tentang ABG

Beberapa waktu lalu aku sempat mengikuti sebuah seminar tentang membimbing remaja yang dibawakan oleh ibu Martina Sudibja, salah seorang psikolog senior Bandung yang menurutku punya sudut pandang asik. Beliau sempat membawakan materi untuk pertemuan orang tua di sekolah kami, Semi Palar. Saat mendengar orang-orang yang paham benar tentang apa yang ia bicarakan, rasanya seperti mendapat peneguhan bahwa apa yang kami lakukan di sekolah adalah baik adanya, sesuai dengan hal-hal yang memang perlu dibangun pada anak-anak sebagai generasi terbaru kita. Entah bagaimana dengan peserta lain, tapi aku sendiri mendapat banyak masukan untuk memahami ‘remaja’ yang akan menjadi ‘klien’ di sekolah kami di tahun ajaran depan ini. Mudah-mudahan demikian dengan beberapa calon guru yang turut hadir di seminar ini. Mereka masih muda, iya. Malah mungkin mereka sendiri masih memposisikan diri sebagai objek bahasan pada seminar tadi 🙂 .. secara, di usia awal 20-an ini mereka baru saja melangkahkan kaki dari jenjang remaja. Berikut sepintas yang aku dapat dari seminar tersebut. Sangat banyak masukan, terima kasih ya bu…

Kata Elizabeth Hurlock masa remaja yang dimulai sekitar 10-11 sampai 20-21 tahun itu disebut sebagai Storm & Stress Period. Memang disinyalir semakin banyak remaja yang mengalami masalah. Sebagai psikolog, bu Martina yang mengakunya menangani tidak terlalu banyak klien, klien remaja menduduki porsi persentasi yang terbesar. Diantaranya disebabkan oleh beban sekolah yang terlalu berat. Juntrungannya tidak naik kelas, padahal secara IQ termasuk tinggi, mogok bahkan dikeluarkan dari sekolah. Atau secara ranking di sekolah ok, tapi waktu kuliah atau bekerja malah bermasalah. Ga hanya masalah seputar sekolah, menurut ibu Martina, banyak banget remaja sekarang yang terlibat masalah drugs, judi, kabur dari rumah, perampokan, perkosaan, prostitusi sampai pembunuhan.. [duuh, serem amat yaa… ]

Berlanjut dengan para ortu yang hadir di seminar itu, mereka ditanya apa sih keluhan pada anak remaja mereka? Beberapa jawaban yang mewakili adalah bahwa anak remaja sekarang tertutup, ga mau cerita sama ortu, lebih menghargai pendapat teman, kurang mau mendengar, mudah tersinggung, lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah atau internetan. [Waah gitu ya, beep beep my alarm start to beep.]

Sebaliknya dari sisi anak juga ditanya, biar adil dong.. apa sih keluhan mereka sama ortu mereka? Keluarlah beberapa pernyataan yang kayaknya emang iya ya; bawel, marah-marah aja, nganggep anak kecil terus, over protective, banyak aturan, urusannya belajar mulu, ga mau denger pendapat anak, ga percayaan, ga bisa pegang rahasia, suka banding2in, anak salah terus.. [Wak Waw… [*doeeeng*] wahai orang tua, dengarlah suara anak-anak remajamu… Seriusan nih, ga ngeh kali ya aku kalo ga dibuka gini… bisa bahaya banget kalo anakku sampe berpikir begitu..]

Jadi jelas kenapa anak remaja suka ga nyambung sama ortu. Kalau dijabarkan kira-kira gini; dengan berbagai perubahan yang mereka alami secara fisik, mental dan psikis di periode ini, mereka perlu melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang sulit sekali. Secara fisik, tubuh mereka mengalami perkembangan yang besar, yang kadang melebihi energi yang mereka miliki. Belum lagi perubahan hormon yang sangat mempengaruhi mood mereka, sehingga gejolak emosi mereka tinggi, tampak gelisah, mudah tersinggung, walau sebenarnya cepat pulih kembali. Cara berpikir mereka juga semakin kritis. Karena itu mereka sering menunjukkan keinginan untuk mencoba hal-hal baru, seperti keinginan untuk menjelajah alam sekitar. Dalam hal sosialisasi mereka punya minat yang besar untuk berteman, ingin keren seperti teman, ingin ngobrol, namun tidak semua anak mendapat tempat diantara teman. Seringkali hal ini memicu rasa tidak PD, rasa disepelekan, bullying, dll. Secara kesadaran moral, remaja juga mengalami banyak konflik. Banyak berkhayal / fantasi tentang karier, sex, tokoh jagoan mereka, dll., disini perlu diwaspadai bahaya yang terdapat di dunia maya, diperlukan alternatif kegiatan yang baik, juga faith; keyakinan akan garis-garis yang benar dan yang salah, misalnya bully itu ga ok, utang itu harus dibayar. Peran religi / agama dalam hal ini menjadi salah satu yang sangat penting untuk dibangun. Disamping itu membangun hubungan baik dengan anak remaja juga menjadi tugas utama orang tua. Marah, berteriak, tidak akan didengar dan lebih menjauhkan daripada membangun hubungan. Anak biasanya malas cerita karena takut dimarahi, sebaliknya ortu juga terus mengharap kabar baik, dan tidak mau terima kabar buruk.

Di rumah perlu ada aturan, disiplin. Namun hal ini hanya bisa berjalan bila anak happy. Jadi perlu ada keseimbangan antara penerimaan dan disiplin. Sebenarnya kesalahan bisa jadi gerbang kedekatan. Ibu Martina mengibaratkan hal ini dengan komplain yang diterima dengan baik oleh perusahaan.

Tentunya tidak semua anak remaja mengalami masalah. Banyak juga remaja yang berprestasi. Menurut Daniel Coleman, hati yang riang akan memacu kemampuan berpikir seseorang sehingga ia dapat memecahkan masalah dengan baik. Untuk itu beberapa hal yang menjadi pilar atau fondasi dari seseorang perlu dibangun dan terus dijaga terutama di periode ini.

Selain itu ibu Martina juga banyak bercerita tentang hal-hal yang penting dan bisa untuk dilakukan bersama anak remaja untuk membangun diri mereka. Misalnya tentang belajar kehidupan, belajar kesantunan, belajar melayani, berkomunikasi, membina hubungan baik, menghadapi stress, dll.

Intinya, banyak sekali yang harus kita lakukan untuk mendampingi anak menjalani masa remajanya, bapak dan ibu sekalian. Asah kepekaan kita untuk mendengar dan memahami kesulitan mereka yang memang benar sulit. Jadilah coach, jadilah teman, sekedar memposisikan diri sebagai ‘ortu’ tampaknya sudah tidak lagi memadai untuk mendampingi anak di jaman sekarang ini.

Catatan ini hanya untuk memberi gambaran singkat mengenai peran penting yang kita emban sebagai ortu dalam mendampingi anak remaja. Sangat berharap lebih banyak ortu dapat mendengar dan memetik manfaat dari apa yang ibu Martina sampaikan. Mudah-mudahan suatu saat kita akan berkesempatan untuk mengundang kembali beliau dan membagi pengetahuan, pengalaman dan wisdomnya untuk lebih banyak ortu muda di sekolah kita. Terima kasih bu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s