mendewasa

Semua orang akan menjadi tua, tapi tidak semua berhasil menjadi ‘dewasa’. Ini muncul kembali di kesadaranku ketika bertemu dengan si sulung di kota rantaunya. Baru mendekati 2 bulan ia di sana. Secara fisik tidak banyak perubahan terlihat. Namun terasa banyak hal bergejolak dalam dirinya. Perubahan di kesehariannya tak pelak mengubah kebiasaan, cara pikir, cara pandangnya terhadap dunianya saat ini. Ia sungguh belajar mengurus dirinya sendiri, mulai dari mengondisikan makanan, istirahat, kesehatan, menata ruang pribadi, barang-barang, keuangan, mengatur waktu, menghadapi kesendirian, mencari dan menyusun ritme dan struktur dalam hari-harinya agar punya makna dan manfaat bagi prosesnya.

Jalan yang ia pilih tidak biasa. Meski sepintas saat menyampaikan niatnya terdengar ringan dan menyenangkan, tapi sejak mempersiapkan diri dan ketika mulai menjalani sesuatu yang perlu ditata dari tiada pastinya bukan sesuatu yang mudah. Pilihannya untuk mengisi sendiri waktu dan proses dirinya, membuka ruang tak berbatas yang kemudian perlu ia isi dan tata dengan berbagai pertimbangan. Mencari kemungkinan proses untuk dijalani; bergabung dengan komunitas, magang, baca, cari proyek, membaca, menulis… menjajal untuk kemudian menemukan yang cocok dan yang tidak. Kadang seolah celah dan pintu yang dari kejauhan sempat terlihat benderang menjadi kabur bahkan tertutup ketika didekati. Kadang butuh ruang nyaman yang perlu dibangun sendiri, kembalilah ia ke kopi dan gawainya.

Tak hanya si sulung, akupun perlu meyakinkan dan mengondisikan diri untuk mendukungnya. Dalam pandangku, pilihan yang ia buat terentang antara ‘terryfying‘ dan ‘amazing‘. Pastinya sesuatu yang aku sendiri belum pernah jalani. Rasanya tak banyak pilihan pada jamanku, selain hidup ‘by default‘, ikut arus, memilih satu diantara beberapa pintu yang sudah terbuka lebar dan jalan yang sudah tertata rapi. Itupun ternyata masih kujalani dengan banyak kesalahan dan kegagalan. Dan yang pasti butuh waktu jauh lebih panjang untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya untuk sekadar dijalani. Hingga sampailah aku pada keyakinan bahwa kemampuannya untuk sedemikian terbuka pada berbagai kemungkinan dan kemampuannya untuk menentukan pilihan akan memberi makna lebih pada proses diri dan hidupnya. Aku menjadi turut bangga dan respek pada pilihan dan konsistensinya dalam menjalani. Apapun yang terjadi aku berharap agar ia terus mensyukuri dan menikmati proses dari pilihannya; menjalani hidup ‘by intention’ instead of ‘by default’ .

“All of us have dreams about what we’d like to do, who we’d like to be and where we’d like to go in life. But most of us are never able to make these dreams a reality.”

be safe, be blessed, go ahead n make your future self proud.. luvnmissu

Iklan

Advice to My Kids

Reblogged from Leo Babauta: Advice to My Kids

I really love and admire this post. It captures my sentiment exactly. Not sure is it just me or also for anybody. But most importantly it is so true about all of it, as if he took the thoughts out of my head and writing it down for me to make it clear. thank you 🙂

Advice to My Kids

I have six lovely children — one of them now an adult, and a couple more almost there — and I give a lot of thought to what I think they should know as they grow up and go out into the world. What could I best teach them to equip them for life?

This is what I’d like them to know:

You are good enough. Most people are afraid to do things because they are afraid they’re not good enough, afraid they’ll fail. But you are good enough — learn that and you won’t be afraid of new things, won’t be afraid to fail, won’t need the approval of others.  You’ll be pre-approved — by yourself.

All you need to be happy is within you. Many people seek happiness in food, drugs, alcohol, shopping, partying, sex … because they’re seeking external happiness. They don’t realize the tools for happiness aren’t outside them. They’re right inside you: mindfulness, gratitude, compassion, thoughtfulness, the ability to create and do something meaningful, even in a small way.

Everything useful I’ve learned I didn’t learn from college … I learned from doing. That said, I’ve had some amazing teachers. They’re not always in school, though: they’re everywhere. A friend I met at work. My peers online. My mom, dad, siblings, grandparents, uncles and aunts. My wife. My kids. Failure. Teachers are everywhere, if you’re willing to learn.

Spend less than you earn. Thirty percent less if you can manage. Most people get a job and immediately spend their income on a car loan, high rent or a large mortgage, buying possessions and eating out using credit cards. None of that is necessary. Don’t spend it if you don’t have it. Learn to go without, and be happy with less.

Put away some of your income to grow with the power of compound earnings. Your future self will thank you.

Learn to love healthy food. It’s all a matter of adjusting your tastebuds, slowly and gradually. Learn to cook for yourself. Try some healthy, delicious recipes.

Learn compassion. We start life with a very selfish outlook — we want what we want. But compassion is about realizing we are no more important than everyone else, and we aren’t at the center of the universe. Someone annoys you? Get outside of your little shell, and try to see how their day is going. How can you help them be less angry, less in pain?

Never stop learning. If you just learn something a little a day, it will add up over time immensely. Have fun being active. Sure, there’s lots of fun to be had online, and in eating sweets and fried food, and in watching TV and movies and playing video games. But going outside and playing with friends, tossing a ball around, swimming, climbing something, challenging each other … that’s even more fun. And it leads to a healthy life, healthy heart, more focused and energetic mind.

Get good at discomfort. Avoiding discomfort is very common, but a big mistake. Learning to be OK with some discomfort will change your life.

The things that stress you out don’t matter. Take a larger perspective: will this matter in five years? Most likely the answer is no. If the answer is yes, attend to it.

Savor life. Not just the usual pleasures, but everything and everyone. The stranger you meet on the bus. The sunshine that hits your face as you walk. The quiet of the morning. Time with a loved one. Time alone. Your breath as you meditate.

Meditate.

Don’t be afraid to make mistakes. They are some of the best teachers. Instead, learn to be OK with mistakes, and learn to learn from them, and learn to shrug them off so they don’t affect your profound confidence in who you are.

You need no one else to make you happy or validate you. You don’t need a boss to tell you that you’re great at what you do. You don’t need a boyfriend/girlfriend to tell you that you’re lovable. You don’t need your friends’ approval. Having loved ones and friends in your life is amazing, but know who you are first.

Learn to be good at change. Change is the one constant in life. You will suffer by trying to hold onto things. Learn to let go (meditation helps with this skill), and learn to have a flexible mind. Don’t get stuck in what you’re comfortable with, don’t shut out what’s new and uncomfortable.

Open your heart. Life is amazing if you don’t shut it out. Other people are amazing. Open your heart, be willing to take the wounds that come with an open heart, and you will experience the best of life.

Let love be your rule. Success, selfishness, righteousness … these are not good rules to live by. Love family, friends, coworkers, strangers, your brothers and sisters in humanity. Love even those who think they’re your enemy. Love the animals we treat as food and objects. Most of all, love yourself.

And always know, no matter what: I love you with every particle of my being.

menanam benih

Semalam baru saja tercenung panjang dan merasa penuh syukur setelah membaca refleksi si sulung tentang perjalanannya bertualang di kota lain. Memang utamanya ia mengingat dan merasa bersyukur atas pelajaran-pelajaran di jenjang terakhir (KPB), yang tidak biasa dipelajari di sekolah umum. Menurutnya salah satu skill yang sejauh ini paling membantunya dalam proses belajar di luar ruang-ruang pendidikan, adalah konsep-konsep pemetaan dan emotional intelligence. Bahwa kemampuan untuk mengolah rasa dan emosi adalah suatu hal yang sangat jarang dan sangat sulit untuk dipelajari. Namun bila direntang panjang hingga lebih dari 1 dekade silam, aku ingat benar bahwa kakak-kakak kelasnya dari minggu ke minggu kerap mengajaknya memetakan rasa dan emosi lewat jurnal dan berbagai kegiatan kelas.

Hari ini, aku mengikuti hari belajar kakak di jenjang SD, KJ bercerita tentang hal yang tepat sama ketika menanggapi dan memperkaya cerita tentang proses kegiatan yang berlangsung di kelas lewat pengalamannya ketika memfasilitasi anak-anak jenjang SD. Pentingnya untuk terus mengajak anak merefleksi kegiatan atau pengalaman yang paling berkesan bagi dirinya lewat gambar atau tulisan. Mengajak mereka mencerna rasa dan emosi. Kemudian lebih joss lagi saat KJ mengingatkan para kakak untuk tidak berharap hal-hal yang ditanamkan untuk instan dimunculkan anak-anak. Butuh waktu dan proses panjang untuk sampai terbiasa apalagi ngajadi. Tapi yakinlah bahwa apa yang ditanam, akan bertumbuh dan menjadi hal baik yang membantu anak dalam proses menjadi dirinya. Eta pisaan!! Bersiap untuk takjub dengan kemunculan tunas itu dalam bentuk dan waktu yang tidak terduga.

Jadi ingat juga, ketika mempersiapkan perjalanan besar pertamanya di jenjang SMP, kakak kelasnya bilang bahwa si sulung menggambar ransel dan perlengkapan yang akan ia bawa, seperti yang dulu ia kerap lakukan saat diajak melakukan perjalanan imajinatif oleh kakak-kakak di jenjang SD kecil. Dulu saat berpetualang sesuai tema, semisal ke hutan, gunung, laut, salju, luar angkasa, ia selalu semangat menggambar semua kebutuhan dan perlengkapan yang perlu dibawa sesuai tempat. Serupa ceklist barang bawaan bagi orang dewasa dalam bentuk gambar. Saat menggambar, sambil mikir dan membayangkan ia kerap bertanya, “Apalagi ya ma..?” 6 tahun kemudian, ia melakukan hal yang sama. Kok seperti de ja vu ya.. Tentunya dengan bentuk dan tarikan garis yang lebih esensial. Dan kali itu ia menggambar untuk perjalanan yang benar2 akan ia lakukan. Takjub asli!!

P1030614

Dulu sebelum bisa menulis lancar, menggambar memang jadi media ekspresinya. Tapi sampai saat ini daya bayang itu terus ia gunakan. Sekarang ia termasuk sangat terorganisir dan detil. Ia bisa membayangkan semua kebutuhannya, mempersiapkan dan menata rapi barang-barangnya setiap akan melakukan perjalanan.

Ah selalu senang mendengar kakak bercerita tentang guliran di kelas.. terutama terasa ketika kakak bercerita dengan bangga dan antusias tentang guliran dari program yang utuh. Selalu ada hal-hal menarik yang muncul, yang ditangkap. Alaminya selalu ada yang baik n yang kurang, yang lancar n yang tersendat, yang berhasil n yang belum. Namun bila disikapi dengan positif, biasanya akan tertutup dengan baik pula. Memang menjadi fasilitator di Smipa bukan perkara mudah dan membutuhkan kesungguhan hati. Mungkin seumpama menanam benih di ladang. Setia merawat, menyirami, menyiangi sembari mensyukuri pertumbuhan kecil dari hari ke hari dan membayangkan kelak rindang daunnya, indah bunganya, manis buahnya.

Hmm, bukan tak mungkin bila hasratnya berpetualang saat inipun merupakan wujud dari benih yang tersemai saat ia melakukan perjalanan-perjalanan imajinatif bersama kakak dan teman-teman pada masa kecilnya.

Terima kasih kakak-kakak semua..

.

just the way i like it

hampir selalu terasa demikian.. Jumat adalah hari yang singkat namun terasa panjang. akhir yang juga awal. lelah namun memberi harapan. biasanya banyak rencana ditaruh di akhir minggu, seolah-olah pada akhir minggu semangat dan tenaga otomatis akan terisi penuh. banyak janji ditaruh di akhir minggu, seolah-olah pada akhir minggu kita akan punya waktu yang tidak terbatas.

not this weekend dear.. this weekend will be just me at home, with the warmth of the sun in the morning..

matahari mulai bersinar cerah dan hangat, ditemani secangkir kopi panas kesukaan dan alunan suara magicnya tuck n patti dari album lawas as we travel around this circle. selalu menanti akhir minggu tanpa acara khusus.. aahh jeda dari rutin dan riuh selalu menyenangkan dan menenangkan.
Membuka pintu dan jendela, udara segar mengalir. Mengganti sarung-sarung bantal yang mulai dekil, membersihkan sudut-sudut yang jarang tersentuh, menata n mengembalikan barang ke rumah mereka masing-masing. Satu sisi diri, plain old me yang akan selalu ada, semakin dominan malah. But this is what i need n enjoy.

nothing fancy for me this weekend, it seems.. just me at home, with the drips of rain in the afternoon..

 

 

hilang dan kembali

Takut itu mencengkeram kuat dan tajam
Menguasai, merajai, terbahak diatas semua rasa yang berjejal
Panik, tegang, khawatir berpacu dalam hati dalam kepala
Mengacaukan seluruh sel dalam tubuh hingga tak henti bergetar

Kesadarannya memudar, perlahan semua seolah menjauh, hilang menjadi senyap
Bermimpikah aku? Tanyanya pada diri..
Lalu mengapa tetiba semua yang ada terlihat dan terdengar jelas,
Meski terbaring seolah lelap, di tempat itu, di ruang itu

Jauh dalam diri ia tahu bahwa sesuatu telah terjadi
Hilang semua rasa.. kelu terasa di sekujur tubuh..
Hanya terbaring tak kuasa bahkan untuk sekadar membuka mata

Hingga akhirnya terbangun dalam penat..
Memaksa diri berpikir, menyeret diri bergerak
Apa telah terjadi, apa akan terjadi, kenapa ini terjadi
Tampaknya hanya semesta yang paham

Membingungkan, menyakitkan, melelahkan untuk manusia semata
Tak perlu dan tak ingin mengurai ke belakang
Tak pula dapat bermimpi jauh ke depan lagi
Berharap, memupuk semangat, membangun mimpi menjadi medan yang diliput keraguan

Tak ada yang bisa dilakukan
Tak tahu pula apa yang harus dilakukan
Tampaknya memang harus berhenti, tidak ada pilihan..
Hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghayati saat itu..

saat kembali bersentuhan dengan alam
angin mengusap ringan membangunkan kesadaran,
udara segar mengisi relung dalam diri
matahari melelehkan semua rasa yang membeku

Oh Yang Maha Agung..  syukur merebak dari lubuk terdalam

terdiam lalu terjaga dan bercerita..
meski masih terasa ngilu mengiris
tidak ada yang lebih penting daripada saat ini, di sini
demikian adanya…  belajar menerima tanpa mempertanyakan

[Bulan ke 5, hari ke 6]

angin, hujan, badai

Sepertinya tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba terjadi badai.

Mungkin bukan tidak ada, hanya saja Upik terlalu tak acuh untuk memperhatikan bahwa angin hari itu membawa pesan yang berbeda, bahwa hujan rintik-rintik itu ingin menyampaikan sesuatu.

Saat badai terjadi, Upik mencari pegangan, yang kemudian ia lepaskan karena ternyata tidak cukup kokoh. Tak mengapa.. berpeganglah kuat-kuat pada diri. Lalu Upik melihat dan mencari tahu kondisi orang2 di sekitar, yang mungkin terjatuh atau bahkan terluka. Lega sekaligus kagum ketika mendapati bagaimana mereka di pusat badai bertahan dan menghadapi dengan tenang. Sungguh bijak.. takut dan khawatir tak lantas jadi panik. Kecamuk rasa diatasi dengan rasa berdaya, kuat saling jaga. Rasa syukur dan takjub mulai mengisi relung yang terguncang badai.

Angin, hujan, badai, sealaminya alam ciptaan yang Kuasa. Hanya bisa diterima dengan legowo, seperti halnya biru langit dan seri matahari. Kemudian menyisakan tenang dan rasa yang tak lagi sama.

enam 

pijar itu tersekat

terguncang

perlahan meredup

dan padam

..

bangun buk

ayo bangun..

puncak hari sudah lalu

kenapa masih kau bergelung

..

hening tak lagi terasa

hanya ada deru di benak

hanya ingin menunggu

semua pilu beranjak

..

bangun buk

ayo bangun..

nyalakan pijarmu

tepian sudah tampak

..

tersamar pandang diri

buka matamu

biarkan semua cerita

menetes bersama air mata

angin kan mengecup perlahan

merelakan pergi cerita dan rahasia

yang tak bisa terucapkan

..