lima

Lima tahun silam..

Mendadak saja Upik kehilangan diri. Seolah terlontar dari kursi penumpang di tengah perjalanan nyaman, yang sesungguhnya tidak ia ketahui tujuan akhirnya. Sekadar menumpang tanpa kesadaran penuh. Mungkin karena itu Upik terlontar. 

“Hei.. tentukan dulu tujuanmu.. baru kau naiklah pada kereta yang akan membawamu kesana.” demikian mungkin ujar semesta.

Bum.. terjatuh Upik.. terguling2, terantuk sana-sini. Gelap, gamang, nyeri, gentar.. Sungguh merasa kecil dan tidak berdaya.  “Siapa aku, kenapa aku disini, apa yang harus aku lakukan..?” Upik bertanya2. Lebih dari 40 hitungan tahun yang sudah ia jalani seolah menjadi samar. Tidak lagi ia kenali benar tubuh, rasa, dan pikirnya. Hanya 2 mutiara yang terus Upik genggam kuat.

Ketika sadar, Upik tahu bahwa semua terjadi karena suatu alasan yang perlu ia cari tahu. “Manusia musti kuat, sakit bukan berarti lemah. Aku perempuan bukan sekadar karena tubuhku.” Upik menguatkan diri. 

“Jalani apa yang perlu dijalani. Lalu bangun, tata dirimu kembali. Berjuta orang terkena kanker atau penyakit aneh lainnya, terkena bencana atau kehilangan.. dan hidup berjalan terus. Putuskan dimana kamu ingin berada.” Ujar Upik pada dirinya sendiri. 

Tidak mudah membangun keyakinan dari serpihan yang tersisa. Perlu komposisi rasa berserah sekaligus percaya pada Pencipta yang besar, serta dosis berpikir positif yang sungguh tinggi. 

Tidak menjadi lebih sederhana, ketika pilihannya menentang arus, berbeda dari prosedur baku yang jamaknya dijalani orang lain. 

Tidak menjadi mudah pula ketika tetiba orang yang paling dekat dengannya hilang dari hidup kesehariannya. Seperti terus terdorong angin ketika tubuh yang masih limbung mencoba berdiri. 

Perlahan disusunnya kembali dirinya. Setiap pagi diisinya dirinya penuh2 dengan rasa syukur. Tak diijinkannya rasa takut, khawatir, keraguan atau pemikiran negatif berlama2 tinggal dalam dirinya. Meski perlu dimulai dengan mengandaikan diri baik adanya, Upik menapaki hari demi hari hingga ia benar2 merasa baik adanya.

Lima tahun berlalu.. 

Hanya serpihan yang tertinggal. Menyusur kembali lorong2 bangunan putih, menjalani beberapa prosedur baku yang masih tersisa untuk setidaknya memberi suntikan keyakinan, mengembalikan banyak serpihan rasa. Namun sekarang tinggal memori.. yang memunculkan rasa haru dan syukur bahwa semua telah dilalui.

Seiring waktu Upik mulai mengetahui dan menetapkan tujuan perjalanannya dan memulai perjalanan2 pendek. 

Seperti yang pernah dikatakan Bante Tang padanya saat ia berpamitan di pendopo Hijau Rimbun, “Miliki tujuan yang jelas, nikmati perjalanan yang menyenangkan dan bersiaplah untuk turun bila sudah tiba. Dan penting juga untuk diingat, jangan kau sibuk berlari2 di dalam gerbong!” 🙂 

.

silih tuker buku rencang

Alot juga ternyata mengumpulkan buku. Padahal ada ratusan anak dan orang di sekolah yang berlokasi di kota pula.. 

Kemungkinannya memang banyak. Mungkin banyak yang ga ngeh, ajakan2 yang digaungkan lewat grup sekadar dibaca tanpa diolah. Mungkin juga banyak yang terkendala waktu, ga keburu atau terus menunda menengok dan memilah kumpulan bukunya. Atau mungkin memang masih terlampau sayang untuk mengeluarkan sebuku, dua-buku dari koleksinya. Termasuk saya sendiri jujurnya mengalami semua hal diatas.. Awalnya ga ngeh, info kegiatan tersapu arus tinggi di medsos sehingga sekadar dibaca tanpa disadari apa yang kemudian harus dilakukan. Setelah sadar, mencari waktu memilah buku di rumah dari weekend ke weekend terus mundur dan tertunda. Menengok tumpukan dan jajaran buku saja tidak cukup untuk bisa memilah buku yang akan dikeluarkan. Masih butuh waktu panjang untuk menimbang dan menimang buku2 yang akan dikeluarkan. Alasannya klasik, ‘suatu hari’ akan dibaca lagi atau lebih parah, baru separuh atau malah belum sempat dibaca.. 

Berdasarkan pengalamannya, Marie Kondo yang dikenal dengan metoda KonMari-nya, mengatakan bahwa ‘suatu hari’ itu, artinya ya ga pernah. ‘Sometime’ means ‘never’. Tujuan sesungguhnya dari buku adalah untuk dibaca, menyampaikan informasi pada pembaca. Informasi yang terkandung di dalamnya lah yang menjadi penting. Buku tidak jadi berarti bila hanya berdiam di lemari. Pengalaman saat membaca lah yang memberi arti. Diingat ataupun tidak, isinya sudah ada dalam diri pembaca. 

Jadi, ketika memutuskan buku yang akan disimpan, saran dari Marie Kondo adalah lupakan pikiran bahwa suatu hari saya akan membacanya lagi atau apakah saya telah menguasai isi buku tersebut. Ambil buku demi buku dan putuskan apakah buku itu menggerakkan hati atau tidak. Simpan buku yang benar2 membuatmu bahagia saja. Anak2 malah lebih mudah membuat keputusan. Tidak perlu waktu lama untuk mengeluarkan setumpuk buku dan mengatakan, “Yang ini udah ga kepake mam..”

Kembali ke festbuk, kegiatan yang digagas untuk menggerakkan kesadaran mengenai buku. Mengingatkan kembali asiknya membaca, asiknya bertukar buku, dan sasaran yang muncul kemudian di tengah proses persiapan adalah asiknya berbagi.

Meski guliran awal terasa lambat, menjelang pelaksanaan grafik spirit terasa meningkat pesat. Anak2 membawa buku untuk ditukar dengan token, yang kemudian dapat ditukar lagi dengan buku2 teman yang telah terkumpul. Beberapa membawa buku untuk dijual dengan harga terpatok. 

Semangat betul mereka. Dengan sungguh-sungguh memilih sesuai kesukaan, memilihkan untuk adik, memilihkan untuk mama, memilihkan atau menganjurkan buku seru yang pernah dibaca pada teman.. Ada yang berusaha menyembunyikan saking suka dan khawatir buku pilihannya keduluan diambil orang. Anak yang punya banyak token berbagi pada teman bahkan pada kakak yang tidak punya token karena tidak membawa buku untuk ditukar. Mudah2an selanjutnya kakak2 juga bersedia turut bertukar buku. Ada juga yang kehabisan pilihan karena baru bisa datang menjelang akhir, terutama dari jenjang SMP. Kasihan juga.. meski jumlah buku terkumpul di jenjang2 SMP dan KPB, memang tidak sebanyak di jenjang usia dini dan SD, tetap perlu jadi catatan ke depan untuk mencari sistem yang lebih adil secara waktu. 

Di awal sempat berpikir apakah sebagai gerakan sasaran festbuk ini terlampau jauh? Kalau tingkat kesadaran sudah tinggi tentu semua akan bergerak cepat dalam merespon. Mungkin juga tidak sampai perlu digerakkan dengan kegiatan seperti ini karena membaca, bertukar buku dan informasi tentang buku sudah menjadi bagian dari keseharian.. 

Saat ini masih perlu karena memang belum. Namun melihat proses pertama kemarin, bolehlah kita menjadi lebih optimis.. Beberapa kakak dan orangtua yang bersedia membantu, terlibat dengan sungguh dan semangat. Menaruh ide, berinisiatif, bergerak cepat.. Tidak banyak secara jumlah, namun efektif. Kegiatan berjalan cukup lancar dan menyenangkan. Sisa buku relatif tidak banyak dibanding jumlah buku terkumpul di hari itu. Buku yang dititip jual juga habis tak bersisa. Namun capaian yang paling mengesankan tampaknya adalah semangat berbagi yang ditunjukkan anak-anak.. 

Meski sederhana, mudah-mudahan kegiatan ini menjadi awal yang baik.

.

jonathan sang camar

Jonathan Livingston Seagull adalah sebuah fabel yang berkisah tentang seekor camar yang sangat mencintai terbang, sementara masyarakat camar di tempat dimana ia tinggal percaya bahwa mereka hanya ditakdirkan terbang untuk makan, mencari kepingan roti dan ikan di sekitar dermaga dan perahu nelayan. Sang camar sungguh ingin tahu apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan di udara. Ia terus belajar, berlatih, menantang diri, hingga menemukan hal-hal yang bisa dihayati dalam hidup, meski harus ia bayar mahal. 

“To the real Jonathan Seagull, who lives within us all” ~Richard Bach

Sebuah cerita tentang pencarian diri dan makna hidup. Menghadapi cermin sosial, yang menuntut kejamakan dalam bersikap dan bercita-cita, versus kebahagiaan dan pemahaman bahwa ada hal-hal lebih yang bisa dicapai diri. Tidak ada jalan tengah, pun tidak mungkin mencari titik setimbang. Masing2nya tidak mudah dan punya konsekuensi besar yang harus dijalani. Pilihan yang pasti pernah dihadapi setiap orang, disadari atau tidak, karena hakikatnya manusia hidup untuk belajar dan menemukan.

“..we choose our next world through what we learn in this one. Learn nothing, and the next world is the same as this one, all the same limitations and lead weights to overcome.”

Dan ketika satu hal selesai dipelajari, akan selalu ada hal lain yang perlu dipelajari atau dibagikan.. 

Sebuah cerita yang sarat dengan gagasan mengenai tujuan hidup, potensi dan keberanian menghadapi tantangan dalam hidup. 

Jonathan Livingston Seagull merupakan karya dari Richard Bach, seorang penulis yang juga seorang pilot. Buku ini dilengkapi foto-foto karya Russel Munson, photographer yang juga sangat menyukai dunia penerbangan. Jonathan Livingston Seagull sempat menjadi best seller, hingga diangkat ke layar lebar (dalam hal ini, tampaknya memang tidak mudah untuk menerjemahkan sebuah fabel ke atas layar. Mungkin lebih baik bertahan pada imajinasi yang muncul dalam benak masing2 ketika membaca kisah yang disampaikan dengan indah tersebut.) Namun soundtrac film yang dibuat oleh Neil Diamond terasa sungguh selaras dengan cerita dan illustrasi buku. 

.

earthing

Dulu Abi kecil termasuk anak yang resik dan bersihan. Pengasuhnya sejak bayi sangat menjaga kebersihannya. Sebentar2 diajak cuci tangan, sedikit kotor diajak ganti baju, selalu diajak memakai alas kaki.. Ibu Abi saat itu merasa memang demikian seharusnya. Namun ketika Abi masuk kelompok bermain, hal ini mulai terasa berlebihan. Ibu gurunya sampai menjuluki Abi ‘si Aden’* karena selalu minta cuci tangan segera setelah memegang lem atau cat dengan tangannya, ia juga tidak mau melepas alas kaki saat berkegiatan, terutama di luar ruang- bahkan untuk sekadar menginjak rumput. Perlu waktu untuk mengubah kebiasaan Abi, kadang bujukan untuk meyakinkan bahwa sedikit kotor tidak mengapa. 

Beruntung, di sekolah Abi terus dibiasakan untuk nyaman bersentuhan dengan alam, berkegiatan di luar dan terus mengeksplorasi indera. Pola resik dan bersihan sedikit demi sedikit berubah.

Sebaliknya ada juga orangtua teman Abi yang jadi mempertanyakan, kenapa sih musti nyeker (berjalan tanpa alas kaki)? Di rumah sudah susah2 dibiasakan untuk pakai alas kaki terus, kan jadi kontra. Memang dilematis.. antara kotor, keliatan jorok, ga keren banget, ga bisa gaya, belum lagi kemungkinan cacingan.. dengan perlunya mengikuti pola di sekolah yang manfaat langsungnya tidak terlihat. 

Sederhananya mungkin itu hukum alam yang terlupakan. Bahwa kita adalah bagian dari alam, dan perlu terus terkoneksi dengan ibu bumi di bawah kaki kita. Bayangkan energi yang terkandung di dalam bumi, yang menghidupkan; memberi makan dan menumbuhkan hewan dan tanaman. Lalu kita, sesama makhluk hidup yang juga tinggal di bumi, malah membuat batas dan tidak terkoneksi secara fisik dengan bumi.

Energi dari bumi memang tidak terlihat, tapi sebenarnya bisa terasa, meski sangat halus. Seperti rasa sejuk, atau sensasi yang menyenangkan ketika kita berjalan tanpa alas kaki di pantai atau rumput yang masih basah oleh embun. Sama halnya dengan kehangatan dan vitamin D yang diberikan oleh sinar matahari, permukaan bumi yang kita jejak di bawah kita tak henti memberi energi alami yang tak pernah terpikirkan. 

Karena sering terisolasi oleh material non-konduktif seperti karet atau plastik pada sepatu atau material lantai, jarang sekali kita bersentuhan langsung dengan permukaan bumi. Padahal saat bersentuhan langsung dengan permukaan bumi, tubuh kita mendapat asupan energi yang dengan cepat membuat kita merasa lebih baik. Koneksi dengan bumi mengefektifkan sistem regulasi dan mekanisme penyembuhan dalam tubuh. Sehingga berdampak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Konon, bisa memperbaiki aliran darah dalam tubuh, mengurangi sakit dan inflamasi, lebih bertenaga dan tidur lebih baik. Bentuk paling sederhananya ya rutin nyeker di atas tanah, rumput, batu atau pasir.. 

Sekarang Abi sudah remaja. Sesekali tetap punya kepingin cari sepatu gaya biar trendy. Tetap bisa jaga kebersihan, tetap suka mandi dan tidak pernah lupa cuci kaki sebelum naik tempat tidur.. Tapi juga tidak takut kotor, nyaman berkegiatan di alam, bahkan berguling2 di lapang rumput, juga suka nyeker di kesehariannya.. 

stay connected bi.. ✌

*) Aden dari kata Raden adalah sebutan bagi bangsawan Jawa. Para bangsawan yang praktis selalu dilayani. Dibedakan dari pakaian yang dikenakan termasuk sendal / selopnya. Mungkin pada awalnya memang hanya para bangsawan yang menggunakan selop, sedangkan orang kebanyakan tidak beralas kaki.. 

.

menari..?

Tercolek karena memang selalu suka dan kagum sama tari-tarian-penari. Meski selama ini tidak pernah merasa bisa menari. Beberapa puluh tahun silam sempat menikmati bagaimana menari melepas kekakuan tubuh yang selalu dilakoni dalam gerak di keseharian (lalu menyadari ketika mengingat kembali, bahkan ketika menari dalam rangka bergaul pun ya kaku juga. duh!)

Menyenangkan sebetulnya.. Menggerakkan tubuh dengan sadar, mendengarkan bunyi, mengikuti ritme, menghayati peran dan cerita. Lalu terkendala keyakinan diri. Takut salah, takut jelek, takut diketawain. Semakin dipikir semakin erat kekhawatiran itu mengikat. Lalu kenapa kalau salah, jelek, diketawain? Mustinya jadi pemacu, kalau mau bagus, bener, dikeprokin, ya lebih rajin. Tapi dalam hal ini malah bikin mogok. Sehingga kesukaan itu tidak pernah mewujud dalam bentuk apapun. Ah kisah klasik diri zaman bahari..

Ternyata.. Tarian tidak musti selalu indah atau anggun atau cantik atau menyenangkan atau menenangkan atau membahagiakan. Seperti hidup lah. Ada senang ada sedih, ada seru ada bosan, ada dinamika ada monoton, ada riuh ada senyap, ada suka ada sebal. Tidak musti selalu rigid dan teknis sehingga membebani dan membuatnya terasa sulit. Menggerakkan tubuh dengan cara yang berbeda membangun kesadaran akan kemampuan manusia yang bisa jauh lebih dari sekadar bergerak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menari di keseharian masih dihidupkan sebagai tradisi masyarakat di banyak daerah. Sempitnya wawasan kebanyakan orang membatasi pengetahuan akan perwujudan budaya yang itu-itu saja dari satu daerah ke daerah lain, utamanya hanya yang sudah menjadi puncak kebudayaan daerah. Bali ya Pendet, Bandung ya Angklung, Sunda ya Merak, Aceh ya Saman, Batak ya Tor-tor.. Bila diperhatikan, setiap daerah tentu punya warna budaya yang menarik dan mendalam, diembusi oleh jiwa, dilakoni dengan hati seperti Mimi Rasinah alm., empu tari topeng Cirebon yang berpegang teguh pada kebudayaan tari topeng klasik. Meski kiprahnya sudah mendunia, kesehariannya tetap bersahaja, setia pada tradisi. Keinginannya untuk menari tak terpatahkan bahkan ketika separuh tubuhnya sudah tak dapat digerakkan. Rasinah menari hingga akhir hayat.

Tak harus melihat jauh sebenarnya. Pencerita perihal tari dan situasi budaya tersebut juga seorang penari handal, budeRatna seorang guru yang di setiap pertemuan terlihat membawa semangat yang terus menyala. Geraknya seolah selalu menari. Ide gerak dan variasinya seolah tidak berbatas. Terpancar harapan untuk membangunkan kesukaan menari pada siapa saja. Yang mulai penasaran, yang mulai tergelitik, yang sudah bisa dan biasa, yang belum pernahpun tidak masalah. 

Dapat bergerak adalah karunia. Merangkai gerak untuk tujuan lebih, bisa untuk keindahan, untuk keseragaman, untuk kesenangan, untuk bercerita, untuk memuja, untuk tradisi, untuk apresiasi.. semua berarti mensyukuri karunia. Seperti makan yang tidak sekadar untuk kenyang, membaca yang tidak sekadar untuk tahu, berjalan yang tidak sekadar untuk tiba. 

Mari menari..

.

secangkir teh & daun pegagan

Pagi yang cerah.. Upik memasuki pelataran Hijau Hening yang rimbun dan asri. Udara terasa sejuk dan bersih. Matahari sudah bangun. Warnanya lembayung cantik, hangatnya mulai menembus dedaunan, mencairkan udara malam yang dingin, menyisakan butir-butir embun pada kelopak bunga dan daun.. 

Upik menyusuri setapak panjang. Lenggang, hanya suara alam yang terdengar, belum tampak kesibukan. Sejenak Upik merasa ragu, terlambat atau terlalu pagikah aku? Rasanya tidak, Upik melihat penanda waktu di sakunya. Upik sudah lama menantikan undangan ini. Namun tak hendak terlalu berharap, karena tidak tahu pula apa yang akan terjadi hari itu. Yang pasti ia yakin hari itu akan menyumbang sesuatu pada proses dirinya.

Tiba di depan balairung Upik perlahan menaiki tangga, dengan kolam ikan besar di sisinya. Seorang gadis menyambutnya. Tersenyum manis, memberi salam takzim, menyapa ramah, dan mempersilakan Upik untuk langsung menikmati sarapan yang telah terhidang di tengah ruang. Hummm yumm.. Sajian hangat mengundang selera dipadu sayur mayur segar yang pastinya diambil dari kebun yang tadi ia lewati. Beberapa tamu lain tampak sedang mengambil hidangan. Mereka saling mengangguk, melempar senyum tanpa kata, mencari tempat untuk duduk bersama di sebuah meja panjang. Birin, gadis manis yang tadi menyambutnya menyampaikan selamat datang pada semua tamu, mengajak semua yang hadir untuk berdoa, mensyukuri semua yang tersaji. Upikpun menundukkan kepala, memperhatikan seisi piring yang ada di hadapannya sambil mendengarkan Birin,

“.. banyak sekali elemen seperti tetes hujan, sinar matahari, tanah, udara, dan kasih yang berperan dan memungkinkan adanya semua yang akan kita makan ini.. nikmati secukupnya dan dengan penuh syukur semua rasa yang terhidang.. mudah-mudahan kasih dalam diri terus terjaga lewat cara makan yang menjaga keberlangsungan alam dan seisinya..” 

Ting.. terdengar bunyi genta, “silakan makan..” Upik makan dengan perlahan. Sungguh menikmati semua yang masuk ke dalam mulut dan tubuhnya. Terasa nikmat dan mengisi. Tidak banyak percakapan terjadi, semua makan dengan tenang dan khusyuk. 

Selesai makan Upik diajak menuju pendopo untuk bertemu dengan Bante Tang. Bante duduk tenang di tengah pendopo, dikelilingi para ksatria. Di hadapannya terdapat sebuah mangkuk genta dan pemukulnya. Tubuhnya besar, dibalut jubah sewarna tanah merah. Wajahnya bulat tampak ramah, seolah terus tersenyum teduh. Upik mengganggukkan kepalanya, memberi salam hormat. Bante membalas dengan menyatukan tangan di depan dada dan membungkukkan badan dalam2. Upik mencari tempat duduk di sudut pendopo yang tersiram hangat sinar matahari, kemudian duduk bersila, masih dalam keheningan. 

Siapa kamu, apa yang kamu rasakan saat ini? adalah pertanyaan yang harus Upik temukan dalam diri. Menarik nafas dalam-dalam Upik mencoba menata tubuh, pikir dan rasa. Duduk hening bukan sesuatu yang tidak pernah Upik lakukan. Dari waktu ke waktu ia terus berusaha belajar. Mustinya tidak sulit, apalagi dengan kemewahan suasana dan lingkungan yang sangat kondusif di lingkung Hijau Hening ini. Ternyata tidak demikian juga.. Niatan awal sungguh sulit ia pertahankan. Semakin berusaha semakin berantakan.. sebentar tubuhnya tegang, ia lemaskan. Sebentar pikirnya berlompatan ke mana-mana, ia tarik kembali ke sini. Sebentar rasanya resah terbawa pikir, ia tenangkan kembali. Lalu kakinya terasa sakit, lalu pikirnya menjauh lagi, lalu rasanya galau kembali.. Upik tak bisa melihat dirinya, tak bisa mengenali rasanya.. Ah tidak hanya kali ini, hal itu sering ia alami. Seorang teman lama bahkan dapat melihat pola gelombang kegelisahan yang datang berkala di tengah perbincangan mereka. 

Itu yang membuat Upik datang kemari. Bante tersenyum simpul mendengar Upik bercerita. Berhenti melawan.. bila tujuanmu menekan atau melawan semua itu, yang terjadi dalam diri adalah peperangan. Terima, berdamai, syukuri.. niscaya itu yang akan terjadi. Upik seperti dibangunkan mendengar ucapan Bante. Mungkin itu yang selama ini terjadi.. harapan yang dikejar dengan cara berlawanan, sehingga yang terwujud adalah sebaliknya. Upik mulai paham tapi belum sepenuhnya dapat membayangkan apa yang harus ia lakukan ketika menghadapi serangan ombak yang kerap menghantam ketenangan dalam diri. 

Ketika masih termangu mencerna penjelasan Bante, salah seorang ksatria memberinya secangkir teh. Sempat tergoda untuk menegak habis, menuntaskan dengan cepat, karena sudah terbiasa untuk selalu minum seperti orang kehausan. Namun ia urungkan. Hangat, bahkan masih cukup panas terasa menjalari kedua tangannya yang memegang cangkir. Upik menghirup harum teh yang khas, kemudian menyesap sedikit saja. Kesat, sedikit pahit, menggugah seluruh indera pengecap dalam mulutnya, dan masuk membasahi kerongkongannya, mengalirkan hangat ke dalam tubuh. Dari harum dan rasanya, teh ini biasa saja, bukan teh yang dibuat dan dikemas fancy dengan embel-embel buah, warna, bunga atau lainnya yang kadang ditempelkan untuk menyesatkan harum atau rasa. Diseduh secukupnya, tidak terlampau pekat. Cangkir itu ia goyangkan perlahan. Jernihnya mengingatkan pada gouache yang ia gunakan untuk melukis, nuansa warna yang indah. Tubuh, pikir dan rasa Upik terpusat pada saat itu.. dirinya dan secangkir teh tawar hangat. 

Kemudian Birin yang duduk di dekatnya menawarkan pegagan dalam keranjang kecil. Upik mengenali daun-daun bulat mungil itu. Hijau segar, baru saja dipetik dan dicuci. Diambilnya beberapa tangkai, ditaruhnya di telapak tangan. Delicate.. helai daunnya lembut dan tipis, dengan gurat tulang daun yang sangat halus dan pola tepian yang kompleks – ah simetri alam selalu mengagumkan. Kata orang daun ini punya khasiat untuk daya ingat, supaya tidak mudah lupa. Namun ia belum pernah mencoba dan jadi tergelitik. Digigitnya sehelai.. ha lucu juga, seperti seekor marmut mengunyah dengan gigi depan, menikmati daun. Berusaha menjabarkan sensasi amat halus yang terasa tapi tidak menemukan. Biarlah.. bagi Upik yang menjadi penting adalah berdamai dengan diri, mengalami, mengamati dan menerima apa yang terjadi bukan untuk menjelaskan atau mempertanyakan. 

Sejenak, sungguh hanya sejenak Upik menemukan dirinya dan merasakan kegembiraan besar. Dan momen itu terjadi pada saat ia tidak berusaha, tidak melawan. Secangkir teh tawar hangat dan daun pegagan di hari Minggu itu, semoga menjadi pengingat.

.

kak nita

Beberapa hari lalu aku berkesempatan bertemu seorang narasumber di kelas teman-teman Kakapo, yang sedang membahas tentang pengenalan diri, pembuatan autobiografi, serta mempersiapkan Nyaba Lembur.

Narasumber hari itu adalah seorang ibu muda yang ramah, menyenangkan, dan asik banget. Ia juga seorang penulis blog dan buku-buku seru..!! Kehadirannya dengan antusiasme yang besar, dipadu dengan wawasan yang luas terasa memberi energi positif di kelas.. bahkan sampai lupa memperkenalkan diri.. hihi.. 

Namanya Yuli Anita, namun lebih dikenal dengan nama Adenita, yang menjadi nama siaran dan nama penanya. Sebenarnya karena kebetulan sedang berada di Bandung dan ingin dolan ke sekolah, sekalianlah kak Danti ‘mengundang’ kak Adenita ini untuk berbagi pada teman-teman Kakapo. Mudah-mudahan yang punya nama ga keberatan kalo disini aku sebut dengan kak Nita, supaya ga terlalu panjang ✌

Sejak awal Kak Nita berusaha membangun perhatian dan koneksi dengan teman-teman belia di kelompok ini lewat detil info, seperti nama dan keunikan diri yang ia catat baik saat perkenalan, juga lewat respon atau jawaban teman-teman atas pertanyaan yang ia ajukan. Terlihat jejak pengalamannya sebagai penyiar radio dan reporter dari gaya berceritanya yang luwes mengalir. 

Sambil bercerita tentang pengalamannya, kak Nita tak lupa menyampaikan nilai-nilai sepanjang jaman yang penting untuk terus diperhatikan. Di antaranya adalah pentingnya menempatkan diri saat bertemu, mewawancarai orang. Istilahnya ‘berdiri sama tinggi, duduk sama rendah’. Maksudnya menghargai orang yang kita ajak bicara lewat respon dan sikap kita. Siapapun dia, bahkan tukang sampah sekalipun. 

Kita juga perlu mengamati lebih dalam untuk menemukan esensi. Misalnya saat kak Koben mengatakan dirinya unik. Cari tahu lebih lanjut apa yang membuat unik. Tidak sekadar dari yang terlihat seperti baju hitam atau rambut panjang, coba tilik lebih jauh. “Oh.. suka bersepeda kak!” hmm tampaknya teman-teman mulai paham nih. Kak Nita menarik teman-teman lebih jauh lagi, eksplor detil! Kalau bando jadi salah satu keunikan kak Koben, apa yang mungkin bisa kita ceritakan tentang bando tersebut? Meski sebagian masih ragu, tapi muncul berbagai respon menarik.

Demikian juga dengan pengenalan diri sendiri. Dalam proyek autobiografi ini, kita perlu betul-betul mengenal diri, kelebihan dan kekurangan kita. Karena pintar saja tidak cukup. Kita perlu mengembangkan sisi softskill; budi pekerti untuk memancarkan ‘kilau’ diri. Jangan takut akan keterbatasan. Menurut kak Nita, orang yang mengenal dirinya, seperti Tasha yang menyatakan dirinya pemalu, mungkin bisa mengekspresikan diri dalam bentuk lain. Biasanya orang yang pemalu itu bagus-bagus loh tulisannya. Atau bisa juga berkolaborasi dengan teman yang memiliki kekuatan di bidang yang belum dikuasai.. “Kebayang ga energi positifnya..” ujar kak Nita bersemangat. 

Hari itu kak Nita juga menunjukkan karyanya, secara khusus suplemen 23 Episentrum, sebuah buku tambahan dari novel 23 Episentrum yang berisi catatan perjuangan mengejar mimpi dari 23 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Termasuk diantaranya arsitek yang ingin menjadi pilot meski terkendala doktrin lingkungan, terus berusaha bahkan sempat menjadi supir taxi untuk modal belajar terbang.. Juga seorang pegiat biogas di Cikole yang bekerja dengan hati, tanpa lelah untuk mengembangkan dan mensosialisasikan teknologi biogas di Indonesia.. Atau seorang pemain game yang akhirnya berhasil menjadi CEO dari sebuah game developer. Ia bahkan mempekerjakan beberapa puluh mahasiswa untuk bermain game, mencoba game-game yang ia buat.. (“Waah..!” Denzel salah seorang teman Kakapo yang juga penggemar game berseru tertahan sembari tersenyum lebar..) Jajaran 23 kisah yang menginspirasi.. dan itu terjadi di seputar kita.. 

“Ide bisa datang dari mana saja dan kapan saja.. dan selama matahari masih satu, ide pasti berulang..” ujar kak Nita. “Ehh?..” teman2 tampak bingung.. Iya sih, kadang kita melihat sesuatu yang ide dasarnya sama dengan ide kita. Artinya orang itu mengeksekusi idenya sehingga menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dinikmati, dipahami orang lain.. Menurut Timmy idenya sangat banyak, mengalir, tapi tidak tereksekusi karena.. tertumpuk ide baru. Wah bagus dong.. Catat dulu saja kata kunci dari apapun yang muncul supaya tidak terlupa dan hilang. Kemudian eksplor detil untuk mengembangkan dan menyajikan ide tersebut. Kak Nita menyatakan bahwa ia sendiri merasa puas dan lega ketika berhasil menuntaskan sebuah tulisan. Tentunya hal ini berkait dengan target pencapaian yang kita tentukan untuk diri sendiri ya kak?

Menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan teman-teman, terutama seputar penulisan blog yang baru di jenjang ini mulai mereka tekuni, kak Nita juga memberi tips-tips yang tentunya akan sangat berguna buat teman-teman Kakapo. 

Semisal pertanyaan Cindy tentang cara membuat blog yang menarik, yang banyak dikunjungi orang. “Ooh traffic ya..” kak Nita menyimpulkan. Sebelum menjawab, kak Nita bertanya balik tentang pemahaman teman-teman Kakapo tentang blog yang memang masih berada pada tahap awal. Dari situ kak Nita menjelaskan bahwa blog yang menarik, (paling tidak untuk dirinya) adalah blog yang informatif dan bahasanya tidak alay. Wah sepakat kak.. memang pusing kalo baca postingan yang banyak singkatan, banyak istilah gaul yang mungkin digunakan supaya terasa kekinian, tapi malah bikin malas baca. Dan memang bahasa yang digunakan kak Nita sendiri pada buku-bukunya sangat enak dibaca dan dimengerti. 

Hal lain yang bisa bikin blog kita menarik adalah foto, gambar / illustrasi.. gunakan watermark atau penanda untuk meminimalisir penyalahgunaan gambar kita oleh orang lain. Pesan pentingnya memang perlunya kehati-hatian dan sikap antisipatif karena perjalanan segala sesuatu yang telah diunggah di dunia maya benar-benar berada di luar kontrol kita. Kak Nita bahkan secara khusus belajar untuk dapat membuat penanda itu. 

Hal lain yang bisa dilakukan untuk membuat blog yang menarik adalah lewat tema khusus sesuai minat dan kesukaan. Misal blog khusus mengenai DIY, blog khusus puisi, blog khusus resep.. dll. Bisa juga dikelola dengan membuat beberapa Page dalam satu blog yang berisi tema-tema spesifik. 

Terakhir, untuk menarik pembaca, kak Nita memberi saran untul memanfaatkan jaringan sosial media lain yang sudah dimiliki seperti instagram atau twitter untuk menginformasikan postingan terbaru. Hmm idenya lingkarblogger banget tuh..

Pertanyaan Karmel tentang kesulitan dalam menyusun postingan karena tidak terlalu suka menulis, jadi suka malas meski pingin juga, serta kesulitan dalam hal tata bahasa, direspon kak Nita dengan saran untuk rajin membaca sampai menemukan gaya yang pas. Jitu banget kak Nita ini.. setuju pisan bahwa cara paling mudah dan menyenangkan untuk belajar tata bahasa adalah dengan banyak membaca. Secara tidak langsung dengan terus membaca kita terpapar pada semua yang perlu kita pahami kok, sehingga kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas dan tepat terinstal dalam sistem kita. Tentunya dengan catatan bacaannya bermutu juga ya..

Nah supaya ga malas, kak Nita menyampaikan tentang manfaat dari menulis. Bisa sangat luar biasa loh.. salah satu contohnya, ketika berada dalam kondisi psikosomatik malignant sewaktu istri yang sangat dikasihinya meninggal dunia, pak Habibie dianjurkan untuk menulis, menulis dan menulis.. hingga kemudian kumpulan tulisannya menjadi buku Habibie & Ainun bahkan difilemkan. 

Untuk mulai menulis, gunakan catatan kata kunci yang kita miliki tentang hal-hal yang menarik, buat rang dulu saja. Prung wae heula, tuliskan dulu apa adanya supaya bisa kita baca dan cermati sendiri. Di sini kak Danti sebagai former roommatenya kak Nita turut memberi masukan. Bahwa kita perlu punya dua topi; topi penulis dan topi editor. Topi penulis kita gunakan saat kita berperan sebagai penggagas. Kita menuliskan gagasan, isi pikir dan rasa kita. Topi editor kita gunakan saat kita menempatkan diri sebagai pembaca. Membaca kembali semua yang sudah kita tuliskan, sambil menimbang, memperbaiki, menambah atau mengurangi hingga gagasan kita dapat tersampaikan dengan jelas. Kadang peran itu bisa saja dilakukan oleh 2 orang yang berbeda, misalnya pada kasus pak Habibie, tulisannya diedit oleh orang lain yang memang berprofesi sebagai editor. 

Beep.. aku tengah menyelesaikan tulisan ini saat muncul notifikasi WA dari grup lingkarblogger. Ternyata kak Rizky memberi tautan posting tulisan Cindy tentang “Sharing” bersama kak Adenita. Asiknya.. 

Aku tidak sempat mengikuti kelas hingga selesai dan berpamitan dengan kak Nita sih.. tapi sangat menikmati kesempatan ini.. Mudah2an seperti aku, kakak dan teman-teman Kakapo mendapat banyak masukan dari kak Nita hari ini.. Terima kasih kak Danti untuk idenya, dan terima kasih kak Nita sudah berbagi dengan hati.. 🙏 

.