menanam benih

Semalam baru saja tercenung panjang dan merasa penuh syukur setelah membaca refleksi si sulung tentang perjalanannya bertualang di kota lain. Memang utamanya ia mengingat dan merasa bersyukur atas pelajaran-pelajaran di jenjang terakhir (KPB), yang tidak biasa dipelajari di sekolah umum. Menurutnya salah satu skill yang sejauh ini paling membantunya dalam proses belajar di luar ruang-ruang pendidikan, adalah konsep-konsep pemetaan dan emotional intelligence. Bahwa kemampuan untuk mengolah rasa dan emosi adalah suatu hal yang sangat jarang dan sangat sulit untuk dipelajari. Namun bila direntang panjang hingga lebih dari 1 dekade silam, aku ingat benar bahwa kakak-kakak kelasnya dari minggu ke minggu kerap mengajaknya memetakan rasa dan emosi lewat jurnal dan berbagai kegiatan kelas.

Hari ini, aku mengikuti hari belajar kakak di jenjang SD, KJ bercerita tentang hal yang tepat sama ketika menanggapi dan memperkaya cerita tentang proses kegiatan yang berlangsung di kelas lewat pengalamannya ketika memfasilitasi anak-anak jenjang SD. Pentingnya untuk terus mengajak anak merefleksi kegiatan atau pengalaman yang paling berkesan bagi dirinya lewat gambar atau tulisan. Mengajak mereka mencerna rasa dan emosi. Kemudian lebih joss lagi saat KJ mengingatkan para kakak untuk tidak berharap hal-hal yang ditanamkan untuk instan dimunculkan anak-anak. Butuh waktu dan proses panjang untuk sampai terbiasa apalagi ngajadi. Tapi yakinlah bahwa apa yang ditanam, akan bertumbuh dan menjadi hal baik yang membantu anak dalam proses menjadi dirinya. Eta pisaan!! Bersiap untuk takjub dengan kemunculan tunas itu dalam bentuk dan waktu yang tidak terduga.

Jadi ingat juga, ketika mempersiapkan perjalanan besar pertamanya di jenjang SMP, kakak kelasnya bilang bahwa si sulung menggambar ransel dan perlengkapan yang akan ia bawa, seperti yang dulu ia kerap lakukan saat diajak melakukan perjalanan imajinatif oleh kakak-kakak di jenjang SD kecil. Dulu saat berpetualang sesuai tema, semisal ke hutan, gunung, laut, salju, luar angkasa, ia selalu semangat menggambar semua kebutuhan dan perlengkapan yang perlu dibawa sesuai tempat. Serupa ceklist barang bawaan bagi orang dewasa dalam bentuk gambar. Saat menggambar, sambil mikir dan membayangkan ia kerap bertanya, “Apalagi ya ma..?” 6 tahun kemudian, ia melakukan hal yang sama. Kok seperti de ja vu ya.. Tentunya dengan bentuk dan tarikan garis yang lebih esensial. Dan kali itu ia menggambar untuk perjalanan yang benar2 akan ia lakukan. Takjub asli!!

P1030614

Dulu sebelum bisa menulis lancar, menggambar memang jadi media ekspresinya. Tapi sampai saat ini daya bayang itu terus ia gunakan. Sekarang ia termasuk sangat terorganisir dan detil. Ia bisa membayangkan semua kebutuhannya, mempersiapkan dan menata rapi barang-barangnya setiap akan melakukan perjalanan.

Ah selalu senang mendengar kakak bercerita tentang guliran di kelas.. terutama terasa ketika kakak bercerita dengan bangga dan antusias tentang guliran dari program yang utuh. Selalu ada hal-hal menarik yang muncul, yang ditangkap. Alaminya selalu ada yang baik n yang kurang, yang lancar n yang tersendat, yang berhasil n yang belum. Namun bila disikapi dengan positif, biasanya akan tertutup dengan baik pula. Memang menjadi fasilitator di Smipa bukan perkara mudah dan membutuhkan kesungguhan hati. Mungkin seumpama menanam benih di ladang. Setia merawat, menyirami, menyiangi sembari mensyukuri pertumbuhan kecil dari hari ke hari dan membayangkan kelak rindang daunnya, indah bunganya, manis buahnya.

Hmm, bukan tak mungkin bila hasratnya berpetualang saat inipun merupakan wujud dari benih yang tersemai saat ia melakukan perjalanan-perjalanan imajinatif bersama kakak dan teman-teman pada masa kecilnya.

Terima kasih kakak-kakak semua..

.

Iklan

hilang dan kembali

Takut itu mencengkeram kuat dan tajam
Menguasai, merajai, terbahak diatas semua rasa yang berjejal
Panik, tegang, khawatir berpacu dalam hati dalam kepala
Mengacaukan seluruh sel dalam tubuh hingga tak henti bergetar

Kesadarannya memudar, perlahan semua seolah menjauh, hilang menjadi senyap
Bermimpikah aku? Tanyanya pada diri..
Lalu mengapa tetiba semua yang ada terlihat dan terdengar jelas,
Meski terbaring seolah lelap, di tempat itu, di ruang itu

Jauh dalam diri ia tahu bahwa sesuatu telah terjadi
Hilang semua rasa.. kelu terasa di sekujur tubuh..
Hanya terbaring tak kuasa bahkan untuk sekadar membuka mata

Hingga akhirnya terbangun dalam penat..
Memaksa diri berpikir, menyeret diri bergerak
Apa telah terjadi, apa akan terjadi, kenapa ini terjadi
Tampaknya hanya semesta yang paham

Membingungkan, menyakitkan, melelahkan untuk manusia semata
Tak perlu dan tak ingin mengurai ke belakang
Tak pula dapat bermimpi jauh ke depan lagi
Berharap, memupuk semangat, membangun mimpi menjadi medan yang diliput keraguan

Tak ada yang bisa dilakukan
Tak tahu pula apa yang harus dilakukan
Tampaknya memang harus berhenti, tidak ada pilihan..
Hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghayati saat itu..

saat kembali bersentuhan dengan alam
angin mengusap ringan membangunkan kesadaran,
udara segar mengisi relung dalam diri
matahari melelehkan semua rasa yang membeku

Oh Yang Maha Agung..  syukur merebak dari lubuk terdalam

terdiam lalu terjaga dan bercerita..
meski masih terasa ngilu mengiris
tidak ada yang lebih penting daripada saat ini, di sini
demikian adanya…  belajar menerima tanpa mempertanyakan

[Bulan ke 5, hari ke 6]

angin, hujan, badai

Sepertinya tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba terjadi badai.

Mungkin bukan tidak ada, hanya saja Upik terlalu tak acuh untuk memperhatikan bahwa angin hari itu membawa pesan yang berbeda, bahwa hujan rintik-rintik itu ingin menyampaikan sesuatu.

Saat badai terjadi, Upik mencari pegangan, yang kemudian ia lepaskan karena ternyata tidak cukup kokoh. Tak mengapa.. berpeganglah kuat-kuat pada diri. Lalu Upik melihat dan mencari tahu kondisi orang2 di sekitar, yang mungkin terjatuh atau bahkan terluka. Lega sekaligus kagum ketika mendapati bagaimana mereka di pusat badai bertahan dan menghadapi dengan tenang. Sungguh bijak.. takut dan khawatir tak lantas jadi panik. Kecamuk rasa diatasi dengan rasa berdaya, kuat saling jaga. Rasa syukur dan takjub mulai mengisi relung yang terguncang badai.

Angin, hujan, badai, sealaminya alam ciptaan yang Kuasa. Hanya bisa diterima dengan legowo, seperti halnya biru langit dan seri matahari. Kemudian menyisakan tenang dan rasa yang tak lagi sama.

enam 

pijar itu tersekat

terguncang

perlahan meredup

dan padam

..

bangun buk

ayo bangun..

puncak hari sudah lalu

kenapa masih kau bergelung

..

hening tak lagi terasa

hanya ada deru di benak

hanya ingin menunggu

semua pilu beranjak

..

bangun buk

ayo bangun..

nyalakan pijarmu

tepian sudah tampak

..

tersamar pandang diri

buka matamu

biarkan semua cerita

menetes bersama air mata

angin kan mengecup perlahan

merelakan pergi cerita dan rahasia

yang tak bisa terucapkan

..

100%

Bertukar cerita dengan para tetua di lingkungan gereja mengenai 72 tahun Indonesia merdeka, apakah benar kita lebih merdeka? Lebih dari 5 dekade silam di jaman yang memang berbeda, tutur salah satu dari mereka, ia sempat merasakan benar apa yang disebut merdeka. Merasakan bisa berteman dengan banyak anak negeri yang menganut berbagai agama, yang berasal dari berbagai daerah dengan bebas tanpa pretensi apa2. Tidak ada yang merasa lebih berhak atau lebih berkuasa. Di hari Jumat menjeda waktu bermain, menunggu teman2 sembahyang di mesjid, sebaliknya di hari Minggu teman2 mengingatkan, “Ai maneh teu ka gereja? Hayu urang anteur..” Merasakan bisa bebas bermain, berjalan2, bahkan bisa sering ngemping bareng tanpa kekhawatiran akan banyak hal.  Namun semakin hari sekat semakin bertumbuh. Kita sendiri membesarkan anak2 dalam ketakutan dan membuat mereka ekslusif dalam bersosialisasi. Dan pola ini terjadi secara luas..

Akupun demikian.. terlalu banyak ketakutan membuat aku cenderung menarik anak2 dalam ruang aman. Bersyukur bahwa sekolah yang menjadi salah satu ruang aman kami dengan konsepnya sebagai sekolah umum telah berkembang menjadi ruang heterogen tempat kami belajar mengenal dan memahami, sampai dapat menghargai dan menyayangi perbedaan yang ada. Aku belum tahu apa dan bagaimana yang terjadi di sekolah lain. Tapi hal itu hanya bisa terjadi lewat proses panjang, paparan dan interaksi intensif. Menyimak proses interaksi anak2 dengan teman2nya, dengan kakak2 AKA fasilitator, dengan orangtua lain sungguh membahagiakan.. Namun di luar sekolah, sejauh apa kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama Katolik bisa berperan?

Pertanyaan reflektifnya, apa makna 100% Indonesia, 100% Katolik buat kita masing2?

Diskusi berjalan panjang dan hangat. Di akhir pertemuan, kita diajak untuk membuat komitment kecil. Komitment untuk menerapkan Kasih sebagai inti ajaran agama Katolik dalam setiap interaksi kita dengan orang2 di sekitar kita. Minimalnya dengan tetangga dan warga se-RT aja.

Buat sebagian orang- termasuk aku, hal ini susah-susah-gampang. Banyakan susahnya sih, karena yang pentingnya (niat) masih kurang :D. Namun buat sebagian lain, seperti ibu Martina, sejak siang tadi ia sudah membagikan pengalamannya hari ini. 17 Agustus kali ini ia kebetulan berada di rumah dengan 6 orang tukang yang sedang memperbaiki rumahnya, 1 orang supir dan 1 orang asisten rumah tangga. Mencari gagasan untuk menjalankan komitmentnya, ia lalu mendapat ide sederhana untuk melakukan upacara bendera bersama mereka. Keren banget ga sih ibu yang satu ini.. 🙂 Ia sendiri menjadi komandan upacara. Pengibaran Bendera Merah Putih dilakukan sambil menyanyikan Indonesia Raya yang dibantu dengan lagu Indonesia Raya yang ia download lewat HP-nya. Semua tampak serius, mengikuti dengan tangan di dada. Demikian yang aku lihat dari foto yang ia kirimkan. Pancasila diserukan oleh salah seorang tukang yang dapat mengingat setiap butirnya dengan baik. Asiknya pula, ada bonus kaos untuk mereka yang hafal Pancasila.. Sayangnya hanya 1 dari antara mereka yang hafal. Selesai upacara, ia mengajak semuanya untuk makan bersama di rumah makan padang. Dalam obrol2 ketika makan, tukang yang paling tua menyampaikan bahwa seumur hidupnya, sampai ia sudah punya anak-cucu (bahkan cicit kalau tidak salah) baru kali ini ia mengikuti upacara bendera. Karena sejak kecil sudah dibawa ngaladen / membantu ayahnya yang juga seorang tukang bangunan  “Nuhun Gan..” tuturnya dalam bahasa Sunda.

Ga hanya si bapak yang senang dan bersyukur bisa merasakan upacara bendera pertamanya, buat aku sendiri apa yang dilakukan bu Martina tidak sekadar menyenangkan tapi menggugah dan menginspirasi.

Terima kasih bu, tetap merdeka!

.

 

slametan a’la smipa

Setiap Tahun Pendidikan selalu baru. Tak pernah ada yang sama. Formasi baru, teman baru, kakak baru, ruangan baru,  petualangan baru, kegiatan baru, menu2 hari belajar baru, SEMANGAT BARUU.. 🙂
Demikian pula dengan kegiatan slametan awal tahun pendidikan di Smipa. Tahun ini adalah Tahun Pendidikan ke-13 Smipa, kali ke-3 kita menyelenggarakan slametan di awal tahun ajaran.

Banyak sungguh yang dibutuhkan untuk berjalannya sebuah event
Banyak juga yang ingin ditarik untuk proses membangun sebuah komunitas. Namun dengan kesediaan yang besar dari semua jajaran, pada akhirnya terwujud sebuah kegiatan yang apik dan epik pula, representasi kesungguhan semua yang terlibat untuk ‘Menjaga Bumi Indonesia’.

Kegiatan ini sederhana namun kompleks. Khas Smipa banget.. Dalam arti, tidak ada acara hingar bingar, dekorasi bling-bling, atau bintang tamu glamour yang bertujuan menghibur peserta. Jauh dari itu, bahkan berkebalikan, peserta yang mendaftar perlu bersiap untuk ikut riweuh, ikut terlibat, ikut menjadi penggerak dalam bentuk kesadaran. Bentuk kesadaran inipun sungguh bebas, tanpa keharusan atau tuntutan tertentu. Istilahnya dari mulai menyumbang ide atau menyebar semangat, membawa kerupuk atau ga bisa bawa apa-apa, semua ok, sesuai kemampuan masing-masing.

Ternyata disitulah kunci dari hidupnya kegiatan ini. Kegiatan tidak hanya bergantung pada konsep dan perencanaan, koordinasi tingkat tinggi, dan persiapan teknis yang sudah semakin dikuasai handal tim Smipa. Namun juga kesediaan dan wujud nyata keterlibatan orangtua di berbagai level. Acung jempol kami untuk kakak-kakak yang menjalankan tugas dengan sungguh dan bersemangat di semua pos. Juga untuk orangtua yang sudah menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga besar Smipa, mengambil peran lebih dan terlibat dengan sungguh. Dari situlah kegiatan seru berjalan, karya besar tercipta, momen magis terasa..

kolase slametan

Buah dari gagasan dan semangat yang terus berubah; bertumbuh dan kian rindang. Buah dari kesediaan, kesungguhan dan keterlibatan yang juga semakin cair dan meresap. Ahh.. disitu perangah kagum, linang haru, bungah syukur, buncah bangga, teraduk jadi satu. Tak banyak bisa terucap hanya bisa terasa.

Hatur nuhun sadaya..

 

live-in

Sulung mulai menjalani proyek individunya di semester ini; live in. Dalam bahasa Indonesia mungkin numpang tinggal di rumah orang; turut menjalani keseharian di daerah tersebut. Tujuannya untuk meluaskan ruang eksplorasi. Pilihan untuknya adalah sebuah desa kecil di daerah gunung Kareumbi. Secara jarak sebenarnya tidak terlampau jauh. Dari Bandung hanya perlu 1x naik kereta hingga stasiun Cicalengka. Nah dari situ memang belum ada kendaraan umum yang bolak balik ke Kareumbi apalagi ke Cigumentong. Kalau ga nebeng, nyarter, ya jalan sejauh 14 km.

Sebelum berangkat dia tampak gelisah. Kalau ditanya kadang dia bilang ‘biasa aja..’, namun sempat juga mengungkap ‘deg-degan’. Bila kubayangkan aku juga bakal gelisah.. tinggal di tempat baru, di tempat orang yang belum dikenal betul, menjadi orang baru di satu komunitas. Mengikuti keseharian mereka, mengubah ritme dan pola keseharian. Tidak ada sinyal yang biasa mengoneksi banyak hal dan banyak pihak di keseharian. Terbatas listrik, dan piranti elektronik yang biasanya menjamin kenyamanan hidup. Menghadapi ketidaktahuan, berada di luar zona nyaman. 

Sebenarnya daerah tersebut buat dia tidak sepenuhnya asing dan baru, karena bersama kelompok maupun mentor magangnya ia telah beberapa kali mengunjungi bahkan sempat menginap di daerah itu. Hanya saja kali ini ia akan berada sendirian saja dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Tak disangkal emaknyapun turut deg-degan. Bahkan nenek kakek yang selama ini hampir tidak pernah bertanya-tanya, jadi turut mempertanyakan. Terutama karena faktor ketidaktahuan medan yang akan dihadapi si anak. Apakah kalau tahu akan mengubah rasa tersebut? Faktanya aku tidak tahu, dan memang tidak selalu bisa tahu apa yang akan dihadapi dan sedang dijalani anak-anakku sih. Hanya bisa membaca sikap dan gestur. Mencoba menggali hal-hal yang membuatnya gelisah, ternyata dia sendiri sudah membuat pemetaan dan rencana. Seperti juga berbagai proses lain dalam berkegiatan di sekolahnya, tampaknya proses persiapan live in ini mendorongnya untuk terus mengolah dan mengatasi diri, tinggal bagaimana saat menjalaninya. Dari sisi penduduk Cigumentong, live in panjang ini bakal menjadi pengalaman pertama mereka menerima tamu untuk jangka waktu yang panjang juga. 

Hari Kamis sore, lewat seminggu dari kepergiannya. Bandung lagi badai, sampai hujan es malah n banjir.. WA sulung masuk, “Hi Mom, aku otw pulang ya. Nebeng kang Eco..”  “Hai Gii.. akhirnya turun gunung juga. Kumaha, damang?”  “Masih idup hehehe..”

Hmm kepulangannya maju dr rencana semula. Kenapa ya? Ga usah khawatir, ga usah kepo Ne.. tunggu aja ceritanya *mengingatkandirisendiri. Meski kalo diperhatikan caranya bercerita pada emaknya beda dengan pada orang lain, tapi untuk aku, dia termasuk suka bercerita. Sampai rumah malam itu pertanyaan dijawab dengan mode B (=sekadarnya), biar tampaknya lelah dia masih terus bekerja, mengejar deadline malam itu katanya.. tapi kan besok libur, jadi berharap bisa tidur lebih panjang. Esok harinya memang dia lebih banyak menikmati nyamannya tempat tidur dan selimut hangatnya.

Disana susah tidur, tepatnya sering terbangun. Seminggu disana belum ada yang berkesan banget katanya. Banyak ga nyamannya, tapi dijalani aja. Ikut bantu di ladang, ke TBMK kalau ada kegiatan/tamu. Keluarga yang ditumpangi bapak ketua RT, ibu dan 3 anak. Bapaknya, pak Kurnia ok, tapi punya pandangan stereotype sama orang cina *kayagamaukerjakerasdanmauenakaja. Anak yang seusia di kampung itu ga banyak, tapi belum ngobrol karena belum kenal betul. Sebagian sekolah, sebagian kerja atau bantu orangtuanya. Mereka terbiasa untuk memulai hari sebelum pk 4.oo subuh, dan rata-rata pk 12an sudah selesai.. bingung harus ngapain seudah itu sampai magrib, karena ga lama semua sudah pada tidur. Ritme yang sangat berbeda dengan kesehariannya disini. Makannya nasi lauknya mie instant.. “carbs all the way lah mom.. kalo ga, sama sambel, ikan asin atau jengkol mentah”. Pernah dimasakin semacam sup kacang merah tapi rasa dan aromanya aneh jadi ga bisa masuk. Perut dan tenggorokan sempat melemah disana. Mereka bertanam dan hidup di alam, tapi untuk hal yang paling mendasar (pangan) mereka sudah tidak lagi langsung mengambil dari alam. Kecuali panenan yang gagal atau rusak baru akan mereka konsumsi sendiri. Selebihnya sayur yang mereka tanam = uang. Narsum yang sempat ia datangi sebelum pergi, kang Adjat pernah berbagi ilmu bahkan membuatkan sistem pertanian organik disana. Tapi tidak berjalan. Dengan intensitas keberadaannya disana, dia bisa melihat langsung apa yang terjadi, apa penyebabnya. Denger ceritanya memang jadi gatel.. tapi hanya bisa melontar ide-ide. Bagaimanapun aku benar-benar tidak tahu kondisi dan menjalani selalu lebih sulit daripada ngomong doang

Setiap pulang ceritanya dilengkapi dengan jurnalnya yang sarat berisi catatan kegiatan, rasa, coretan, puisi dan macam-macam. Disana malah rajin nulis, karena banyak waktu luang. Aku bersyukur ia bisa memaksa diri untuk menulis dan bersedia berbagi lewat tulisannya itu. Untuk usianya, pengalaman ini memang besar dan luar biasa. Membacanya untuk aku sungguh mengaduk rasa. Seringkali aku berada di posisi terpaksa berhenti, tercenung, mencoba memahami. Lalu berharap aku bisa jadi mentor yang baik untuk anakku.. #masihkudubelajar, ##bacatheteenageagekoklamabanget.

Sebelum berangkat kembali ia selalu berusaha untuk mempersiapkan diri sesuai kemampuannya, sekaligus terlihat berhati-hati untuk tidak terlalu berlebihan dalam menghadirkan diri. Yang pasti, berbelanja perbekalan yang perlu dibawa untuk disampaikan pada induk semangnya. Beras, kopi, teh, gula, titipan bibit sayur, kemudian beberapa keringan teman makan nasi, paling tidak untuk tambahan dan variasi supaya tidak karbo semata. Atau mencari buku dan peralatan untuk kegiatan bersama anak2 disana. Semangatnya terasa naik turun antara keinginan untuk menantang dan menyemangati diri bahwa dia bisa tapi di sisi lain merasa berat untuk menjalani lagi, bertemu kondisi yang sama lagi.. 

Hang on Gi, this too shall passed..

Minggu2 selanjutnya tampaknya banyak hal yang teratasi.. lebih berterima, atau mungkin mulai bisa melihat pola. Sudah tidak merasa terlalu terganggu dengan sebutan-sebutan cina, sudah lebih bisa mengatasi kangennya, sudah mulai berterima dengan kondisi tidak terkoneksi.. Kesulitannya sudah dapat ia kenali dengan lebih spesifik. Mengerucut pada hal-hal yang menurut dia membutuhkan olahan dan kapasitas lebih untuk bisa ia atasi. Seperti memfasilitasi kegiatan anak2 jenjang usia dini yang disana sering ngintilin dia, minta diajak main terus. Atau mengajar anak usia SD membaca. Atau ketrampilan berkebun supaya bisa bantu lebih banyak. Hingga kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri live in-nya dengan pertimbangan memang tidak produktif dan dengan kapasitasnya saat ini tidak dapat menyumbang lebih banyak untuk tempat tersebut. Sebelum pulang sempat menantang diri untuk bertandang ke desa sebelah yang auranya lebih mistis, lebih curiga terhadap pendatang. Lalu menginap di sebuah desa di luar TMBK yang jauh lebih besar dalam perjalanan pulang. Mengekspos diri ke zona asing yang baru.. memberi perbandingan berbeda terhadap tingkat penerimaan, keramahan, kebersihan dll dari masyarakatnya. Tantangan diri terakhirnya adalah berjalan menuju stasiun untuk pulang dan menutup live-innya. 14 km dimulai ketika matahari belum lagi bangun. Gelap, hening, sepi, dan memuncak ketika di tengah perjalanan mau tak mau harus beberapa kali mengetuk rumah orang untuk numpang ke toilet karena sakit perut tak tertahan. Akhirnya setelah 4 jam, touch down.. 

Proyek individunya masih perlu ia tuntaskan dengan hasil nyata. Semua yang telah dijalani, dapat dimaknai positif bisa juga negatif. Hal-hal yang muncul, terlintas, berkecamuk, maupun terpikir dalam saat menjalani kesehariannya disana perlu ia tata, pilah, olah; ibarat proses defragmentation. Apapun yang mewujud tentu akan menjadi penggenap pengalaman barunya ini. 

Ayo tuntaskan Gi.. semangaat.. 🙌

.