengan tantangan baru; UAN yang dihadapi Gio ini. Ga ada yang ribut ato nyerewetin dia untuk belajar atau siap-siap ujian, plus ga ada yang bantu juga hehe… Semua bener-bener hasil perjuangan dia sendiri, dan dia berhasil membuktikan kemampuannya.

Waktu mulai belajar calistung di kelas 1 dan 2 SD, Gio sempat mengalami banyak kesulitan. Sangat sulit bagi dia untuk bisa ingat huruf, angka, baik secara nama, bunyi maupun bentuk. Sangat membingungkan untuk dia. Semakin didorong, semakin buyar dan hilang. Proses belajar baca, tulis yang bagi teman-temannya terasa cepat, mudah dan menyenangkan, untuk dia tampak panjang, alot, sulit ia pahami. Ketika teman-temannya mulai merasakan asiknya bisa baca buku cerita, bahkan novel tebal yang asli teks semua, ataupun mengekspresikan diri lewat karangan atau tulisan yang lucu-lucu, untuk Gio, membaca atau menulis satu kalimat saja merupakan perjuangan. Sulit dan seringkali membuat frustasi. Namun dia adalah [ini membuat aku mengenali dia sebagai] anak yang mau berjuang.

Sebagai orangtua, tentunya aku ingin Gio menjalani hari-hari yang menyenangkan di sekolah pun di rumah. Hal ini menjadi sulit bila hari demi hari dia lewati dengan penuh tuntutan dan latihan, di sekolah, di rumah, bahkan saat liburan. Bagaimana kita harus memposisikan diri untuk membantu dia menjadi sangat membingungkan pula. Setiap hari melihat dia berusaha keras mengingat huruf dan angka dengan wajah tegang dan bingung, terutama bila menghadapi tugas berbasis kertas, membuat saya sendiri sering ingin menyerah.. Di sisi lain, bayangan bila dia tidak bisa baca tulis membuat aku terus berdoa, berharap, bahkan kadang [kemudian disadari…] semakin menekan dia. Terutama saat mendampingi dia mengerjakan tugas, aku seringkali merasa tidak berdaya.

Guru-guru di sekolah kami sangat positif, terus dengan sabar mendampingi dan membicarakan berbagai kemungkinan untuk bantu Gio. Meski berjalan, namun prosesnya tetap sangat lambat.

Hingga satu titik aku memutuskan untuk mencari bantuan pihak ke-3. Aku bawa dia ke psikolog, direfer ke dokter saraf, ikut beberapa terapi, baca buku-buku yang berkaitan dengan kesulitan belajar, bahkan sempat berdiskusi dengan seorang profesor penulis salah satu buku tersebut di Amerika secara on-line, dan mendapat diagnosa dyslexia. Berdasarkan diagnosa tersebut, kemudian aku coba cari tahu lebih jauh tentang dyslexia ini. Ikut seminar, tanya sana-sini, baca ini-itu, sampai seorang teman yang juga seorang psykolog memberikan sebuah buku; ‘Playground Politics’ yang ditulis oleh Stanley I Greenspan, MD. Sebenarnya buku tersebut tidak mengupas tentang dyslexia secara khusus, tapi membahas tentang tahapan perkembangan anak, kesulitan yang biasanya dihadapi, dan cara menghadapinya. Namun perspektifku mulai berubah. Aku tidak lagi melihat Gio sebagi anak yang punya kesulitan belajar. Aku lebih melihat kesulitan emosi yang sedang dia hadapi dan membuahkan tekad untuk coba dukung dia dari sisi tersebut. Aku coba ikuti saran dari buku tersebut, untuk secara khusus meluangkan waktu minimal 30 menit setiap hari, konsisten, tanpa interupsi, ikut irama anak.

Awalnya ternyata sangat sulit, untuk Gio pun demikian. Hampir 2 tahun relasinya dengan aku cenderung tegang, searah, seputar belajar. Jadi sadar buruknya relasi aku dengan anakku. Ternyata aku tidak lagi mendengar cerita-cerita dia, karena dia juga jadi tidak lagi banyak bercerita. Sebelumnya kita selalu main bareng. Gio sangat suka gambar, ekspresinya lebih banyak keluar dari gambar-gambarnya, dan aku adalah his biggest fans. Semua itu perlahan dan tidak terasa menghilang. Dengan kesadaran itu aku semakin terdorong untuk mengubah keadaan, minimal membangun relasi yang menyenangkan lagi dengan anakku. Aku bilang, “Io, mama mau punya waktu spesial sama Gio. Gio boleh ajak mama ngapain aja. Ngobrol doang juga boleh.” Tampaknya Gio cukup bersemangat dengan ide itu, tapi juga tidak menggebu-gebu untuk kemudian langsung mengajukan ide ini, itu, seolah mengatakan, ok.. kita liat aja si mama serius ga nih…

Kita set waktu setengah jam sebelum waktu tidurnya. Awalnya aku hanya lontarin pertanyaan-pertanyaan ringan, “Tadi ngapain aja?”, “Di kelas ada kejadian rame io?”, “Tadi liat si A ga, lucu banget…”, dst, dst. Dari hari ke hari, jawabannya mulai panjang, ceritanya mulai bertambah, semakin bisa ekspresif, semakin bisa mengungkap emosi, “Ma hari ini asik banget…”, “Tadi aku kesel banget sama…”, “Ih tadi si kakak ‘gini’ loh ma…”, “Aku malu banget…”, “Tadi aku main…”. Senangnya, bisa ikut ketawa geli, ikut bingung kalo dia kesel… Sampai suatu malem, dia mulai dengan pertanyaan, “Ma, how’s your day?” Ahhhh sejuknya, itu benar-benar big moment buat aku.

Setelah itu, entah memang hasil dari terapi, penerapan saran dari psikolog, hasil latihan intensif bersama tutornya, atau kah akumulasi dari semuanya, atau perasaanku memang berubah, namun progres dalam kemampuan belajarnya pun turut berubah. Kemampuan baca tulisnya terus maju, mengejar ketinggalannya dari teman-teman sekelasnya dan menghapus diagnosa dyslexia yang pernah ia dapat. Kelas 3 ia jalani dengan semangat, dan dengan sangat cepat menjadi mandiri dalam belajar. Di kelas 4, untuk pertama kalinya Gio mendapat nilai 100% saat review akhir tema. Kakak (guru)nya yang kebetulan juga gurunya ketika kelas 1, memeluk aku. Terharu banget, mengingat perjuangan dia dulu. Strange but true, perjuangannya mengasah dia menjadi anak yang humble. Kita semua udah excited banget, ternyata untuk dia biasa saja hehehe… katanya, “Aku senang sih, tapi teman-teman yang lain udah dari dulu kok bisa dapet 100.” Seolah ya memang udah harusnya begitu… Di kelas 5, Gio bersama teman-teman sekelas menerbitkan sebuah novel anak, ‘Hari yang Aneh’. Gaya banget ga sih… Di kelas 6 dia mempersiapkan ujian akhirnya sendiri. Hanya sesekali kalau bingung dia langsung tanya. Buat aku, bukan nilai ujiannya yang menjadi penting, tapi keberhasilannya untuk berjuang, mengatasi hambatannya dan membangun kemampuan dirinya. Excellent job Gio!

Iklan

2 thoughts on “proud mom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s