100%

Bertukar cerita dengan para tetua di lingkungan gereja mengenai 72 tahun Indonesia merdeka, apakah benar kita lebih merdeka? Lebih dari 5 dekade silam di jaman yang memang berbeda, tutur salah satu dari mereka, ia sempat merasakan benar apa yang disebut merdeka. Merasakan bisa berteman dengan banyak anak negeri yang menganut berbagai agama, yang berasal dari berbagai daerah dengan bebas tanpa pretensi apa2. Tidak ada yang merasa lebih berhak atau lebih berkuasa. Di hari Jumat menjeda waktu bermain, menunggu teman2 sembahyang di mesjid, sebaliknya di hari Minggu teman2 mengingatkan, “Ai maneh teu ka gereja? Hayu urang anteur..” Merasakan bisa bebas bermain, berjalan2, bahkan bisa sering ngemping bareng tanpa kekhawatiran akan banyak hal.  Namun semakin hari sekat semakin bertumbuh. Kita sendiri membesarkan anak2 dalam ketakutan dan membuat mereka ekslusif dalam bersosialisasi. Dan pola ini terjadi secara luas..

Akupun demikian.. terlalu banyak ketakutan membuat aku cenderung menarik anak2 dalam ruang aman. Bersyukur bahwa sekolah yang menjadi salah satu ruang aman kami dengan konsepnya sebagai sekolah umum telah berkembang menjadi ruang heterogen tempat kami belajar mengenal dan memahami, sampai dapat menghargai dan menyayangi perbedaan yang ada. Aku belum tahu apa dan bagaimana yang terjadi di sekolah lain. Tapi hal itu hanya bisa terjadi lewat proses panjang, paparan dan interaksi intensif. Menyimak proses interaksi anak2 dengan teman2nya, dengan kakak2 AKA fasilitator, dengan orangtua lain sungguh membahagiakan.. Namun di luar sekolah, sejauh apa kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama Katolik bisa berperan?

Pertanyaan reflektifnya, apa makna 100% Indonesia, 100% Katolik buat kita masing2?

Diskusi berjalan panjang dan hangat. Di akhir pertemuan, kita diajak untuk membuat komitment kecil. Komitment untuk menerapkan Kasih sebagai inti ajaran agama Katolik dalam setiap interaksi kita dengan orang2 di sekitar kita. Minimalnya dengan tetangga dan warga se-RT aja.

Buat sebagian orang- termasuk aku, hal ini susah-susah-gampang. Banyakan susahnya sih, karena yang pentingnya (niat) masih kurang :D. Namun buat sebagian lain, seperti ibu Martina, sejak siang tadi ia sudah membagikan pengalamannya hari ini. 17 Agustus kali ini ia kebetulan berada di rumah dengan 6 orang tukang yang sedang memperbaiki rumahnya, 1 orang supir dan 1 orang asisten rumah tangga. Mencari gagasan untuk menjalankan komitmentnya, ia lalu mendapat ide sederhana untuk melakukan upacara bendera bersama mereka. Keren banget ga sih ibu yang satu ini.. 🙂 Ia sendiri menjadi komandan upacara. Pengibaran Bendera Merah Putih dilakukan sambil menyanyikan Indonesia Raya yang dibantu dengan lagu Indonesia Raya yang ia download lewat HP-nya. Semua tampak serius, mengikuti dengan tangan di dada. Demikian yang aku lihat dari foto yang ia kirimkan. Pancasila diserukan oleh salah seorang tukang yang dapat mengingat setiap butirnya dengan baik. Asiknya pula, ada bonus kaos untuk mereka yang hafal Pancasila.. Sayangnya hanya 1 dari antara mereka yang hafal. Selesai upacara, ia mengajak semuanya untuk makan bersama di rumah makan padang. Dalam obrol2 ketika makan, tukang yang paling tua menyampaikan bahwa seumur hidupnya, sampai ia sudah punya anak-cucu (bahkan cicit kalau tidak salah) baru kali ini ia mengikuti upacara bendera. Karena sejak kecil sudah dibawa ngaladen / membantu ayahnya yang juga seorang tukang bangunan  “Nuhun Gan..” tuturnya dalam bahasa Sunda.

Ga hanya si bapak yang senang dan bersyukur bisa merasakan upacara bendera pertamanya, buat aku sendiri apa yang dilakukan bu Martina tidak sekadar menyenangkan tapi menggugah dan menginspirasi.

Terima kasih bu, tetap merdeka!

.

 

Iklan

slametan a’la smipa

Setiap Tahun Pendidikan selalu baru. Tak pernah ada yang sama. Formasi baru, teman baru, kakak baru, ruangan baru,  petualangan baru, kegiatan baru, menu2 hari belajar baru, SEMANGAT BARUU.. 🙂
Demikian pula dengan kegiatan slametan awal tahun pendidikan di Smipa. Tahun ini adalah Tahun Pendidikan ke-13 Smipa, kali ke-3 kita menyelenggarakan slametan di awal tahun ajaran.

Banyak sungguh yang dibutuhkan untuk berjalannya sebuah event
Banyak juga yang ingin ditarik untuk proses membangun sebuah komunitas. Namun dengan kesediaan yang besar dari semua jajaran, pada akhirnya terwujud sebuah kegiatan yang apik dan epik pula, representasi kesungguhan semua yang terlibat untuk ‘Menjaga Bumi Indonesia’.

Kegiatan ini sederhana namun kompleks. Khas Smipa banget.. Dalam arti, tidak ada acara hingar bingar, dekorasi bling-bling, atau bintang tamu glamour yang bertujuan menghibur peserta. Jauh dari itu, bahkan berkebalikan, peserta yang mendaftar perlu bersiap untuk ikut riweuh, ikut terlibat, ikut menjadi penggerak dalam bentuk kesadaran. Bentuk kesadaran inipun sungguh bebas, tanpa keharusan atau tuntutan tertentu. Istilahnya dari mulai menyumbang ide atau menyebar semangat, membawa kerupuk atau ga bisa bawa apa-apa, semua ok, sesuai kemampuan masing-masing.

Ternyata disitulah kunci dari hidupnya kegiatan ini. Kegiatan tidak hanya bergantung pada konsep dan perencanaan, koordinasi tingkat tinggi, dan persiapan teknis yang sudah semakin dikuasai handal tim Smipa. Namun juga kesediaan dan wujud nyata keterlibatan orangtua di berbagai level. Acung jempol kami untuk kakak-kakak yang menjalankan tugas dengan sungguh dan bersemangat di semua pos. Juga untuk orangtua yang sudah menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga besar Smipa, mengambil peran lebih dan terlibat dengan sungguh. Dari situlah kegiatan seru berjalan, karya besar tercipta, momen magis terasa..

kolase slametan

Buah dari gagasan dan semangat yang terus berubah; bertumbuh dan kian rindang. Buah dari kesediaan, kesungguhan dan keterlibatan yang juga semakin cair dan meresap. Ahh.. disitu perangah kagum, linang haru, bungah syukur, buncah bangga, teraduk jadi satu. Tak banyak bisa terucap hanya bisa terasa.

Hatur nuhun sadaya..

 

live-in

Sulung mulai menjalani proyek individunya di semester ini; live in. Dalam bahasa Indonesia mungkin numpang tinggal di rumah orang; turut menjalani keseharian di daerah tersebut. Tujuannya untuk meluaskan ruang eksplorasi. Pilihan untuknya adalah sebuah desa kecil di daerah gunung Kareumbi. Secara jarak sebenarnya tidak terlampau jauh. Dari Bandung hanya perlu 1x naik kereta hingga stasiun Cicalengka. Nah dari situ memang belum ada kendaraan umum yang bolak balik ke Kareumbi apalagi ke Cigumentong. Kalau ga nebeng, nyarter, ya jalan sejauh 14 km.

Sebelum berangkat dia tampak gelisah. Kalau ditanya kadang dia bilang ‘biasa aja..’, namun sempat juga mengungkap ‘deg-degan’. Bila kubayangkan aku juga bakal gelisah.. tinggal di tempat baru, di tempat orang yang belum dikenal betul, menjadi orang baru di satu komunitas. Mengikuti keseharian mereka, mengubah ritme dan pola keseharian. Tidak ada sinyal yang biasa mengoneksi banyak hal dan banyak pihak di keseharian. Terbatas listrik, dan piranti elektronik yang biasanya menjamin kenyamanan hidup. Menghadapi ketidaktahuan, berada di luar zona nyaman. 

Sebenarnya daerah tersebut buat dia tidak sepenuhnya asing dan baru, karena bersama kelompok maupun mentor magangnya ia telah beberapa kali mengunjungi bahkan sempat menginap di daerah itu. Hanya saja kali ini ia akan berada sendirian saja dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Tak disangkal emaknyapun turut deg-degan. Bahkan nenek kakek yang selama ini hampir tidak pernah bertanya-tanya, jadi turut mempertanyakan. Terutama karena faktor ketidaktahuan medan yang akan dihadapi si anak. Apakah kalau tahu akan mengubah rasa tersebut? Faktanya aku tidak tahu, dan memang tidak selalu bisa tahu apa yang akan dihadapi dan sedang dijalani anak-anakku sih. Hanya bisa membaca sikap dan gestur. Mencoba menggali hal-hal yang membuatnya gelisah, ternyata dia sendiri sudah membuat pemetaan dan rencana. Seperti juga berbagai proses lain dalam berkegiatan di sekolahnya, tampaknya proses persiapan live in ini mendorongnya untuk terus mengolah dan mengatasi diri, tinggal bagaimana saat menjalaninya. Dari sisi penduduk Cigumentong, live in panjang ini bakal menjadi pengalaman pertama mereka menerima tamu untuk jangka waktu yang panjang juga. 

Hari Kamis sore, lewat seminggu dari kepergiannya. Bandung lagi badai, sampai hujan es malah n banjir.. WA sulung masuk, “Hi Mom, aku otw pulang ya. Nebeng kang Eco..”  “Hai Gii.. akhirnya turun gunung juga. Kumaha, damang?”  “Masih idup hehehe..”

Hmm kepulangannya maju dr rencana semula. Kenapa ya? Ga usah khawatir, ga usah kepo Ne.. tunggu aja ceritanya *mengingatkandirisendiri. Meski kalo diperhatikan caranya bercerita pada emaknya beda dengan pada orang lain, tapi untuk aku, dia termasuk suka bercerita. Sampai rumah malam itu pertanyaan dijawab dengan mode B (=sekadarnya), biar tampaknya lelah dia masih terus bekerja, mengejar deadline malam itu katanya.. tapi kan besok libur, jadi berharap bisa tidur lebih panjang. Esok harinya memang dia lebih banyak menikmati nyamannya tempat tidur dan selimut hangatnya.

Disana susah tidur, tepatnya sering terbangun. Seminggu disana belum ada yang berkesan banget katanya. Banyak ga nyamannya, tapi dijalani aja. Ikut bantu di ladang, ke TBMK kalau ada kegiatan/tamu. Keluarga yang ditumpangi bapak ketua RT, ibu dan 3 anak. Bapaknya, pak Kurnia ok, tapi punya pandangan stereotype sama orang cina *kayagamaukerjakerasdanmauenakaja. Anak yang seusia di kampung itu ga banyak, tapi belum ngobrol karena belum kenal betul. Sebagian sekolah, sebagian kerja atau bantu orangtuanya. Mereka terbiasa untuk memulai hari sebelum pk 4.oo subuh, dan rata-rata pk 12an sudah selesai.. bingung harus ngapain seudah itu sampai magrib, karena ga lama semua sudah pada tidur. Ritme yang sangat berbeda dengan kesehariannya disini. Makannya nasi lauknya mie instant.. “carbs all the way lah mom.. kalo ga, sama sambel, ikan asin atau jengkol mentah”. Pernah dimasakin semacam sup kacang merah tapi rasa dan aromanya aneh jadi ga bisa masuk. Perut dan tenggorokan sempat melemah disana. Mereka bertanam dan hidup di alam, tapi untuk hal yang paling mendasar (pangan) mereka sudah tidak lagi langsung mengambil dari alam. Kecuali panenan yang gagal atau rusak baru akan mereka konsumsi sendiri. Selebihnya sayur yang mereka tanam = uang. Narsum yang sempat ia datangi sebelum pergi, kang Adjat pernah berbagi ilmu bahkan membuatkan sistem pertanian organik disana. Tapi tidak berjalan. Dengan intensitas keberadaannya disana, dia bisa melihat langsung apa yang terjadi, apa penyebabnya. Denger ceritanya memang jadi gatel.. tapi hanya bisa melontar ide-ide. Bagaimanapun aku benar-benar tidak tahu kondisi dan menjalani selalu lebih sulit daripada ngomong doang

Setiap pulang ceritanya dilengkapi dengan jurnalnya yang sarat berisi catatan kegiatan, rasa, coretan, puisi dan macam-macam. Disana malah rajin nulis, karena banyak waktu luang. Aku bersyukur ia bisa memaksa diri untuk menulis dan bersedia berbagi lewat tulisannya itu. Untuk usianya, pengalaman ini memang besar dan luar biasa. Membacanya untuk aku sungguh mengaduk rasa. Seringkali aku berada di posisi terpaksa berhenti, tercenung, mencoba memahami. Lalu berharap aku bisa jadi mentor yang baik untuk anakku.. #masihkudubelajar, ##bacatheteenageagekoklamabanget.

Sebelum berangkat kembali ia selalu berusaha untuk mempersiapkan diri sesuai kemampuannya, sekaligus terlihat berhati-hati untuk tidak terlalu berlebihan dalam menghadirkan diri. Yang pasti, berbelanja perbekalan yang perlu dibawa untuk disampaikan pada induk semangnya. Beras, kopi, teh, gula, titipan bibit sayur, kemudian beberapa keringan teman makan nasi, paling tidak untuk tambahan dan variasi supaya tidak karbo semata. Atau mencari buku dan peralatan untuk kegiatan bersama anak2 disana. Semangatnya terasa naik turun antara keinginan untuk menantang dan menyemangati diri bahwa dia bisa tapi di sisi lain merasa berat untuk menjalani lagi, bertemu kondisi yang sama lagi.. 

Hang on Gi, this too shall passed..

Minggu2 selanjutnya tampaknya banyak hal yang teratasi.. lebih berterima, atau mungkin mulai bisa melihat pola. Sudah tidak merasa terlalu terganggu dengan sebutan-sebutan cina, sudah lebih bisa mengatasi kangennya, sudah mulai berterima dengan kondisi tidak terkoneksi.. Kesulitannya sudah dapat ia kenali dengan lebih spesifik. Mengerucut pada hal-hal yang menurut dia membutuhkan olahan dan kapasitas lebih untuk bisa ia atasi. Seperti memfasilitasi kegiatan anak2 jenjang usia dini yang disana sering ngintilin dia, minta diajak main terus. Atau mengajar anak usia SD membaca. Atau ketrampilan berkebun supaya bisa bantu lebih banyak. Hingga kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri live in-nya dengan pertimbangan memang tidak produktif dan dengan kapasitasnya saat ini tidak dapat menyumbang lebih banyak untuk tempat tersebut. Sebelum pulang sempat menantang diri untuk bertandang ke desa sebelah yang auranya lebih mistis, lebih curiga terhadap pendatang. Lalu menginap di sebuah desa di luar TMBK yang jauh lebih besar dalam perjalanan pulang. Mengekspos diri ke zona asing yang baru.. memberi perbandingan berbeda terhadap tingkat penerimaan, keramahan, kebersihan dll dari masyarakatnya. Tantangan diri terakhirnya adalah berjalan menuju stasiun untuk pulang dan menutup live-innya. 14 km dimulai ketika matahari belum lagi bangun. Gelap, hening, sepi, dan memuncak ketika di tengah perjalanan mau tak mau harus beberapa kali mengetuk rumah orang untuk numpang ke toilet karena sakit perut tak tertahan. Akhirnya setelah 4 jam, touch down.. 

Proyek individunya masih perlu ia tuntaskan dengan hasil nyata. Semua yang telah dijalani, dapat dimaknai positif bisa juga negatif. Hal-hal yang muncul, terlintas, berkecamuk, maupun terpikir dalam saat menjalani kesehariannya disana perlu ia tata, pilah, olah; ibarat proses defragmentation. Apapun yang mewujud tentu akan menjadi penggenap pengalaman barunya ini. 

Ayo tuntaskan Gi.. semangaat.. 🙌

.

‘teruntuk bahagia’

Kebetulan hari itu rumah sedang sepi. 2 diantara 3 penghuninya sedang berada di lain kota untuk tugas sekolah.. “Ada kiriman paket bu” ujar penjaga rumah ketika Upik sampai di rumah. Akhirnya.. datang juga pesanan yang ditunggu-tunggu; ‘teruntuk bahagia‘. Wah pas untuk menemani sore ini.

Dia teman Upik semasa kecil, semasa berseragam vest kuning di sebuah sekolah susteran di Bandung. Teman yang seru dan kocak.. Tawanya khas, riuh dan renyah, wajahnya ayu, selalu seperti tersenyum ramah. Tidak lama di Bandung, ia pindah bersama keluarganya dan melanjutkan SMA di ibukota. Yang Upik tahu, dia itu penari balet. Sangat suka menari balet.. Meski menurut Upik dengan wajah eksotis dan postur tinggi semampai dia bagus jadi penari apa saja.. Yang Upik ingat juga, mereka dulu sempat gandrung berat dengan filem2 drama musikal seperti Annie. Bisa panjang lebar dan terasa seru banget bahas filem itu. Tapi ga manis-manis amat juga sih.. menonton filem dewasa sambil cekakak cekikik, ga ngerti-ngerti amat juga pernah kok.. Yang pasti selepas masa-masa itu tak ada yang saling berkabar. Upik kehilangan jejaknya. 

Penghujung 2014, Upik baru saja ikut trend, bikin akun IG. Upik menemukan akunnya ketika mencari akun terkait yoga; ‘lisayoga42’. Seorang teman memang sempat berkabar bahwa sekarang ia membuka studio yoga, ‘yoga42’  Wow.. Jadilah Upik memfollownya. Sosoknya masih tampak sama.. wajah ayunya, senyum ramahnya, tawa lebarnya.. Namun mengikuti sepak terjangnya Upik terkagum-kagum dan tak habis pikir, rasanya secara usia sama kok, kan seangkatan 😅. Energi dan semangatnya tampak selalu tinggi.. postingannya padat berisi, menggambarkan kesehariannya yang penuh rasa. Dari kelas ke kelas, dari pertunjukan ke pertunjukan, dari event ke event, dari kota ke kota, bahkan ke negara lain. Intinya semua moment ia syukuri dan jalani dengan bahagia.

Baru belakangan ketika ia membuat sebuah buku, terjelaskan darimana energi dan semangatnya berasal. Buku ‘teruntuk bahagia merupakan kumpulan 10 narasi singkat yang menginspirasi. Dan memang demikian adanya. Bukan kisah perjalanan hidup seutuhnya, bukan pula cerita rinci pengalamannya ketika mengalami flat linemati suri.. ataupun teknik dalam mengatasi pengalaman tersebut. Namun lebih berisi esensi dari keping-keping pengalaman yang mengubah hidup dan perspektifnya dalam memandang semua yang semesta suguhkan. Tidak semua kepingan menyatu untuk memberi pemahaman pada pembaca atas apa yang ia alami. Namun setiap keping menyampaikan pembelajaran, menghadirkan rasa syukur dalam bentuk-bentuknya sendiri. 

Menerima dan membaca ‘teruntuk bahagia‘ sore itu membuat Upik banyak berpikir tentang diri dan hidupnya sendiri, tepat seperti yang dituliskan disitu. Memang masih banyak yang sedang Upik coba pahami dalam hidupnya. Banyak diantara kisah-kisah itu terasa familiar, dan Upik sangat bersetuju. Mungkin pada dasarnya dengan cara dan pemahaman masing-masing, kita semua berusaha menuju arah yang sama. Every single human being wants to be well, happy and free of suffering. At least that much you have in common with everyone around you (Counscious App). Namun tetap saja Upik dibuat termangu.. sekuat apa, seberani apa perempuan, ibu, penari, guru yoga, sekaligus teman masa kecilnya ini hingga dapat mengatakan ihwal arah hidupnya, bahwa ia memang sengaja mengubahnya. Upik tahu bahwa ia perlu menemukan kekuatan dan keberaniannya sendiri. Menarikan tariannya sendiri agar dapat menghayati diri dan keberadaannya.

Ah betapa bahagia itu menular.. terutama bahagia yang hadir dari kesadaran sepenuh-penuhnya seperti yang selalu ia coba hadirkan. 

terima kasih Lisa; [ a woman who sees life through yoga ] dan tim bukunya.

Namaste 🙏

.

memang beda

Pertemuan Orangtua kemarin mengangkat tema keberagaman. Keberagaman itu ada, tapi bagaimanakah kita bersikap sebagai bagian dari keberagaman itu. Keberagaman yang disadari benar di keseharian mungkin hanya seujung kuku, selebihnya terasa sangat abstrak karena jarang dialami. Tidak banyak ruang yang dengan sengaja dijelajahi untuk bertemu dengan perbedaan. Paling banter dari pelajaran di sekolah, berita di medsos, dan imaji ketika mendengar cerita orang2 yang pernah berkunjung ke berbagai tempat di negara ini. 

Hanya sedikit orang yang merasa perlu mengunjungi berbagai tempat berbeda untuk kepentingan mengenali, memahami bahkan memberi sumbangsih seperti yang dilakukan pak Yunus, salah satu narsum POt kali ini. Meski saat ini sudah cukup banyak orang merasa perlu berkunjung ke tempat lain, tujuannya lebih untuk berlibur, atau mencari peluang; memanfaatkan keindahan, kekayaan alam dan sumber daya yang ada. Lebih banyak orang yang sekadar tahu, data statistik bahwa Indonesia punya ribuan pulau dan suku bangsa. Tidak terbayang dalam benak seperti apa orang dari pulau atau suku yang berbeda itu.

Sisi ekstrimnya terjabarkan oleh bu Henny ketika ia bercerita tentang seorang guru 37 thn dari Depok dan seorang mahasiswa 21 thn dari Bekasi yang seumur hidup belum pernah berinteraksi dengan orang dari agama yang berbeda. Karena tidak tahu maka menjadi takut, menjadi sempit dan mudah dipengaruhi. 

Si sulung saat ini sedang menghadapi kondisi serupa. Ia sedang menjalani live in sebagai proyek individunya, di satu desa terisolir di kawasan gunung Kareumbi. Tujuan awalnya untuk menantang diri, memperluas ruang eksplorasi. Salah satu tantangan besar yang harus ia hadapi adalah mindset penduduk desa- termasuk keluarga yang ia tumpangi, yang menurut istilahnya ‘stereotype‘ terhadap orang kota dan orang Cina. Tak dipungkiri dengan tampilan fisiknya; kulit putih dan mata sipit, orang akan segera menyebutnya sebagai orang Cina. Meski kalau berkunjung ke sana dan mengaku sebagai orang Cina, pasti juga bakal dipertanyakan sebab tidak tahu apa2 tentang bahasa, adab dan budaya Cina. Sedih, sebal, kesal karena dicap berbeda, lengkap dengan gambaran stereotypenya.. menjadi awal yang berat baginya. Saat itu saya hanya bisa bilang bahwa mungkin mereka memang tidak tahu, belum pernah berinteraksi dengan orang dari etnis yang lain. Jadi mau disebut apa juga, itu adalah persepsi mereka masing2. Lalu kenapa kalo Cina, terus kenapa kalo Sunda, so what kalo Jawa? Bila belum ada keinginan untuk tahu, bila masih takut untuk berinteraksi, kita ga bisa mengubah kenyataan itu. Jadilah dan banggalah dengan dirimu sendiri, tunjukkan siapa dirimu lewat sikap dan tindakanmu. 

Bagi saya sendiri, sejak dulu topik ini termasuk sensitif untuk bisa dibahas secara terbuka. Sepertinya dampak dibesarkan di era orde baru- masa ketika pri dan nonpri memang harus dibedakan, memang masih melekat kuat. Sangat bersyukur di pertemuan kemarin mendapat masukan yang bisa membantu saya membuka ruang diskusi dengan si sulung dalam menghadapi tantangannya. Pertemuan tersebut mengubah persepsi itu dan memberikan harapan dan pemahaman baru. Ada loh yang bisa dilakukan untuk menjadikan keberagaman di sekitar menjadi lebih positif dan memperkaya. Terlebih dengan peran dan posisi kita di dunia anak dan pendidikan.

Dibuka dengan penjabaran luasnya keberagaman oleh pak Yunus yang sudah menjelajah ke sekitar delapanpuluh pulau di tanah air dan mencatatkan perjalanannya pada buku Meraba Indonesia. Bahwa negara kita ini ibarat sebuah rumah besar, tapi kita hanya tinggal dan bermain di ruang yang itu-itu saja. Bukan hanya ga tahu, suka ga sadar juga kali ya ada siapa saja dan bagaimana kehidupan di ruang lain. Kok jadi berasa ga gaul banget ya.. 

Menerima dan memahami hal ini menjadi titik awal. Semua orang mendefinisi diri masing2, nilai2 yang diusung, cara membawakan diri, cara bersikap, dll., dan sangat dipengaruhi oleh budaya dan tempat tinggal. Tidak ada satu kacamata yang bisa membuat kita dapat segera mengenal dan mengerti orang lain. Sebaliknya jangan pula berharap orang untuk tahu, kemudian berlaku sesuai definisi kita. Perlu ada kesediaan. Menanggalkan kacamata kita, melihat dari kacamata orang lain. Baru kemudian kita mungkin bisa mengerti alasan di balik sikap2 yang berbeda, di balik kekerasan dan konflik2 yang terjadi. 

Kemudian narasumber kedua, bu Henny Supolo dengan cantik dan jelas menyampaikan hal2 yang perlu kita pentingkan dalam menjalani keberagaman. Banyak ternyata hal nyata diatas tataran wacana yang bisa kita lakukan, sebagai orangtua maupun fasilitator anak. Mulai dari melatih diri, agar dapat mendamping anak. Kemudian mendamping anak membangun dan melatih kemampuan yang penting untuk mereka miliki, membuka ruang2 interaksi, hingga cara merespon kekerasan atau perundungan verbal maupun fisik yang mungkin terjadi. 

Namun semua itu bermuara pada kesediaan untuk bersikap positif. Toh bisa saja saya memilih untuk mengabaikan, menghindar, atau menekan keberadaan diri seperti yang selama ini dilakukan. Tapi sadar pula bahwa itulah yang membuat saya sebagai orangtua merasa tidak berdaya saat si sulung bercerita mengenai kesulitannya. Ted Warren dalam buku bagusnya, The Teenage Edge mengatakan, “I often tell parents that if they don’t take it upon themselves to teach their kids what is fair and respectful, other people will deal their kids unpleasant and maybe even tragic blows from outside the family.” Jlep, tepat benar dengan apa yang sedang saya rasakan. Bukan harafiah tidak mengajarkan ‘fair‘ n ‘respectful‘ tapi lebih karena kerap menghindar, mengabaikan, atau menekan ruang2 interaksi yang semestinya dapat menjadi ruang antisipatif, ruang yang memberi pengalaman untuk membangun pemahaman dan mengalami.

Hal lain yang bisa dilakukan sebagai pesan penutup bu Henny adalah menyebarkan narasi positif mengenai keberagaman, paling tidak untuk mengimbangi kalau belum dapat menangkal, maraknya narasi kekerasan yang semakin menekankan sudut pandang sempit dalam melihat keberagaman. 

Hayu atuh.. 🙂

.

dipanji

Aku perlu buat karya untuk pameran, selesai sebelum pergi ke Cigumentong mom. Waat.. 😥 Berarti hanya punya beberapa hari, plus ditengah persiapan proyek individu dan kegiatan lain? Mau buat apa? Mau coba buat bentuk 3 dimensi, 2 dimensi kan udah. Ok, berarti merasa tertantang dia. Apa konsepnya? Lagi mikir tentang Dualitas pada manusia. Bentuknya topeng tradisional dengan 2 materi; kayu atau gypsum dan metal untuk menghadirkan 2 sisi dalam 1 diri. Hmm bisa jadi menarik.. gimana kalau konsul sama tantiNes untuk dapet alternatif teknis yang paling baik secara waktu n hasil? Ok..

Jadi dualitas itu apa? Apa bedanya sama dualisme? Kalo sama mendua? Mana yang mau dipakai untuk konsepmu? Perlu tepat secara terminologi. Dua sisi saling berlawanan dalam diri manusia, kerap terjadi ketidakseimbangan. Apa harus berlawanan? Apa harus dalam satu tubuh? Mungkin ga dalam spektrum yang berbeda, sehingga yang terjadi bisa saja harmoni? Kenapa topeng, siapa panji? Waah.. musti belajar banyak.. Yaiyalah.. Supaya bisa visualisasikan konsepmu. TantiNes uda bilang mau ajak kamu mikir kok 😉. Berapa ukuran jadinya, cari perbandingan yang tepat untuk bentuk topeng. Jadinya mau pake bahan apa, hitung kebutuhan bahan, mulai cari ke bank sampah, atau minta ke toko2 untuk menyimpankan gih.. 

… sampai hari minus 4 masih berputar di konsep dan pengumpulan bahan. 

… hari minus 3 bikin sketsa dasar dan konsul untuk alternatif teknik. Lalu melengkapi bahan dan mulai mengerjakan sampai akhirnya selesai rangka bentuk dasar. Sampai di tahap ini mulai muncul beberapa alternatif pengembangan yang menarik. Mulai bisa bermain dengan dimensi. Dualisme yang terjadi bisa dilihat dari banyak sisi dan hadir lewat banyak cara. Background vs foreground, outline vs bidang, materi vs bayangan.. Bermain dengan efek visual, menghadirkan bentuk dan ruang dengan bayangan, menggabungkan 2 dimensi dan 3 dimensi. Mulai tampak menyenangkan 😊

… hari minus 2 memperbaiki dan mendetailkan rangka bentuk dasar. Mulai menghadapi kesulitan untuk mengisi bidang, karena sifat bahan yang dipilih ternyata terlalu lunak. Mudah tercabik dan sulit mengikuti kontur. Mencari kemungkinan berbeda untuk solusi selalu menarik. Mencoba beberapa cara, memilih hasil yang terbaik, menimbang tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan tersisa.. sampai akhirnya menemukan dan memutuskan.  

… hari minus 1 finishing; memotong, merapikan, mengecat base lalu dibawa untuk didisplay. Joss..

… hari pembukaan. Acara dikemas menarik, cair dan khas usia remaja. Artist talk menjembatani pengunjung dengan perupa, konsep dan proses berkarya serta keberadaan karya yang secara display tampaknya sangat manut dengan ruang yang ada*. Katalog juga banyak membantu menjelaskan konsep karya dan perupanya pada pengunjung. Namun garis bawah kegiatan yang (kalau tidak salah) pada proses belajar dan ruang kolektif untuk kerja sama 2 angkatan, dimana setiap anak mendapat tugas spesifik untuk menyelenggarakan sebuah pameran, rasanya belum tersampaikan di ruang2 komunikasi diatas. Bahwa sebagian anak menjadi perupa, sebagian menjadi kurator, sebagian lainnya menjadi art-director. Menarik kalau bisa mendapat penjelasan para kurator dan para art-director mengenai pemahaman atas peran dan tugas yang dilakukan terkait peran tersebut.

*) Spesifik catatan ttg display karya Dipanji (muncul karena gatel ngeliatnya): Idealnya display memperhatikan bayangan. Tidak semua orang bisa menangkap unsur-unsur dari karya 3 dimensi (alias punya kepekaan ruang yang sama) maka perupa mengarahkan, melalui art director dan kurator (terutama krn peran tsb ada).

.

lima

Lima tahun silam..

Mendadak saja Upik kehilangan diri. Seolah terlontar dari kursi penumpang di tengah perjalanan nyaman, yang sesungguhnya tidak ia ketahui tujuan akhirnya. Sekadar menumpang tanpa kesadaran penuh. Mungkin karena itu Upik terlontar. 

“Hei.. tentukan dulu tujuanmu.. baru kau naiklah pada kereta yang akan membawamu kesana.” demikian mungkin ujar semesta.

Bum.. terjatuh Upik.. terguling2, terantuk sana-sini. Gelap, gamang, nyeri, gentar.. Sungguh merasa kecil dan tidak berdaya.  “Siapa aku, kenapa aku disini, apa yang harus aku lakukan..?” Upik bertanya2. Lebih dari 40 hitungan tahun yang sudah ia jalani seolah menjadi samar. Tidak lagi ia kenali benar tubuh, rasa, dan pikirnya. Hanya 2 mutiara yang terus Upik genggam kuat.

Ketika sadar, Upik tahu bahwa semua terjadi karena suatu alasan yang perlu ia cari tahu. “Manusia musti kuat, sakit bukan berarti lemah. Aku perempuan bukan sekadar karena tubuhku.” Upik menguatkan diri. 

“Jalani apa yang perlu dijalani. Lalu bangun, tata dirimu kembali. Berjuta orang terkena kanker atau penyakit aneh lainnya, terkena bencana atau kehilangan.. dan hidup berjalan terus. Putuskan dimana kamu ingin berada.” Ujar Upik pada dirinya sendiri. 

Tidak mudah membangun keyakinan dari serpihan yang tersisa. Perlu komposisi rasa berserah sekaligus percaya pada Pencipta yang besar, serta dosis berpikir positif yang sungguh tinggi. 

Tidak menjadi lebih sederhana, ketika pilihannya menentang arus, berbeda dari prosedur baku yang jamaknya dijalani orang lain. 

Tidak menjadi mudah pula ketika tetiba orang yang paling dekat dengannya hilang dari hidup kesehariannya. Seperti terus terdorong angin ketika tubuh yang masih limbung mencoba berdiri. 

Perlahan disusunnya kembali dirinya. Setiap pagi diisinya dirinya penuh2 dengan rasa syukur. Tak diijinkannya rasa takut, khawatir, keraguan atau pemikiran negatif berlama2 tinggal dalam dirinya. Meski perlu dimulai dengan mengandaikan diri baik adanya, Upik menapaki hari demi hari hingga ia benar2 merasa baik adanya.

Lima tahun berlalu.. 

Hanya serpihan yang tertinggal. Menyusur kembali lorong2 bangunan putih, menjalani beberapa prosedur baku yang masih tersisa untuk setidaknya memberi suntikan keyakinan, mengembalikan banyak serpihan rasa. Namun sekarang tinggal memori.. yang memunculkan rasa haru dan syukur bahwa semua telah dilalui.

Seiring waktu Upik mulai mengetahui dan menetapkan tujuan perjalanannya dan memulai perjalanan2 pendek. 

Seperti yang pernah dikatakan Bante Tang padanya saat ia berpamitan di pendopo Hijau Rimbun, “Miliki tujuan yang jelas, nikmati perjalanan yang menyenangkan dan bersiaplah untuk turun bila sudah tiba. Dan penting juga untuk diingat, jangan kau sibuk berlari2 di dalam gerbong!” 🙂 

.